| Senin, 31 Juli 2006 | SEMARANG |
Operasi Bibir Sumbing dari Keluarga Kurang MampuSEMARANG - Rumah Sakit Permata Sari bekerja sama dengan tim Pemprov Jateng, Tim Penggerak PKK Provinsi, dan RSUD Tugurejo Semarang, menyelenggarakan operasi bibir sumbing di RS Tugurejo, kemarin. Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati HUT Ke-56 Jateng itu diikuti 17 anak yang datang dari Semarang empat anak dan Brebes (13 anak). Direktur RS Permata Sari Ir Endang Sri Sarastri SH menuturkan, kegiatan itu akan berlangsung hingga 5 Agustus dan menangani penderita bibir sumbing sebanyak 66 anak. Operasi berikutnya digelar di tempat yang sama Sabtu (29/7) lalu menangani 25 anak, Jumat (4/8) delapan anak, dan Sabtu (5/8) mengoperasi delapan anak. Operasi tersebut melibatkan Persatuan Ahli Bedah Plastik Indonesia serta Dokter Spesialis Bedah dan Dokter Spesialis Anestesi dari RSUD Tugurejo, yang dipimpin oleh dokter Karsono SpB SpBp. "Seluruh biaya, mulai dari transportasi (pulang-pergi), kamar, hingga pengobatan ditanggung panitia.'' Mengenai alasan dipilihnya operasi bibir sumbing sebagai kegiatan sosial RS Permata Sari, Endang mengatakan, hal itu didasari pada kenyataan bahwa kebanyakan penderita bibir sumbing berasal dari golongan masyarakat yang tidak mampu. Padahal untuk sekali operasi bisa menghabiskan biaya Rp 2,4 juta - Rp 20 juta. Penderita bibir sumbing terdiri atas dua jenis yaitu labio (hanya bagian bibir yang pecah) dan palato (pecah hingga langit-langit). Untuk labio, bisa disembuhkan hanya dengan satu kali operasi, sedangkan palato membutuhkan 2-3 kali operasi. "Bibir sumbing diakibatkan tiga hal, yaitu kurang gizi, faktor keturunan, dan kurangnya kandungan air mineral," ujarnya. Baru Pertama Sementara itu, Humas RSUD Tugurejo Dra Ratih Puspita mengungkapkan, kegiatan itu baru pertama kalinya diselenggarakan di RSUD Tugurejo. Untuk pendaftaran peserta dilakukan melalui tim PKK yang ada di seluruh Jateng. Dia juga membenarkan, para peserta dibebaskan dari seluruh biaya, termasuk kamar dan pengobatan. "Untuk penderita labio, setelah beristirahat sebentar dan sadar mereka dapat langsung pulang. Adapun untuk yang palato, mereka akan menjalani rawat inap selama 2-3 hari di ruang Dahlia," tuturnya. Endang mengungkapkan, bagi masyarakat yang mengetahui penderita cacat dari keluarga yang tidak mampu, dapat membawanya ke RS Permata Sari di Jalan Gunung Pati 1, Bukit Manyaran Permai-Semarang. (H10-18v) |