logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 31 Juli 2006 BANYUMAS
Line

Sindir Perang, Datangkan DJ

JET tempur Israel terus menghujani kawasan sipil di Lebanon. Sebaliknya, roket Hizbullah juga membuat bunga api di beberapa kota Israel. Di lain tempat, suku Dani dan Suku Damal di Mimika, Papua pun masih berurusan dengan nafsu purba manusia untuk saling unjuk kekejian.

Perang terus terjadi, meski suara menentangnya pun sedemikian nyaring. Jika keseriusan melawan perang tetap tak lagi dihiraukan, maka menertawakan perang dan perkelahian menjadi pilihan ironis yang bisa ditempuh.

Begitulah bila ajang Cheers Movement 3 di Cheers Cafe Dynasty Hotel, Jumat (28/7) lalu disandingkan dengan realitas kekerasan perang di seantero bumi.

Malam itu, Cheers sengaja menggelar ajang bertajuk "Fight Club". Tak pelak, dari bartender hingga waitress-nya pun berganti dandanan menjadi seperti pasukan tempur.

Celana panjang doreng, baju hitam pekat hingga kepala yang terikat erat dengan selembar kain bak Rambo. Tidak lupa pula, wajah penuh coretan jelaga.

Manajer Cheers Cafe, Teguh Martoto mengaku prihatin dengan kekerasan yang akhir-akhir ini sering terjadi. Makanya, sebagai pebisnis dunia hiburan, dia mencoba menawarkan sebuah pergelaran yang terkesan berbau perkelahian, namun justru berisi hiburan.

''Kami mendatangkan dua DJ untuk saling berperang. Nah, penontonnya cukup menikmati hasil peperangan mereka di lantai kafe,'' katanya.

DJ tentu tidak punya roket seperti Israel. Mereka cuma punya jemari yang terampil di antara knop-knop di meja DJ yang mampu menghasilkan aransemen musik menghentak jantung.

Hingga peperangan antara DJ Andy dari Crosfeeder Jakarta dan DJ Alvon dari Yogyakarta memang tidak menambah satu pun kesengsaraan di bumi.

Sebaliknya, tubuh-tubuh liat para clubber Purwokerto, melantai hingga dini hari.

Penampilan mereka rupanya memang dinanti bukan saja clubber Purwokerto, DJ lokal pun bertandang untuk belajar dengan melihat langsung aksi keduanya. Tiket gratis dan fasilitas ''beli satu dapat dua'' membuat Cheers lebih menyerupai situasi konser dangdut di lapangan yang penuh sesak. Ironi lucu memang akhirnya tercipta saat ajang yang dibandrol dengan judul sangar ini, justru penuh hiburan menggairahkan.

Ironi yang menyindir dengan tuntas mereka yang menyerukan demokrasi dan perdamaian di panggung diplomasi, namun memasok senjata pembunuh lewat pintu belakang. (Sigit Harsanto-39d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA