| Senin, 31 Juli 2006 | NASIONAL |
Gempa Tektonik Bisa Terjadi di Laut JawaSEMARANG - Tumbukan lempeng tektonik Euroasia dan Indoaustralia, bukan hanya bisa menimbulkan gempa di laut selatan, tetapi juga di darat dan laut utara Jawa. Gempa-gempa di darat dan di laut utara Jawa ini sudah terjadi sejak lama dan banyak di antaranya terdeteksi oleh pencatat gempa Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Jateng. Penjelasan tersebut disampaikan Kepala BMG Jateng Widada Sulistya, Minggu (30/7). Dalam peta distribusi gempa, terlihat bahwa peristiwa alam itu memang lebih banyak terdapat di sekitar pertemuan lempeng tektonik. Lokasinya menyebar mulai dari sebelah barat Sumatera, selatan Pulau Jawa sampai Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Selat Makasar di sekitar Kepulauan Bunaken. Namun dari peta itu, terlihat pula bahwa gempa ternyata tidak hanya terjadi di laut selatan. Ketika terjadi tumbukan lempeng tektonik di laut selatan Jawa, patahannya bisa terjadi di daratan atau di laut Jawa. Peristiwa semacam itu, beberapa waktu lalu juga terjadi di Tegal. ''Jadi tumbukan lempeng tetap terjadi laut selatan,'' kata dia. Saat ditanya tentang gempa di Rembang Sabtu (29/7) dini hari lalu, dia menjelaskan, gempa itu kemungkinan bukan karena tumbukan lempeng tektonik. Gempa itu terjadi karena lempeng yang longsor atau runtuh,'' ujar dia. Gempa bumi tektonik, belakangan ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Sabtu (29/7) juga terjadi di Kepulauan Fiji, dengan kekuatan 5,8 skala richter. Peringatan Dini Dengan adanya berbagai peristiwa gempa tersebut, menurutnya, Pulau Jawa di sebelah utara memang relatif lebih aman dibanding sebelah selatan. ''Namun sebelah utara tidak aman 100%,'' tutur dia. Dia mengungkapkan, kemungkinan terjadi tsunami di laut utara Jawa juga sangat kecil. Namun, menurutnya, para ahli hidrologi pernah memperkirakan jika terjadi gempa besar di Selat Makasar dan mengakibatkan tsunami, maka gelombang air laut bisa menghantam daerah utara Jateng dan Jatim. ''Karena itu, sudah seharusnya setiap kabupaten dan kota di Indonesia membangun sistem peringatan dini,'' ucap dia. Menurutnya, sistem peringatan dini tersebut memang tidak bisa memperkirakan tempat dan waktu terjadinya gempa. Namun dengan sistem itu, jika kemudian terjadi tsunami warga bisa diselamatkan terlebih dahulu. (G6-23v) |