| Senin, 31 Juli 2006 | KEDU & DIY |
Sudra Tingal, Upaya Menyikapi AlamAWAN panas tidak lagi turun ke lereng Gunung Merapi. Mungkin penurunan status Merapi dari Awas menjadi Waspada mengakhiri masa erupsi tahun ini. Tapi warga lereng Merapi sadar, suatu saat bencana itu akan datang lagi. Maka, warga di sini selalu mawas diri terhadap ancaman bencana. Sebagai wujud kesadaran mawas diri atas bencana yang bisa terjadi setiap saat, warga lereng Merapi menggelar ritual Sudra Tingal. Ritual yang diberi tajuk ëíPangentas Bilahi Sudra Tingalíí itu digelar di lingkungan padepokan seni budaya di lereng barat Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Diwak, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Selasa (25/7). Durasi ritual itu kurang lebih 12 jam digeber tanpa henti. Ismanto, seniman pahat, dipercaya masyarakat setempat dan para seniman untuk memimpin prosesi ritual. Ketika langkah kaki Ismanto memasuki arena ritual, suara gamelan menggema di sekitar lokasi. Dia memercikkan air kembang setaman di sejumlah tempat lingkungan padepokan. Dari prosesi itulah bau kemenyan bercampur air kembang setaman mulai terasa menyengat. Setelah sampai di panggung pentas wayang kulit, Ismanto memolesi minyak pada sebuah patung batu berbentuk Semar. Ini pertanda prosesi ritual dimulai. Aneka sesaji seperti tumpeng, air suci, rangkaian bunga, janur kuning, buah-buahan, serta lauk-pauk menu masakan desa disiapkan di panggung pementasan. Selanjutnya Prasetyo Wibowo, pengelola Padepokan Prasetio Budaya Lereng Gunung Merapi yang berpakaian adat Jawa gaya Yogyakarta, meletakkan janur kuning dan kain di leher patung Semar dan memotong tumpeng. Pemotongan tumpeng itu sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Merapi di Kabupaten Magelang, karena terbebas dari bahaya awan panas pada masa erupsi Gunung Merapi. Para pelaku ritual dan warga lainnya juga berpakaian adat Jawa. Prasetyo menjelaskan, ritual Pangentas Bilahi Sudra Tingal diartikan sebagai upaya budaya untuk mengentaskan penderitaan masyarakat Indonesia, khususnya lereng Merapi, dari berbagai ancaman bencana alam. Bencana alam yang disebabkan oleh letusan gunung, gelombang tsunami, dan gempa bumi, kata dia, sebagai ritme alam atau kodrat alam. Karena itu, lanjut Prasetyo, untuk menghadapi berbagai kodrat alam itu manusia perlu meningkatkan semangat kebersamaan. "Tujuan ritual ini sebagai pengingat bahwa manusia harus menghadapi bencana alam dengan bijak, tidak saling menyalahkan, dan selalu berperilaku arif pada alam," ujarnya. Rangkaian ritual Pangentas Bilahi Sudra Tingal, antara lain, ritual budaya, pentas sendratari, performance art, musik kontemporer, geguritan, wayang kulit, dan jatilan. Pementas terdiri atas para seniman lereng Merapi Dusun Diwak, Magelang, mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, anggota teater Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan seniman Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. (Sholahuddin-66) |