| Senin, 31 Juli 2006 | NASIONAL |
Pembuangan Sisa Gas Timbulkan Kepanikan
BOJONEGORO - Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Petrochina East Java (PPEJ) pengelola sumur minyak Sukowati Bojonegoro, kemarin merealisasikan rencana pembuangan gas sisa (H2S) di dalam sumur 6, yang meledak Sabtu (29/7) dini hari. Pembuangan gas sisa dilakukan pukul 14.00, dengan cara dibakar guna menghindari gas yang keluar itu beracun. Sebelumnya, warga tiga desa di sekitar sumur, yakni, Desa Campurejo, Ngampel, dan Sambiroto, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, mendengar pembakaran gas sisa dilakukan Sabtu malam. Rencana pembakaran gas sisa itu pun membuat panik warga. Dengan mengendarai kendaraan bermotor, ribuan warga desa bersiap mengungsi. Namun, pengungsian itu urung dilaksanakan, setelah beberapa warga mendapat kepastian dari sejumlah security JOB PPEJ, yang menyatakan pembakaran gas sisa tidak dilaksanakan malam itu. Meski demikian, warga tidak sepenuhnya percaya terhadap penjelasan security. Sebagian warga mengaku tetap waswas, lantaran sudah trauma dengan peristiwa menyemburnya gas kick (tekanan gas) yang berakhir meledak. Malam itu, mereka tetap berjaga-jaga di sekitar rumah hingga pagi tiba. Diduga lantaran panik inilah, Ngatijo (45), warga Desa Campurejo, meninggal dunia. Menurut Sulastri, salah seorang keluarga korban, Ngatijo meninggal setelah mendengar kabar malam itu akan dilakukan pembakaran gas sisa. "Begitu mendengar kabar tersebut, kami sekeluarga sudah bersiap-siap mengungsi. Namun, tiba-tiba Pak Ngatijo sesak nafas hingga akhirnya meninggal. Mungkin setelah dia menghirup gas beracun yang keluar dari sumur," paparnya. Pihak keluarga sempat meminta ganti rugi sebesar Rp 10 juta kepada pengelola sumur minyak Sukowati. Namun, JOB PPEJ hanya memberikan uang santunan sebesar Rp 2,5 juta, karena keluarga korban menolak jenazah korban diautopsi guna memastikan penyebab kematian. Pembakaran Meski sebelumnya pihak JOB PPEJ sudah menyosialisasikan kepada warga tentang rencana pembakaran gas sisa yang akan dilakukan Minggu siang, warga tetap menyiapkan diri untuk mengungsi jika sewaktu-waktu timbul ledakan susulan. "Tentu saja kami khawatir, jika ada ledakan lagi. Sebab, kami mendengar gas yang keluar dari sumur minyak itu beracun. Makanya, kami siap-siap mengungsi," ungkap Sugiyanto (35), warga Desa Sambiroto. Saat pembakaran gas sisa dilakukan, terdengar bunyi gemuruh. Asap hitam membubung ke angkasa, setelah api berkobar di area sumur. Namun, api tersebut tidak cukup besar, jika dibandingkan kala ledakan pertama terjadi, Sabtu dini hari. Kepada sejumlah wartawan, Field Manajer JOB PPEJ, Victoria S Kelana, menyatakan, pembuangan gas dengan cara dibakar bertujuan untuk memastikan tidak ada lagi gas yang tersisa di dalam sumur. "Kami sudah menyosialisasikan rencana tersebut kepada warga, mudah-mudahan saja mereka tidak panik," tuturnya. Secara terpisah, Djoko Agus Sunjatin, security supervisor JOB PPEJ, kepada Suara Merdeka, menyatakan, pihaknya juga telah membagikan masker kepada warga di sekitar sumur sesaat sebelum pembakaran gas sisa dilakukan. Menurutnya, pembakaran gas sisa sengaja dilaksanakan siang hari guna menghindari kepanikan warga. "Malam hari waktunya warga istirahat. Kami tidak ingin mengganggu istirahat warga sekitar sumur," jelasnya. Dalam tempo tidak lebih dari 2 jam, seluruh gas sisa dalam sumur berhasil dikeluarkan. Dua hari setelah peristiwa meledaknya sumur minyak Sukowati, seluruh pengungsi, yang sebelumnya ditampung di beberapa tempat pengungsian, sudah pulang ke rumah masing-masing. Demikian juga dengan warga yang sebelumnya dirawat di rumah sakit, mereka juga sudah diperbolehkan pulang. "Yang dirawat di rumah sakit sekarang tinggal 2 orang," ujar Kemal Nazar, Humas JOB PPEJ. "Kami turut berduka atas musibah yang diderita warga sekitar sumur. Untuk tali asih kepada para korban yang terganggu kesehatanya akibat asap, kami pun masih menunggu keputusan dari BP Migas. Jadi, besok (hari ini,red) kami ajukan sejumlah kebutuhan kepada BP Migas," tambah Kemal. (H18-41h) |