logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 NASIONAL
Line

kehidupan

Para Nelayan Pascatsunami (1)

Masih Traumatis Melaut, TPI pun Lumpuh


SM/Komper Wardopo PERBAIKAN KAPAL: Dua pekerja asal Cilacap memperbaiki dan menambal kapal-kapal fiberglass milik nelayan TPI Pasir Kebumen. (23m)

Bencana tsunami 17 Juli lalu telah mengubah kehidupan masyarakat yang tinggal di pinggir pantai di Kebumen dan Cilacap. Kapal dan alat penangkap ikan banyak yang rusak. Sementara biaya untuk bertahan hidup mulai habis. Bagaimana mereka bertahan, berikut laporannya.

SIANG itu terik matahari menyengat. Beberapa nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir, Kecamatan Ayah, Kebumen, hanya duduk-duduk memandangi laut lepas.

Yang lain, membersihkan kapal dan memperbaiki jaring atau mengobrol. Pendeknya, sekitar tujuh ratus nelayan ditambah buruh dan bakul ikan, praktis kini menganggur.

Ada banyak alasan para nelayan itu enggan melaut. Pertama, mereka masih trauma terhadap tsunami. Kedua, saat ini ombak besar. Ketiga, mereka tak bisa melaut karena kapal, mesin, dan alat tangkap banyak yang rusak.

Pantai Pasir sebagai TPI terbesar di pantai selatan Kebumen, biasanya tak pernah sepi dari aktivitas jual beli ikan. Namun sampai Jumat (28/7) atau 12 hari setelah tsunami melanda, masih tetap lumpuh. Maklumlah, 448 kapal nelayan yang sebagian besar terbuat dari fiberglass, berantakan. Ada yang patah, hancur dan pecah akibat hantaman ombak.

Sebenarnya, menurut Parikin (48), seorang nelayan Desa Pasir, saat tsunami 17 Juli lalu, sebagian besar kapal sudah merapat.

Namun justru karena hal itulah, ketika tsunami datang, kapal-kapal kecil berhamburan. Hanya ada satu dua kapal yang utuh.

''Kapal yang ada di belakang atau dekat bibir pantai yang selamat atau utuh. Sedangkan kapal paling depan dan tengah, pasti rusak parah,'' terang Parikin yang kapalnya pecah dan jaringnya tergulung ombak dan masuk laut.

Dewa Penolong

Suparman (45), seorang juragan ikan, saat ini bak dewa penolong bagi para nelayan. Sejak beberapa hari lalu, pengusaha ikan atau lebih tepatnya eksportir ikan asal Desa Pasir, Ayah, itu berinisiatif mendatangkan pekerja dari Dermaga Cilacap.

Tujuh orang ia datangkan untuk memperbaiki kapal yang rusak berat. Di tangan para pekerja Cilacap, kapal yang rusak, bocor ataupun patah, bisa diperbaiki kembali. Namun biaya untuk perbaikan itu tidaklah murah.

Lem kapal jenis resin misalnya, satu kilogram Rp 30 ribu. Kemudian katalis atau pengeras, serta roping atau penguat harus didatangkan dari Jakarta dan Bandung. Dengan alat-alat itu, kapal diperbaiki dan ditambal di sana-sini. Nelayan tinggal membawa kapalnya ke rumah Suparman.

''Kapal yang pecah atau bolong, setelah diperbaiki bisa kembali seperti semula,'' tutur Parikin yang perbaikan kapalnya menghabiskan Rp 1.500.000 yang lebih dulu ditalangi Suparman.

Menurut Suparman, dalam sehari, ''bengkel kapal'' dadakan itu hanya bisa mengerjakan satu buah kapal. Sebab pekerjaannya harus rapi dan butuh tangan terampil serta cukup waktu untuk mengeringkan bahan kapal-kapal itu.

Dia sendiri, setiap pekan, bisa memberangkatkan 1-2 ton ikan segar ke Jakarta untuk diekpsor ke Taiwan, Hong Kong, Singapura bahkan Eropa. Jenis ikan pantai selatan Kebumen memang layak ekspor karena berkualitas bagus dan masih segar.

Hal itu disebabkan, para nelayan hanya setengah sehari melaut (one day fishing) sehingga hasil tangkapan tetap segar.

''Saat ini musim udang jerbung karena memasuki mangsa karo atau kedua. Harganya Rp 60.000/kg. Ikan tengiri bisa laku 30.000/kg, udang lobster paling besar Rp 250.000/kg, dan ikan bawal putih Rp 60.000/kg. Bahkan keong laut juga laku, satu kilogram bisa sampai Rp 12.500 untuk ekspor.

Permintaan Ekspor

Sebenarnya, sekarang setiap hari masih datang permintaan dari para buyer di Jakarta untuk ikan segar dan udang laut selatan yang bisa diekspor. Namun Suparman mengaku untuk sementara tak bisa memenuhinya. Apalagi sebagian besar nelayan TPI Pasir dan pantai selatan Kebumen belum melaut.

Karena itu, dia berusaha keras membantu nelayan dengan cara memperbaiki kapal-kapal rusak tersebut. Untuk kerusakan ringan, nelayan dibantu lem dan peralatan. Namun yang rusak parah, ditangani di halaman rumahnya.

''Kalau menunggu bantuan pemerintah, belum pasti. Padahal mereka butuh makan setiap hari dan tak bisa njagakke terus,'' tandas lelaki yang merintis usaha mulai dari nelayan tersebut.

Suparjo (40), nelayan asal Desa Pasir RT 2 RW 3 saat ditemui, sedang mempersiapkan umpan untuk keong. Ia mencoba melaut dengan modal 15 liter bensin campur. Satu liter bensin campur di TPI Pasir Rp 6.000.

Namun hari itu ia hanya mendapat 5 kg keong. Biasanya saat normal bisa mendapat setengah kuintal. ''Ya hanya cukup untuk makan dan beli BBM,'' keluh Suparjo. Ia heran saat ini ikan sepertinya masih menjauh dari nelayan.

Menurut Mardi, pengusaha kapal lainnya di TPI Pasir, yang sangat dibutuhkan nelayan adalah modal, bukan beras atau sembako. Dengan bantuan itu, nelayan bisa memperbaiki alat tangkap, kapal, mesin dan jaring.

Dia merasa, dalam kondisi seperti ini, bebannya menjadi sangat berat. Setiap hari nelayan ngebon. Sedangkan hasil ikan masih nihil. ''Kami harus tombok dulu,'' ungkap pengusaha ikan yang punya rumah megah di utara TPI Pasir seharga Rp 1 miliar tersebut.(Komper Wardopo-23m, bersambung)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA