logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 26 Juli 2006 NASIONAL
Line

Nasib 10.000 TKI Tak Diketahui

  • KBRI di Lebanon Lumpuh
  • Seorang WNI Tewas Kena Rudal

PENGUNGSI LEBANON: Sejumlah anak dan warga Kanada yang dievakuasi dari wilayah perang Lebanon berada di tempat pengungsian di Sekolah Vergina, di Larnaca, Cyprus, Senin (24/7) waktu setempat. Sejumlah negara asing telah mengungsikan warganya dari Lebanon lewat laut menuju Cyprus, atau lewat jalan darat melalui Syria, setelah militer Isreal melakukan serangan ke wilayah Lebanon.(30a)

JAKARTA-Sekitar 10.000 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja secara ilegal di Lebanon hingga kini belum diketahui nasibnya, menyusul serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Israel ke negara tersebut. "Dari data kami, sedikitnya ada 10 ribu TKI berada di Lebanon. Namun nasibnya hingga kini belum diketahui," kata Analis Kebijakan Migran Care, Wahyu Susilo, di Jakarta, kemarin.

Menurut Wahyu, karena seluruh TKI itu tidak memiliki dokumen resmi maka keberadaannya pun tidak dapat dilacak. "Kami asumsikan 10 ribu berdasarkan kasus pemalsuan paspor yang dilakukan Jimmy Candra. Dari penyelidikan diketahui 40 ribu dari keseluruhan paspor, bertujuan ke Suriah. Sisanya ke Yordania, Palestina dan Lebanon," katanya.

Selain TKI ilegal, sedikitnya ada lima orang TKI legal yang bekerja di Lebanon. "Penyalur TKI AMRI Margatama pernah mengirimkan TKI ke Lebanon pada tahun 2001, kemungkinan mereka juga masih berada di sana," katanya.

Direktorat Perlindungan Warga Indonesia dan Aset Legal, Deplu, Ferry Adamar mengatakan sampai saat ini pihaknya belum dapat mendeteksi keberadaan para TKI di Lebanon itu. Pihaknya telah menempuh berbagai cara

untuk mencari keberadaan para TKI itu, termasuk menyebarkan selebaran, dan iklan di televisi yang menyerukan agar mereka segera melapor ke KBRI Beirut. "Sampai saat ini belum ada yang melapor," katanya.

Ia mengatakan pihaknya hingga kini masih terus melakukan pencarian dan tetap menempatkan tiga personelnya di KBRI Beirut untuk menolong WNI yang melapor dan meminta untuk dievakuasi.

Sebelumnya, pada 16 Juli, KBRI di Beirut, Lebanon, mengevakuasi 40 warga Indonesia ke Suriah, karena kondisi keamanan di ibukota Lebanon tersebut telah memburuk. Proses memindahkan para WNI itu dilakukan melalui jalan darat ke arah utara Beirut, yaitu Damaskus, ibukota Suriah.

Sementara itu Kantor Berita Kuwait (KUNA) melaporkan seorang buruh migran perempuan Indonesia telah tewas dalam serangan rudal Israel ke Lebanon 11 Juli. Perempuan itu bernama Siti Maemunah binti Muhtar Bisri, TKI yang tewas di Lebanon akibat Rudal yang diluncurkan Israel pada 11 Juli lalu.

Dirjen Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri Depnakertrans I Gusti Made Arka dalam pesan singkatnya di Jakarta, Selasa, menyebutkan bahwa Maemunah ditempatkan oleh perusahaan penempatan TKI swasta (PPTKIS) PT Bin Hasan Maju Sejahtera dengan nomor paspor AA864126.

Arka tidak menyebutkan asal daerah TKI tersebut dan bagaimana dia sampai ke Lebanon dan tewas di sana. Selama ini Indonesia tidak menjadikan negara itu sebagai tujuan penempatan TKI.

KBRI Lumpuh

Sementara itu diungsikannya Duta Besar Indonesia untuk Lebanon Abdullah Sarwani ke Damaskus beserta staf-stafnya menjadikan kegiatan kedutaan secara teknis lumpuh. Demikian diutarakan Dirjen Asia Pasifik dan Afrika Departemen Luar Negeri Primo Alui Joelianto usai penandatanganan bantuan hibah Jepang ke Indonesia di kantor Departemen Luar Negeri, Jalan Pejambon 6, Jakarta Pusat, kemarin.

"Dubes kan sudah keluar dari sana. Secara teknis sudah lum-puh. Kegiatannya tidak ada. Kurang lebih 2 orang staf yang masih di sana untuk memantau situasi di Lebanon," kata Primo.

Dalam hal ini Primo juga menambahkan bahwa pihaknya belum mendapatkan konfirmasi lebih lanjut tentang adanya usulan negara-negara OKI untuk mengeluarkan sikap terhadap konflik Israel - Lebanon yang telah disetujui Presiden SBY.

"Itu usul dari Malaysia karena sebagai ketua OKI dan untuk menjawab permintaan beberapa negara di OKI supaya mengeluarkan sikap atas konflik. Teknisnya kami belum tahu seperti apa," tegas Primo.

Gempur Beirut

Sementara itu, Beirut terus digempur dengan serangan udara Israel Selasa kemarin, saat konflik di wilayah itu memasuki hari ke-14. Hizbullah membalas serangan Israel dengan menembakkan roket.

Seorang warga Israel tewas akibat tembakan roket itu. Israel mengklaim telah berhasil menguasai Kota Bint Jbeil, Lebanon selatan. Bint Jbeil selama ini disebut-sebut sebagai daerah basis Hizbullah.

Televisi Al-Manar membantah klaim Israel itu. Stasiun televisi itu melaporkan para pejuang Hizbullah masih mempertahankan kota itu.

''Para pejuang Hizbullah melakukan perlawanan yang heroik saat menghadapi pasukan elite Brigade Golani Israel. Tentara Israel itu berusaha merangs-ek ke kota dengan melakukan gempuran darat dan udara,'' demikian Al-Manar.

Sedikitnya 200 anggota Hizbullah bertempur melawan pasukan Israel di Bint Jbeil. Kota itu sekitar empat kilometer dari perbatasan Lebanon-Israel.

Militer Israel kemarin mengungkapkan niatnya untuk menguasai zona keamanan di Lebanon selatan sampai pasukan internasional datang. Israel menginginkan zona keamanan itu selebar empat kilometer sampai 10 kilometer di wilayah Lebanon selatan.

Sedikitnya empat ledakan besar terdengar di Beirut, ibu kota Lebanon, selama Israel melancarkan serangan udara kemarin. Asap tebal membubung dari perkampungan Da-hiyah di Beirut selatan.

Televisi Aljazeera melaporkan 20 serangan roket menghantam Dahiyah yang dianggap Israel sebagai salah satu pusat gerakan Hizbullah. Beberapa saat kemudian sirene meraung-raung di daerah itu.

Rudal Israel menewaskan enam warga sipil di sebuah pasar Lebanon selatan. Sejauh ini, korban jiwa di pihak Lebanon telah mencapai 411 orang, sedangkan di pihak Israel 42 orang.

Dalam serangan udara kemarin fajar di Nabatiyeh, pesawat tempur Israel menghancurkan dua rumah. Di salah satu rumah, tiga orang tewas akibat serangan udara Israel.

Di rumah yang lain, seorang pria dengan istri dan satu putra-nya tewas akibat bombardir itu. Ketiganya sedang tidur saat terjadi serangan udara. Namun putri pasangan itu, Shireen Ham-za selamat, meskipun dia tertimbun reruntuhan selama 15 menit.

Serangan Jantung

''Saya terus-menerus berteriak minta tolong. Saat itu, ayah saya masih hidup. Dengan suara lirih, ayah meminta saya untuk tidak tertidur,'' kata Shireen.

Aparat keamanan mengatakan, tujuh orang tewas dalam serangan udara itu. Namun pi-hak rumah sakit Nabatiyeh hanya menerima enam jenazah.

Radio Israel melaporkan, roket Hizbullah menghantam sebuah bus dan rumah di kota pelabuhan Haifa. Sedikitnya lima orang terluka akibat serangan roket itu. Satu orang meninggal karena serangan jantung saat dia berlari menghindari serangan roket Hizbullah.

Komandan Israel menjelaskan serdadunya akan mengepung kota dan desa Lebanon di sekitar perbatasan. Namun dia tidak menyebutkan seberapa jauh tentara Israel telah memasuki wilayah Lebanon.

''Tujuan serangan darat ini adalah menghancurkan kekuatan Hizbullah yang berada da-lam jangkauan serangan. Itu berarti, kami harus menyerang Lebanon selatan, sedangkan daerah-daerah lainnya tidak,'' kata Kolonel Hemi Livni, komandan pasukan Israel di sektor barat perbatasan Israel-Lebanon.

Telantar

Ratusan warga Amerika dan Rusia telantar di Lebanon. Kapal yang mengevakuasi warga asing meninggalkan negara itu tanpa membawa mereka.

Pejabat Jerman mengatakan, 300 warga Amerika telantar di Kota Tyre, Lebanon selatan, yang juga menjadi sasaran serangan udara Israel. Sekitar 100 warga Rusia dan negara-negara eks anggota Uni Soviet juga terjebak di zona perang itu.

Amerika Serikat menginginkan penempatan pasukan internasional di Lebanon selatan untuk menghentikan serangan Hizbullah ke Israel. Menteri Luar Negeri Yordania Abdul-Illah al-Khatib mengatakan, negara-negara Arab mengingin-kan gencatan senjata. Dan pemerintah Lebanon seharusnya mengambil alih masalah perlucutan senjata Hizbullah.

Menteri Pertahanan Jerman Franz Josef Jung mengatakan, gencatan senjata harus dilakukan sebelum pasukan internasional dikirim ke Lebanon. (ap-rtr,ant,dtc-41,ben)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA