| Senin, 31 Juli 2006 | NASIONAL |
Pernikahan Pengantin Dua Daerah BencanaJIKA Tuhan berkehendak, apa pun bisa terlaksana. Sepenggal kalimat itulah yang dipegang teguh keluarga Sucipto (58), warga Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Bojonegoro. Bapak lima anak itu tetap melangsungkan pernikahan putri keduanya, Endah M (25) meski warga di sekitar desanya diliputi kecemasan menyusul semburan gas yang berakhir kebakaran dari sumur minyak 6 Sukowati, Bojonegoro, Sabtu (29/7) dini hari. "Rencana pernikahan sudah kami persiapkan jauh hari. Apa pun yang terjadi, pernikahan harus dilaksanakan karena kami sudah menyebarkan ratusan surat undangan," ujarnya ketika ditemui di rumahnya, kemarin. Uniknya, mempelai pria yang menikahi putri kedua Sucipto itu berasal dari salah satu desa di Kecamatan Porong, Sidoarjo. Bencana semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas terjadi di Kecamatan Porong, meski rumah keluarga calon mempelai pria yakni M Khoirudin (28) tidak sampai tergenang lumpur panas tersebut. Sebaliknya, rumah calon mempelai wanita juga berada di sekitar kawasan bencana sumur minyak Sukowati. "Kami bersyukur dampak semburan gas sumur minyak Sukowati tidak sampai ke tempat kami. Sehingga dengan dibantu para tetangga, kami tetap bisa menggelar acara pernikahan," ujar Sucipto. Menurut keterangan Sucipto, Jumat (28/7) dirinya bersama beberapa tetangga menggelar acara melekan. Namun pukul 24.30 dia dikejutkan banyaknya warga yang lalu-lalang di depan rumahnya. Sucipto menyangka melintasnya warga tersebut hanya sekadar ingin lewat. Namun setelah dirasakan lebih lama lagi, jumlah warga yang melintas semakin banyak. Sucipto pun berinisiatif menanyakan kepada salah seorang warga yang melintas tersebut. "Saya kaget setelah mereka mengatakan terjadi kebakaran di sumur minyak Sukowati. Saya khawatir dampaknya terasa sampai ke sini. Letak rumah saya dengan lokasi kejadian cukup dekat yakni hanya sekitar 500-700 meter," katanya. Sucipto yang didampingi sejumlah anggota keluarganya itu menceritakan, saat malam kejadian ledakan sumur minyak, suasana benar-benar panik. Selain ramai warga yang hendak mengungsi, udara di sekitar rumah juga berbau gas. "Saya juga ikut bersiap-siap seandainya terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Namun Alhandulillah pagi hari api yang berkobar sudah bisa dipadamkan dan gas yang keluar juga tidak tercium lagi," katanya. Sucipto mengatakan, gencarnya pemberitaan media massa terkait musibah di sumur minyak Sukowati itu membuat keluarganya kerap mendapat telepon dari kerabatnya- baik dari Bojonegoro maupun luar daerah- untuk menanyakan kondisinya. Dia pun menjawab kondisi keluarga sehat walafiat dan rencana pernikahan tetap dilaksanakan. "Mungkin karena kesamaan nama sehingga kerabat saya itu menyangka Desa Sukowati juga terkena imbas ledakan sumur minyak Sukowati," tandas pria berkacamata itu. Jalannya pesta pernikahan yang digelar keluarga Sucipto inipun berlangsung lancar. Sejumlah warga yang diundang menghadiri pernikahan ini sempat berseloroh kepada tuan rumah, bahwa bersatunya mempelai pria dan wanita dari dua daerah "bencana" itu memang sudah ditakdirkan. Mereka pun berdoa bersama agar rumah tangga pengantin itu tidak diwarnai "bencana". "Insya Allah, karena nikah adalah ibadah, maka pengantin dan keluarganya mendapatkan balasan dari Tuhan atas ibadahnya itu," ujar tokoh agama yang didaulat membacakan doa di pernikahan itu. (Abdul Muiz-41) |