logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 NASIONAL
Line

Laks: Perlu Ada Pembaruan Partai


SM/Sutomo BERJOGET BERSAMA: Sejumlah kader dan simpatisan PDP dihibur dengan pertunjukan musik dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama. Mereka berjoget bersama dalam kegiatan yang berlangsung di Stadion Tri Lomba Juang, Minggu (30/7). (h)

SEMARANG- Kordinator Pimpinan Kolektif Nasional (PKN) Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) Laksamana Sukardi mengajak adanya pembaruan di tubuh partai politik di Indonesia. Menurutnya, pengambilalihan Panti Marhaenis secara paksa yang diikuti dengan pembakaran simbol-simbol PDP oleh suatu partai lain menunjukkan bahwa kebutuhan akan pembaruan sangat mendesak.

''Kejadian di Panti Marhaenis semakin menyadarkan kita semua bahwa perlu ada suatu pembaruan dalam tubuh partai politik,'' kata mantan Menteri Negara BUMN ini di hadapan simpatisan dan ribuan kader berlambang ''banteng putih berlari kencang'' dalam pembukaan rapat kerja nasional (Rakernas) I di Stadion Tri Lomba Juang, Minggu (30/7).

PKN PDP, lanjut dia, tersinggung dan marah bahwa dalam pengambilalihan panti diwarnai dengan pencopotan, perusakan, dan pembakaran lambang partai. Pihaknya mengajak kader dan simpatisan PDP untuk tidak melawan, namun justru turut memberikan pencerahan kepada partai lain.

Selain itu dia menyatakan, PDP berbeda dengan partai lain, yang sekadar numpang lewat menjelang pemilu. Partai yang berdiri sejak 1 Desember 2005 ini tidak dibuat oleh hanya segelintir elite politik. Akan tetapi dilatarbelakangi semangat pembaruan di tubuh parpol.

Upacara pembukaan Rakernas dihadiri 120 pimpinan kolektif provinsi (PKP) se-Indonesia, 2.000 partisipan yang berasal dari DKI, DIY, Jabar, Jatim, dan Banten. Menurut ketua panitia pelaksana Rakernas Ircham Abdurrahim, ribuan kader yang yang datang secara sukarela juga memenuhi lapangan Tri Lomba Juang.

Dalam kesempatan itu hadir pula ketua pelaksana harian PKN PDP Roy BB Janis, dan Pimpinan Kolektif Provinsi (PKP) PDP Jateng Mardijo. Adapun dari PKN hadir Sukowaluyo Mintorahardjo, Noviantika Nasution, Didi Supriyanto, dan RO Tambunan.

Panti Marhaenis

Roy BB Janis menambahkan, perebutan Panti Marhaenis sebenarnya merupakan peristiwa kecil, namun cukup mengganggu proses demokratisasi di Indonesia. Demokrasi akan rusak manakala setiap ada perselisihan diselesaikan dengan cara kekerasan.

''Saya minta aparat keamanan jangan anggap enteng peristiwa ini dan menganggap hanya perselisihan antarbanteng. Ini adalah kejadian yang mengganggu proses demokrasi,'' kata dia.

PDP meminta aparat kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini seadil-adilnya. Sebab, paratainya antikekerasan dan mengormati hukum. Semestinya, Panti Marhaenis merupakan lembaga independen, sehingga, tidak benar bahwa tempat itu milik salah satu partai. Dia juga mengungkapkan, akan melakukan advokasi dan melapor ke pihak berwajib terkait kejadian itu.

Rencananya, rapat-rapat akan dilakukan di Hotel Grand Candi Semarang sampai dengan 1 Agustus. PDP menaregtkan bisa membentuk susunan kepengurusan dari tingkat pusat hingga daerah sebanyak dua juta orang melalui Rakernas, sehingga bisa ikut pemilu 2009.(H7,G17-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA