logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Juli 2006 WACANA
Line

Memilih Perguruan Tinggi

  • Oleh Zainal Alim Adiwijaya

TIDAK lama lagi pengumuman penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri akan digelar. Lulusan SMA dan sederajad merasa bergengsi bila diterima di perguruan tinggi negeri. Ada yang memilih teknik nuklir, teknik kapal terbang, ada pula yang memilih sastra Jawa.

Ketika penulis bertanya pada mahasiswa ITB jurusan teknik perkapalan, apakah nantinya akan bekerja di PT Dirgantara (dahulu IPTN ) ? Bukankah IPTN tidak lagi memproduksi kapal terbang. Maka mahasiswa ITB ini menjawab, "dari pada bekerja di IPTN lebih baik beternak dan bisnis lele dumbo".

Ketika penulis bertanya pada mahasiswa sastra Jawa, yang kebetulan dia orang Sumatera maka ia menjawab kebingungan. Sementara yang lain, Indonesia tidak memproduksi senjata nuklir, sedangkan pembangkit listrik tenaga nuklir masih pro dan kontra, karena dikhawatirkan radiasinya. Bagaimanakah nasib insinyur teknik nuklir UGM itu ?

Baru-baru ini lulusan terbaik dari ITB Bandung membunuh ketiga anaknya sekaligus, karena tertekan menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki. Apa sebenarnya yang menjadi penting dalam memilih perguruan tinggi ?

Depdiknas beberapa tahun lalu sebenarnya telah mewaspadai sistem pendidikan kita yang kurang tepat. Terlebih sedang memasuki era pendidikan global, yang mana lulusan perguruan tinggi asing boleh bekerja di Indonesia begitu juga sebaliknya.

Kalau lulusan kita tidak kompeten bagi pengguna lulusan maka akan kalah dalam berkompetisi. Peringatan Depdiknas ini tidak sampai pada taraf pembenahan di perguruan tinggi, entah karena anggaran yang kurang dari 20 persen, atau alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran.

Satu hal pasti perguruan tinggi perlu berbenah tentang kurikulum, silabus dan dosen-dosen pengajarnya yang harus kompeten. Lulusan harus mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi diri dan lingkungannya sesuai dengan profesi masing-masing. Kalau tidak, lulusan akan menjadi penganggur. Perguruan tinggi lama - kelamaan akan ditinggal mahasiswa karena toh percuma saja kuliah.

Orang tidak mau masuk ke perguruan tinggi yang tidak memberi nilai tambah yang berarti bagi lulusan. Sesungguhnya sebaik-baik umat itu adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya (Hadis).

Ada lima indikator perguruan tinggi yang layak dipilih calon mahasiswa. Pertama, memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Kedua, memiliki visi, misi yang tinggi dan aplikabel. Ketiga, memiliki pendanaan yang cukup besar dalam bidang pengembangan pendidikan tinggi. Keempat, memiliki dosen-dosen pengajar yang berpendidikan memadai dan mampu mencandra kebutuhan masyarakat pengguna. Lima, memiliki sistem pengendalian mutu lulusan.

Ketersediaan sarana dan prasarana bagi mahasiswa sarat utama, penyelenggaraan pendidikan tinggi. Antara lain kampus tempat perkuliahan, laboratorium tempat praktikum, maupun posko atau sarana pengembangan emotional quotient dan spiritual quotient.

Hasil penelitian di Havard University menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20 persen kemampuan teknis dan 80 persen kemampuan mind . Hal ini berarti sarana pengembangan otak, emosional maupun spiritual sangat diperlukan. Apakah kebanyakan perguruan tinggi kita sudah punya sarana ini? Tidak banyak.

Perguruan tinggi yang baik menjadikan lingkungan kampus kondusif dengan sarana perpustakaan yang memadai, perpustakaan menyediakan buku-buku dan informasi seperti yang direferensikan dosen-dosen pengampu yang kompeten. Tidak hanya diisi buku-buku yang direferensikan kepala perpustakaan.

Ada lima indikator perguruan tinggi yang layak dipilih calon mahasiswa. Pertama, memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi. Kedua, visi, misi yang tinggi dan aplikabel. Ketiga, pendanaan yang cukup besar dalam bidang pengembangan pendidikan tinggi. Keempat, dosen-dosen pengajar yang berpendidikan memadai dan mampu mencandra kebutuhan masyarakat pengguna. Lima, memiliki sistem pengendalian mutu lulusan.

Kunci keberhasilan setiap mahasiswa adalah apa yang dibaca ? Yang dibaca adalah ilmu-ilmu way of life baik dari tataran filosofi, struktur maupun teknis masing-masing program studi. Artinya, kelengkapan materi di perpustakaan harus absolut. Selain itu, lingkungan kampus sejuk dan nyaman, lembaga-lembaga pengembangan mahasiswa diberdayakan seperti yang seharusnya, diskusi ilmiah dan trend terkini harus menjadi budaya kampus yang madani.

Tanpa sarana dan prasarana yang memadai tersebut, sulit kualitas lulusan dapat dicapai dengan baik. Apalagi kampus diselenggarakan di ruko-ruko dan di tengah kebisingan kota. Mahasiswa butuh suasana akademik bukan suasana bisnis. Mahasiswa butuh pengendapan dan pengembangan ilmu.

Kedua, memiliki visi dan misi yang tinggi dan dapat diterapkan. Banyak perguruan tinggi mampu merumuskan visi dan misi dengan baik, tetapi aplikasinya masih jauh dari kebutuhan masyarakat baik jangka pendek maupun jangka panjang. Visi dan misi harus dapat diterjemahkan dalam rencana strategis dan rencana operasional. Jangan sekali-kali rencana strategis dan rencana operasional masing-masing program studi diterjemahkan jauh dari tujuan program studi itu sendiri, hal ini dapat membiaskan tujuan pendidikan tinggi.

Kegiatan pendidikan tinggi harus meluluskan mahasiswa yang kompeten, dapat berguna bagi masyarakat dan alam semesta (rahmatan lil alamin) sesuai bidang profesi masing-masing dan kalau perlu ditunggu-tunggu kelulusannya oleh masyarakat pengguna.

Ketiga, memiliki dana pengembangan pendidikan yang cukup. Hal ini penting karena dalam anggaran inilah program pendidikan dikembangkan. Pengembangan pendidikan meliputi perbaikan kurikulum dan silabus yang setiap saat berkembang sesuai perkembangan zaman itu sendiri. Dosen-dosen sangat membutuhkan pengembangan keilmuannya.

Kalau dana pengembangan pendidikan ini tidak memadai, bagaimana mungkin workshop pengembangan keilmuan dosen bisa dilaksanakan. Bagaimana bisa mengundang para praktisi dan pengguna lulusan kalau bagian ini dilalaikan. Setidak-tidaknya, pimpinan perguruan tinggi peduli dan tidak boleh lalai dalam memenuhi tujuan pengembangan pendidikan ini. Karena dalam bidang inilah para dosen menjadi tahu apa yang harus diberikan kepada mahasiswanya.

Keempat, memiliki dosen-dosen yang berpendidikan memadai bagi suatu perguruan tinggi. Hal ini sangat penting karena dosen adalah ujung tombak dari perguruan tinggi. Dosen-dosen yang memiliki pendidikan doktor misalnya, lebih mudah mencandra keilmuannya, lebih mudah menganalisis kebutuhan masyarakat di bidang profesinya masing-masing sehingga kompetensi lulusan lebih terjamin.

Kelima, memiliki sistem pengendalian mutu lulusan perguruan tinggi. Sistem pengendalian sebagai indikator kelima ini harus didasarkan pada visi misi perguruan tinggi yang di- break down ke dalam rencana strategis dan rencana operasional masing-masing program studi. Pengendalian mutu jangan sampai terlalu bias dari visi misi program studi.

Kalau visi misi setiap program studi tidak dapat direalisasikan, maka lulusan perguruan tinggi tidak akan mencapai tujuannya yaitu sebagai khairah ummah bagi masyarakat dan bagi alam semesta Allah SWT. Lulusan perguruan tinggi pada akhirnya harus menjadi lulusan yang ditunggu-tunggu pengguna lulusan. Lulusan kita mesti aplikabel, akuntabel dan responsibel bagi lingkungannya. Perguruan tinggi harus menjadi lembaga yang dipercaya bahwa lulusannya tidak akan sia-sia di masyarakat, sehingga perguruan tinggi menjadi tempat rujukan setiap orang tua untuk mengkuliahkan putra putrinya. (11)

- Zainal Alim Adiwijaya dosen Fak. Ekonomi Unissula Semarang, peserta Program Doktor Ekonomi Islam di Universitas Airlangga Surabaya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA