| Senin, 31 Juli 2006 | SEMARANG |
Kado Tercecer si Juara Panjat Tebing Se-AsiaBOCAH sembilan tahun, Sugeng Riyadi Mustofa, tiba-tiba jadi bintang. Siswa kelas III SD Bendan Ngisor 1-2 itu baru saja memenangi medali perak Kejuaraan Panjat Tebing Se-Asia di Bali, beberapa waktu lalu. Meski tubuhnya kecil, anak berkepala plontos itu berhasil mengalahkan sejumlah peserta berusia lebih tua, hingga 14 tahun di atasnya. Ketika Suara Merdeka mengunjunginya, sejumlah tetangga dan anak seusianya sibuk menggoda bocah itu. Keberhasilan anak itu wajar menjadi kebanggaan. Di rumahnya bertipe 21 dari bahan papan dan bambu, anak kedua tukang kebun Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu tampak biasa-biasa saja. Bocah itu sekilas tak memiliki keistimewaan. Bahkan dia tak begitu getol memanjat. Apalagi dengan gaji sang bapak yang hanya Rp 150.000 per bulan, tentu amat mustahil menyentuh alat-alat berharga jutaan rupiah untuk keperluan aktivitas panjat tebing. Tinggal berdekatan dengan lingkungan kampus dan indekos mahasiswa rupanya menjadi berkah. Nasib baik menghampiri putra Sugimin (77) dan Kemi (40) itu sejak usia tujuh tahun. Saat itu, pemegang medali emas Kejuaraan Nasional yang juga digelar di Bali itu, hanya iseng menonton mahasiswa latihan. ''Sama Mas Supri (Supriyono, salah seorang mahasiswa Akademi Keuangan dan Akuntansi (AKA) Wika Jasa, Bendan Nduwur-Red), saya diajak latihan. Terus ikut lomba-lomba, dahulu pernah di Rembang dan Pekalongan. Waktu ke Bali saya diajak, saya cuma kalah sama orang Jepang,'' tutur dia. Prestasi Sugeng sebenarnya sudah cukup dikenal. Ketika memenangi Kejuaraan Daerah di Rembang, Pemkot memberinya beasiswa. Ketika itu dia masih duduk di kelas II SD. Bahkan, saat Kamis (27/7) siang lalu menemui Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Semarang Mahfudz Ali, dia mendapatkan bonus Rp 900.000. Kepala Kantor Infokom Ulfi Imran Basuki mengatakan, pemerintah akan menanggung biaya sekolah Sugeng hingga lulus SMA selama dia masih berprestasi. Ketika ditanya mengenai bonus dari Wakil Wali Kota tersebut, Kemi mengaku tak tahu. Selama ini, dia dan suaminya tak pernah terlibat sama sekali dengan aktivitas anaknya. Bahkan, dia juga tak tahu berapa hadiah yang diterima Sugeng dari kejuaraan di Bali. Saat ini medali yang diterima anaknya masih dipegang pelatih. Dia juga mengaku, dalam setengah tahun terakhir saat Sugeng masih kelas II, dia selalu membayar uang sekolah. '"Waktu pulang dari Balai Kota, saya terima Rp 50.000 dan Sugeng Rp 20.000. Ya, Alhamdulillah, Sugeng bisa membantu orang tuanya,'' ujar dia. Mengenai penyaluran bantuan itu, Ulfi menambahkan, pihaknya akan terus mengecek, sehingga benar-benar tepat sasaran. (Renjani, Ida Nursanti-62d) |