| Senin, 24 Juli 2006 | SALA |
Ikatan Alumni Undip Bantu Delapan Rumah''Ayem kalau Berada di Dalam Rumah''WARSO Dihardjo (65) tersenyum bahagia ketika menerima rombongan Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (Ika Undip) Semarang di rumahnya, kemarin. Warga Dukuh Miri, Desa Mutihan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten itu menyatakan bisa tidur lebih nyaman di rumah barunya. Warso dan istrinya, Kamiyem (56), tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada rombongan Ika Undip dan Keluarga Besar Putera Puteri Polisi (KBPPP). Sebelumnya, pasangan itu terpaksa tidur di tenda karena rumah mereka roboh. ''Saya senang sekali dibuatkan rumah. Sekarang saya bisa tidur lebih nyaman. Rasanya ayem kalau tidur di dalam rumah. Di tenda panas sekali,'' ujar Warso. Dia menyalami para tamunya sambil duduk di kursi. Sementara itu, rombongan berdiri. Kursi itu satu-satunya kursi yang masih tersisa, perabot lain habis tertimpa bangunan. Dia tak ikut berdiri karena tulang pinggulnya yang lepas akibat tertimpa kosen saat gempa, tak bisa pulih lagi. Pasangan itu diboyong ke rumah anaknya di Cirebon pada hari ketiga setelah gempa 27 Mei lalu. Warso yang cedera berat juga berobat namun tidak gratis. Takut tak dipercaya dirinya korban gempa, semua biaya ditanggung anaknya. Mereka kembali ke Klaten, 18 Juli lalu. Rumah bantuan Ika Undip yang belum selesai dibangun, mereka tempati karena tak tahan tidur di tenda. Saat ini, rumah tipe 32 dari bambu yang lengkap dengan teras, dapur, dan dua kamar itu masih dalam tahap penyelesaian. ''Saya berterima kasih sekali,'' tutur Kamiyem sambil terbatuk-batuk. Dia sakit sejak beberapa hari lalu. Perasaan yang sama diungkapkan Ny Warno Diharjo (65). Janda yang tinggal dengan anak menantu dan empat cucu itu hanya bekerja sebagai buruh tani. ''Total ada delapan warga yang menerima bantuan rumah sederhana dari Ika Undip. Para penerima ditentukan lewat musyawarah,'' ungkap Ketua RW 9 Kemiri Paidi. Merangsang Melihat reaksi positif penerima bantuan, Ketua Umum Ika Undip Sigit Pramono dan rombongannya tampak senang. Korban gempa yang mendapat bantuan benar-benar warga yang kurang mampu dan sangat membutuhkan uluran tangan. ''Jangan dilihat delapan unitnya karena bantuan ini bertujuan merangsang masyarakat untuk membantu diri sendiri. Juga, donatur dan anggota masyarakat lain untuk membantu. Dengan dana Rp 3,5 juta sudah bisa jadi rumah walau sederhana,'' ucap Sigit. Dia mengemukakan, dana pembangunan delapan unit rumah sederhana untuk korban gempa di Kemiri berasal dari kas Ika Undip. Pelaksana pembangunan di lapangan diserahkan ke KBPPP. Ada 40 anggota Satgas yang bertugas. Pembangunan rumah dilakukan warga secara gotong royong dengan dibantu tukang. Ketua Umum Pemimpin Pusat KBPPP Ir Drs Bugiakso dan Ketua KBPPP Klaten Heri Leksono yang hadir di lokasi mengatakan, bantuan diperuntukkan warga yang tidak punya penghasilan, sudah lanjut usia, janda atau duda. ''Rumah sederhana tahan gempa lebih baik daripada di tenda.'' (Merawati Sunantri-67j) |