logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 KEDU & DIY
Line

Hasil Survei BPDP-BPPT

Gelombang Tertinggi Tsunami 4,6 Meter

YOGYAKARTA - Hasil survei yang dilakukan oleh tim dari Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPDP-BPPT) Yogyakarta bersama Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) di pantai selatan Pulau Jawa yang dilanda tsunami belum lama ini, menunjukkan bahwa limpasan gelompang pasang tertinggi tercatat 4,6 meter di Pantai Widarapayung (Cilacap).

Sedangkan jarak luapan air dari garis pantai masuk ke daratan terjauh adalah 457 meter di Pantai Bunton (Cilacap). Selain itu, timbunan tanah/pasir tertingi sekitar 17 sentimeter berada di Pantai Keburuhan (Purworejo).

Hal itu dijelaskan oleh Kepala BPDP-BPPT Yogyakarta Ir Rustiono MSc kepada wartawan di Yogyakarta, Jumat (28/7), sehubungan telah berakhirnya survei yang dilakukan oleh pihaknya bersama ITS, di Pantai Parangendog (Bantul) sampai Pantai Pangandaran (Ciamis).

Koordinator Tim Ir Widjokongko MEng yang juga merupakan ahli tsunami BPDP-BPPT Yogyakarta, menambahkan banyak saksi mata yang menyatakan bahwa sebelum terjadi tsunami, terdengar suara dentuman/letusan, sedikit goncangan (ada yang tidak), ombak laut surut 50-100 meter ke arah laut.

Jumlah gelombang tsunami sekitar 2-5, di mana gelombang yang pertama dan kedua adalah gelombang yang terbesar.

Selang waktu antara gempa utama dan tsunami sampai di daratan (pantai) sekitar 30-55 menit.

Selain itu, masih menurut Widjokongko, masyarakat pantai umumnya tidak mengatahui dengan baik/jelas tentang tsunami, sehingga tidak tahu bagaimana dan apa yang harus dikerjakan saat bencana datang.

Menjawab pertanyaan, ia menjelaskan tidak ada kerusakan ekosistem kehidupan laut akibat tsunami itu, tetapi kerusakan vegetasi pantai terjadi, seperti banyak pandan laut yang mati, sawah-sawah di pinggir pantai banyak yang puso.

''Yang pasti, banyaknya gumuk-gumuk pasir yang ada di pantai selatan DIY telah bisa menghambat tsunami itu hingga 30 persen,'' ujarnya.

Diinformasikan pula bahwa hasil simulasi numerik dengan menggunakan software Mike 21, menunjukkan gelombang tsunami sampai di Benoa (Bali) sekitar 1 jam 41 menit dari kejadian gempa utama.

Peringatan Dini

Tim survei BPDP-BPPT Yogyakarta merekomendasikan sistem peringatan dini sangat dibutuhkan pada daerah rawan tsunami untuk memberikan peringatan kepada penduduk tetang adanya kemungkinan terjadinya gelombang pasang.

Tempat keramaian di daerah pantai hendaknya dipasang alat pengeras suara/sirine untuk peringatan dini. Setiap pemerinah daerah yang memiliki pantai rawan tsunami semestinya membuat peta rawan tsunami dan lokasi/zona aman untuk evakuasi yang kemudian disosialisasikan kepada masyarakat luas.

Selain itu, untuk kawasan wisata pantai, sebaiknya dilengkapi dengan tempat evakuasi, yaitu tempat yang tinggi, berupa tanah atau bangunan. Perlu pula dibuat rute-rute evakuasi dengan tanda-tanda yang jelas menuju ke tempat evakuasi tersebut.

Pendidikan kepada masyarakat di daerah pantai dan wisatawan berkaitan dengan pengetahuan tsunami dan cara-cara evakuasinya, diberikan melalui penyuluhan dan latihan bekala, brosur-brosur dan tulisan/tugu peringatan.

''Pemukiman penduduk di wilayah pantai dibuat setidaknya berjarak 200 meter dari pantai berkemiringan curam atau berjarak 500 meter dari pantai berkemiringan landai.

Lahan antara pemukiman dan pantai akan lebih aman bila ditanami pohon pelindung, misalnya waru atau mangrove,'' tambah Ir Widjokongko MEng. (P12-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA