| Senin, 24 Juli 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANAAgenda Lain AS dan Harapan terhadap Rusia- Di tengah-tengah ofensif Israel terhadap Palestina dan Lebanon, Amerika Serikat bukannya mencoba mengekang aksi negara Yahudi tersebut, tetapi malah membuat suasana dunia lebih panas dengan menuding Iran dan Korea Utara menjalin kerja sama persenjataan secara rahasia. Iran adalah musuh bersama Israel-AS, dan Teheran sejak lama menjadi incaran Washington, karena -seperti juga Korut- dicurigai membuat senjata nuklir. Tudingan pemerintahan George W Bush tampaknya dilancarkan pada momen yang bukan kebetulan. Ada indikasi, agresi Israel dijadikan momentum untuk memperluas serangan ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah. - Keputusan AS untuk mengirim bom-bom baru kepada Israel menguatkan dugaan tersebut. Pada saat yang sama, Korut juga tidak terlepas dari tekanan berkepanjangan. Uji coba rudal balistik negara komunis garis keras itu belum lama ini, jelas membuat Amerika tidak senang sekaligus cemas. Maklum, rudal jenis Taepodong II tersebut disebut-sebut mampu menjangkau pantai barat AS. Iran juga dikabarkan telah mampu membuat rudal balistik berhulu ledak nuklir yang dapat menjangkau Israel. Tampaknya Washington khawatir Iran bakal memancing di air keruh. Lebih-lebih, pejuang Hizbullah yang sekarang diperangi Israel di Lebanon selatan jelas-jelas didukung Teheran. - Namun menilik sejarah, tampaknya Korut tidak akan menjadi korban karena tidak ada "Israel" di kawasan Asia, khususnya Asia Timur. Korea Selatan dan Jepang jelas tidak mau diisraelkan, sekalipun keduanya merupakan sekutu Amerika. Isu Taepodong juga bukan hal baru. Rudal balistik itu pernah diuji coba sekitar setahun lalu dan memunculkan kecemasan mendalam bagi Jepang. Namun gaungnya hanya sampai di situ. Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara bukanlah Timur Tengah atau Asia Tengah yang bisa dengan mudah diobok-obok. Salah satu saja dijahili, yang lain pasti bereaksi keras. Kekompakan semacam itulah yang tampaknya tidak ada di Timur Tengah. - Kalau Amerika menuding Iran dan Korut bekerja sama mengembangkan senjata pemusnah massal, yang menjadi sasaran bidik pastilah Iran. Sudah lama Teheran diincar, tetapi sejauh ini belum ada momentum yang tepat bagi AS untuk bertindak secara militer. Dengan membesar-besarkan kembali isu nuklir Iran, ditambah dengan faktor Hizbullah, kelihatannya sudah ada dalih memadai untuk melancarkan aksi militer. Apalagi para pemimpin Iran sudah dengan lantang menyatakan siap menghadapi setiap agresi Israel atau AS. Di mata Washington, Iran yang sekarang dipimpin para tokoh garis keras merupakan ancaman bagi sekutu nomor satunya di dunia, Israel. - Ironisnya, negara-negara Timur Tengah, bahkan dunia, hanya menjadi penonton. Mestinya sekaranglah saatnya bagi Rusia untuk tampil sebagai kekuatan seperti pada masa Perang Dingin. Presiden Rusia Vladimir Putin dalam suatu pertemuan dengan para pemimpin negara-negara Islam di Moskwa belum lama ini menyatakan komitmennya untuk menjalin kerja sama erat seperti pada masa lalu. Kita berharap Putin memegang teguh komitmennya. Rusia memang terpuruk secara ekonomi pada saat Perang Dingin berakhir pada 1990. Namun kini telah bangkit kembali dan diterima dalam jajaran negara kaya dunia yang tergabung dalam Kelompok 8 (G-8). - Ketika Perang Dingin berakhir yang ditandai dengan ambruknya Uni Soviet dan Pakta Warsawa, dunia tadinya diharapkan terbebas dari ketegangan akibat dibayangi perang nuklir. Faktanya, "Perang Panas" malah menjadi-jadi. Amerika yang menjadi adidaya tunggal tidak bisa direm untuk "mengatur dunia". Kita tentu tidak ingin ulah mau menang sendiri itu terus berlangsung. Maka bila situasi Timur Tengah saat ini dijadikan momentum oleh AS untuk memperluas perang ke Iran, mestinya Rusia juga bisa tampil ke depan. Beraliansi dengan dunia muslim, China, dan mungkin pula Prancis, negeri itu dapat menjadi kekuatan penyeimbang seperti dahulu. |