| Senin, 31 Juli 2006 | SEMARANG |
RAME KONDHEKeunggulan Komparatif Pasar Ikan Higienis
NIAT baik Pemkot Semarang menyediakan fasilitas yang eksklusif, representatif sekaligus mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat perikanan melalui pasar ikan higienis dan pasar ikan hias tampaknya akan segera terealisasi. Namun tampaknya sejumlah kendala masih mengadang baik intern lingkup Pemkot sendiri maupun masyarakat perikanan yang hingga saat ini menunggu strategi jitu pemerintah dalam pengelolaan pasar ikan higienis. Sesuai dengan namanya sebagai sebuah ''pasar'', sepertinya problem ''nilai jual sewa'' dan ''institusi'' pengelola menjadi kendala tarik ulur pasar ikan itu untuk segera dioperasionalkan. Pasar yang eksklusif dan representatif dengan bangunan dan fasilitas mewah tentunya tidaklah murah. Pada awalnya pasar ikan ini akan dikerjasamakan pengelolaannya dengan pihak ketiga melalui bagi hasil pendapatan. Sebagaimana pernah ramai diberitakan di media massa, salah satu investor yang berminat adalah PT Gumaya. Namun seiring waktu berjalan dan negosiasi belum menemui titik temu, calon investor itu akhirnya tidak terdengar kabar beritanya lagi. Sementara itu, menunggu pengelolaan yang tepat guna dan tepat manfaat, beberapa hal kiranya perlu mendapat perhatian kita bersama. Pertama, penerapan value marketing dalam pengelolaan. Value marketing menyangkut tiga unsur utama, yakni services (pelayanan), process, dan brand. Ketiga elemen itu ibarat tritunggal, tiga yang kait-mengait, tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Sehebat apa pun brand kalau tidak didukung services dan process, suatu produk tidak akan berkembang. Sebaliknya, meskipun sudah melalui process yang benar dan melibatkan semua stakeholders, namun tanpa dukungan brand dan service, suatu produk belum tentu diterima pasar. Demikian pula brand dan process harus didukung oleh services yang optimal. Sinergi ketiga elemen itu yang akan menciptakan kepuasan pelanggan atau customer satisfaction (CS), bahkan customer satisfaction exellent (CSE). Untuk services dan process tampaknya Pemkot telah berupaya memenuhi kekurangan-kekurangan, seperti Amdal, standardisasi pengelolaan air limbah serta sarana-prasarana pendukung lainnya, antara lain kecukupan air bersih dan ketersediaan daya catu listrik. Di samping itu, hal yang penting diperhatikan adalah pasar ikan higienis harus dapat memotong alur pemasaran ikan yang selama ini panjang. Bagi para pedagang, yang penting dagangannya laku. Pemkot memang pada posisi memfasilitasi agar para pedagang bisa lebih leluasa melakukan aktivitasnya. Karena itu, ''nilai jual sewa'' sempat menjadi perdebatan dan hingga kini masih belum ada titik temu. Jika dihitung untung-rugi, pihak Pemkot berkilah menyatakan bahwa PIH itu adalah soal pembelajaran manajemen terhadap para pelaku usaha perikanan. Mereka diberi model yang baik dalam pengelolaan ikan-ikan untuk menghasilkan komoditas sehat, dengan brand higienis dan berdaya jual, melalui penerapan model gerai terpadu. Dalam hal brand, kiranya perlu terus dikondisikan penciptaan positioning images agar dengan konsep higienis dan kenyamanan yang ditawarkan sebanding dengan selisih harga yang harus dibayar konsumen dibandingkan apabila mereka harus berbelanja di pasar tradisional. Namun sesungguhnya dalam hal services dan process di sini juga menyangkut sebuah pertanyaan besar apakah keberadaan pasar tersebut juga akan meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Semestinya pasar itu tidak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, tapi dapat pula meningkatkan perekonomian nelayan. Kedua, apa pun bentuk institusi pengelola yang akan menangani Pasar Ikan Higienis Rejomulyo, baik itu Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) atau kerja sama pihak ketiga, mereka harus mampu menawarkan dan menjanjikan keunggulan komparatif produk unggulan yang menjadi ciri khas. Strategi menempatkan pasar ikan hias menjadi bagian dalam gerai pasar ikan higienis merupakan strategi jitu. Ke depan perlu pemikiran bersama agar fungsi pasar itu dapat berkembang menjadi ajang pusat bisnis, sarana rekreasi atau wisata belanja, tempat pelatihan, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pengenalan teknologi budi daya perikanan dan kelautan, memberikan peluang usaha dan lapangan kerja serta menghasilkan tambahan PAD Kota Semarang. (62v) -Penulis adalah alumni IIP Jakarta, PNS Pemerintah Kota Semarang. |