| Senin, 31 Juli 2006 | SEMARANG |
Beras Raskin Tak Mampu Kendalikan Kenaikan HargaGROBOGAN - Bantuan beras miskin (raskin) dari pemerintah, masing-masing 20 kg untuk setiap warga kurang mampu di desa-desa di Grobogan, ternyata tak mampu mengendalikan naiknya harga beras jenis IR 64 dan jenis lainnya di pasar-pasar tradisional. Padahal, setiap bulan, ratusan ton beras tersebut dikeluarkan dari gudang Perum Bulog Sub Divre I Semarang di Depok, Toroh, dengan harga Rp 1.000/kg. ''Logikanya, harga beras murah itu dapat mengendalikan harga yang belakangan naik 18-20% di pasaran. Sebab, sebagian besar penduduk miskin yang mengonsumsi beras mendapatkan jatah raskin,'' kata Mursidi (33), warga Gabus, kemarin. Seperti diberitakan, harga beras medium di pasar-pasar tradisional di Grobogan naik 18%. Semula per kilo jenis IR 64 Rp 3.800, kini naik menjadi Rp 4.000. Kenaikan itu diduga akibat kekeringan yang melanda daerah itu. Kenaikan akan berlangsung sampai puncak musim kekeringan. Sebab, stok beras di desa-desa mengkhawatirkan, lantaran hasil panen bulan lalu banyak yang dijual untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Selebihnya, untuk menutup utang pupuk dan obat-obatan yang digunakan untuk tanam padi musim tanam (MT) II lalu. ''Stok yang menipis memicu naiknya harga beras di pasaran,'' ujarnya. Mursidi menilai, persoalan itu tidak bisa disepelekan. Sebab, persoalan tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak. Untuk itu, Pemkab Grobogan harus segera tanggap. Kalau tidak, masyarakat lapisan bawah akan resah. Bersamaan dengan itu, bisa jadi kenaikan harga beras tersebut menjadi semakin tak terkendali. Karena itu, Bagian Ketahanan Pangan, Bagian Perekonomian, Dinas Pertanian dan Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Perum Bulog Sub Divre I Semarang, serta lainnya perlu membuat tim khusus untuk menanggulangi kenaikan harga tersebut. Bila perlu, tim mengadakan operasi pasar (OP) ke semua pasar tradisional bekerja sama dengan jajaran Sub Divre I Semarang, yang berada di Grobogan. Ditambahkannya, tidak masuk akal, jika di daerah penyangga pangan Jateng, justru harga beras naik. Sebab, yang namanya penyangga itu seharusnya memiliki stok beras di desa-desa lebih dar cukup, sehingga harga di pasar dalam keadaan meninggi atau turun, hal itu sama sekali tak memengaruhi petani. Kepala Bagian Ketahanan Pangan, H Moehammad Hidayat, mengatakan, tahun-tahun sebelumnya, beras raskin itu mampu mengendalikan kenaikan harga IR 64 dan sejenisnya di pasaran, karena kualitas berasnya sama dengan barang yang berada di pasar. Selain itu, setiap bulan barang yang didistribusikan ke masyarakat kurang mampu cukup banyak. Harganya pun hanya Rp 1.000/kg, sehinggga pasar tak mampu menandingi. Tetapi, tahun ini fakta itu berbalik, justru beras raskin yang tak mampu menandingi pasar. Terbukti, harga beras medium naik 18%. (A23-18h) |