| Senin, 31 Juli 2006 | NASIONAL |
Malam Duka di ManahanSOLO- Sorak-sorai suporter PSIS yang tak kenal putus sejak sebelum pertandingan dimulai, sontak terdiam ketika Cristian Gonzales melepas sundulan keras yang tidak terjangkau oleh I Komang Putra pada menit ke-108. Lebih dari 25 ribu fans Laskar Mahesa Jenar pun tenggelam dalam kedukaan di Stadion Manahan, Solo, semalam. Banyaknya pendukung PSIS membuat sebagian dari mereka meluber ke pinggir lapangan Stadion Manahan Solo. Tribune VIP, selatan, dan timur yang nyaris seluruhnya ''dikuasai'' fans PSIS, senyap. Sepi tanpa sorakan. Emmanuel de Porras dan kawan-kawan gagal juara. Gol semata wayang Gonzales membuat rencana warga Semarang untuk menggelar pesta berantakan. Perjuangan mereka untuk membawa kembali Piala Presiden, setelah keberhasilan pertama musim 1998/1999, tidak terwujud. Persik memang layak juara. Mereka tampil penuh determinasi. Harianto dan kawan-kawan lebih sering menciptakan peluang dan akhirnya mampu membuktikan diri sebagai tim terbaik di Indonesia. PSIS bukannya tidak memiliki peluang. Tim polesan Bonggo Pribadi itu beberapa kali mampu mengancam gawang Persik yang dikawal oleh Wahyudi. Pada menit ke-43 misalnya, Harri Salisburi nyaris membobol gawang lawan ketika dia menyundul bola memanfaatkan umpan silang dari De Porras. Namun sundulan kerasnya masih mampu ''dikendalikan'' oleh sang kiper. Bonggo tampaknya juga harus berterima kasih kepada I Komang Putra. Penjaga gawang asal Solo itu berkali-kali menyelamatkan gawangnya dari ancaman pemain-pemain lawan. Lebih dari sepuluh kali dia menerkam, menepis, dan mengadang tekanan lawan sehingga Persik gagal mencetak gol pada waktu normal. Andai Komang tak tampil brilian, barangkali tak akan ada perpanjangan waktu. Stamina Sekitar 10 menit sebelum perpanjangan waktu, terlihat stamina para pemain PSIS menurun. Berkali-kali penetrasi lawan lolos dari kawalan dan sangat membahayakan gawang Komang. Ketika wasit Jimmy Napitulu (Jakarta) meniup peluit tanda dimulainya perpanjangan waktu, para pemain Persik langsung menggedor. Duet Budi Sudarsono-Cristian Gonzales terus menghujani blok pertahanan anak-anak Semarang dengan tekanan bertubi-tubi. Trio belakang PSIS, Maman Abdurahman, Fofee Kamara, dan Zoubairou harus berjibaku menghalau lawan. Sayang, pada menit ke-108, sebuah penetrasi Ebi Sukore dari sektor kiri gawang Komang lolos dari penjagaan. Pemain asal Kamerun itu melepas umpan silang cantik yang dengan sigap di-heading oleh Gonzales. Gol, 1-0. Pesta pecah di kubu pendukung Persik. Meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding suporter Semarang yang mendapat sokongan tambahan dari Pasoepati -pendukung Persis Solo- bahana soraknya mampu menenggelamkan semangat Panser Biru-Snex dalam memberikan dukungan kepada timnya. Meski dua menit kemudian Gonzales dikartu merah oleh Jimmy Napitupulu karena melanggar keras De Porras, pasukan Bonggo Pribadi tak mampu memanfaatkan keuntungan. Hingga pertandingan berakhir, skor tetap 1-0 untuk Persik. Dengan hasil itu, Persik menjadi tim kedua yang berhasil dua kali juara sejak Liga Indonesia digelar tahun 1994 silam. Sebelumnya tim polesan Daniel Roekito itu sudah membawa pulang Piala Presiden pada musim 2003. Tim lain yang pernah dua kali juara adalah Persebaya Surabaya. (F3,H13,D11, P44-40) |