logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 NASIONAL
Line

Maman Pemain Terbaik


PEMAIN TERBAIK: Pemain PSIS Maman Abdulrahman (kanan) terpilih sebagai pemain terbaik Liga Djarum Indonesia 2006. Penyerahan dilakukan setelah pertandingan final antara PSIS melawan Persik di Stadion Manahan, Solo, semalam. Maman mengangkat trofi pemain terbaik.(30)

SOLO- Technical Study Group (TSG) Badan Liga Indonesia yang dipimpin oleh Yopie Lepel, akhirnya memilih pemain belakang PSIS Maman Abdurahman sebagai pemain terbaik Liga Djarum Indonesia 2006.

Maman menyingkirkan pemain lain yang masuk nominasi seperti Gustavo Hernan Ortiz, Emmanuel de Porras, M Ridwan (PSIS), Cristian Gonzales, Harianto, dan Ebi Sukore (Persik Kediri).

Sebagai pemain terbaik, pemain kelahiran Jakarta 12 Mei 1982 itu berhak atas hadiah Rp 75 juta dan piala.

Meski demikian, gelar tersebut tidak bisa menutupi kekecewaan suami Sulfiani Agustina itu. Maman tetap saja kecewa karena gagal membawa Laskar Mahesa Jenar juara Liga Indonesia XII. Timnya kalah 0-1 dari Persik dalam partai final di Stadion Manahan Solo, semalam.

''Saya lebih senang jika PSIS juara daripada menerima gelar pemain terbaik ini. Gelar ini tidak bisa menjadi obat penawar kekecewaan. Meski demikian, saya tetap harus mensyukurinya,'' kata ayah dari Muhammad Daffa Rafif Abdurahman ini.

Permainan mantan pemain Persijatim selama babak delapan besar, semifinal, dan final, memang sangat konsisten. Kontribusinya untuk tim kebanggaan warga Semarang sangat besar. Kelugasannya dalam bermain berkali-kali membuat timnya aman dari tekanan lawan.

Maman menegaskan bahwa semua usaha yang dilakukan di lapangan dan kesuksesannya menjadi yang terbaik, tidak lepas dari dukungan pemain-pemain lainnya. Gelar yang diraihnya dipersembahkannya kepada tim, suporter, serta masyarakat Semarang dan Jawa Tengah.

''Tanpa dukungan mereka, permainan saya tidak ada artinya. Sepak bola merupakan olahraga tim,'' terangnya.

Betah

Debut Maman di sepak bola profesional dimulai saat bergabung dengan Persijatim Jakarta Timur pada tahun 2001. Di tim tersebut, permainannya semakin matang sehingga membuat kariernya terus menanjak. Tak heran, mantan pemain Jateng di PON XVI/2004 Palembang itu lantas langganan timnas seperti di Pra-Olimpiade dan Piala Asia 2005.

Setelah empat tahun membela Persijatim, musim 2005 dia hijrah ke PSIS. Di Mahesa Jenar, dia sempat dipercaya menjadi kapten tim saat diasuh Bambang Nurdiansyah. Namun, ban kapten tersebut kemudian dilimpahkan kepada Emmanuel de Porras, Indriyanto Nugroho atau Fofee Kamara.

Tahun depan masih membela Mahesa Jenar?

''Ya, saya masih betah di PSIS. Saya punya ambisi pribadi untuk membawa tim yang saya bela menjadi juara Liga Indonesia,'' katanya. Maman, setelah kompetisi ini selesai, akan langsung konsentrasi ke timnas Piala Asia 2007.

Gelar pemain terbaik ternyata tidak membuatnya besar kepala. Sebaliknya, dia menilai kemampuan yang dimilikinya masih banyak kekurangan. Hal itu membuatnya harus terus berlatih keras untuk menjaga penampilannya musim depan.

''Saya masih banyak kekurangan. Jadi tidak boleh berpuas diri dengan gelar ini,'' tandasnya. Rencananya, hadiah dari BLI sebesar Rp 75 juta itu akan dibagikan kepada pemain-pemain Mahesa Jenar lain. (H13,D11,F3,P44-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA