| Senin, 31 Juli 2006 | SEMARANG |
Haul Ke-503 H Sultan FatahNikah Massal Didominasi Pasangan Kumpul KeboDEMAK - Sebanyak 32 pasangan suami istri dinikahkan secara massal di serambi Masjid Agung Demak, Minggu (30/7). Sebagian besar dari mereka adalah pasangan kumpul kebo, yang sudah bertahun-tahun hidup serumah. Bahkan, ada yang sudah punya anak. Acara yang digelar sebagai rangkaian Haul Agung Ke-503 Hijriah Kanjeng Sultan Raden Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Panatagama itu cukup mendapat perhatian masyarakat. Ribuan umat Islam ikut menyaksikan acara yang untuk kali ketiga digelar Takmir Masjid bersama Badan Kesejahteraan Masjid Agung Demak. Sejumlah pemangku makam aulia dari berbagai daerah juga hadir. Mayoritas pasangan nikah massal itu telah berusia paro baya. Pasangan tertua adalah Basirun (76) dan Kasimah (67), kemudian Kasiman (74) dan Tuminah (45), serta Tasmani (65) dan Sugiyem (51). Pasangan muda tercatat Sugiarto (22) dan Wiwi (24). Ada juga di antara mereka pasangan orang tua dan pasangan anaknya yang dinikahkan secara bersamaan. Setelah orang tuanya dinikahkan, kemudian menjadi saksi untuk pernikahan anaknya. ''Wah, bulan madunya bersamaan juga,'' celetuk pengunjung. Yang sempat membuat gelak tawa pengunjung adalah ketika akad nikah. Beberapa pasangan membawa anak mereka yang masih kecil dan seakan ikut menjadi saksi. Apalagi, beberapa dari mereka membuat ulah, yang merepotkan saat sedang ijab qabul. Berciuman Seperti tidak mau kalah dengan pernikahan dalam film yang ditayangkan TV, begitu penghulu mengucapkan nikahnya telah sah, pasangan kakek nenek berciuman dan saling berpelukan. ''Alhamdulillah kesampaian juga,'' kata Basirun, sambil mencium kening istrinya. Selain nikah massal, juga diadakan khitanan massal di belakang masjid agung, yang diikuti 103 anak. Kedua kegiatan itu diadakan dalam waktu bersamaan. Sebelum dilangsungkan pernikahan, semua pasangan mengikuti karnaval panjang jimat dengan naik andong (dokar). Meski tidak semua berpakaian pengantin, mereka diperlakukan bak raja yang sedang berpesta. Disebut sebagai karnaval panjang jimat, menurut Ketua Umum Takmir Masjid Agung Demak, Drs Bambang Sugito, karena rangkaian karnaval itu bermuatan seruan penegakan akidah Islam. Seruan itulah yang menjadi perjuangan para Walisongo dan dipandang sebagai jimat. Sementara itu, pusat perjuangan gerakan mereka berada dalam Masjid Agung Demak. Rangkaian haul juga diisi berbagai kegiatan perlombaan. Seperti lomba rebana, cerdas cermat Islam, khatmil Quran, serta puncak acara pengajian akbar, yang akan diisi Habib Lutfi bil Ali Yahya dari Pekalongan dan Gus Mus dari Rembang. (H1-37h) |