logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Juli 2006 NASIONAL
Line

Perjuangan Suporter untuk PSIS

Rela Jalan Kaki Sejauh 120 Kilometer


SM/ Sutomo GUNAKAN ANJING: Polisi menggunakan anjing untuk menghalau suporter. (57v)

PERTANDINGAN PSIS, bagi sebagian orang, mungkin tak akan pernah masuk dalam daftar tontonan. Namun bagi para pendukung fanatiknya, event itu akan ditulis dengan tinta khusus dalam daftar agar tak pernah terlewatkan. Suara Merdeka menuliskannya dalam laporan berikut.

JARAK Semarang-Yogyakarta, bagi banyak orang, tak bisa dibilang dekat. Apalagi jika mesti ditempuh dengan sepeda motor. Butuh stamina prima untuk bisa menjalaninya. Namun bagi para pendukung PSIS, jarak Semarang-Yogyakarta sama sekali tak bisa dianggap jauh. Jangankan naik motor, berjalan kaki pun mereka tak sungkan untuk melakoninya!

Moto ''di mana pun PSIS main, kita harus memberi dukungan'' tampaknya memang benar-benar dihayati oleh sebagian fans Laskar Mahesa Jenar. Pada pertengahan Februari silam misalnya, ketika Liga Djarum Indonesia 2006 baru memasuki pertandingan kedua bagi PSIS, puluhan suporter nekat memilih ''jalan darat'' ke Yogyakarta.

Mereka berangkat dengan nggandul truk atau angkutan terbuka apa saja yang bersedia memberi tumpangan. Pulangnya, dijamin harus jalan kaki. Dan pemandangan puluhan suporter berjalan kaki, dari Yogyakarta atau kota-kota lain di Jawa di mana PSIS bertanding, bukan sesuatu yang aneh bagi mereka.

''Itu biasa. Kita tidur di pinggir jalan, menahan lapar, atau naik truk seadanya, bukan sesuatu yang aneh,'' kata Sekretaris Panser Biru, Hamid Arief, semalam.

Hamid sendiri, bersama rekan-rekannya, pernah berhujan-hujanan dan menahan lapar kala memberi dukungan kepada PSIS di Tangerang.

Ketika itu, dia bersama teman-temannya kebetulan hanya mendapat tumpangan mobil pikup. Karena sedang musim hujan, jadilah nyaris sepanjang perjalanan mereka bermandi ria. Jadi, kalau cuma urusan jalan kaki sejauh 120 kilometer, itu soal kecil...

''Ya, itu dukanya. Sukanya banyak, terutama kalau tim kita menang. Senangnya luar biasa,'' kata sarjana komputer itu ringan.

Saat ini, ada puluhan ribu pendukung PSIS yang tergabung dalam dua wadah, Panser Biru dan Snex. Jumlah yang tak tertampung oleh keduanya tak kalah banyak. Juga puluhan ribu.

''Kalau dihitung berdasarkan KTA (kartu tanda anggota), jumlah kami lebih dari 10 ribu,'' tambah Hamid. ''Sebagian besar dari mereka setia mendukung ke mana pun tim bermain, selama masih di Jawa.''

Snex juga demikian. Jumlah mereka tak kalah dari Panser Biru. Soal militansi, kelompok ini bahkan bisa disebut sebagai biangnya. Ibaratnya, biar tidak makan asal bisa nonton PSIS, pasti dijalani.

''Teman-teman memang begitu. Kalau sudah urusan mendukung PSIS, urusan yang lain nomor dua,'' kata Sekum Snex, Junaedi, yang akan disapa Bang Jun. Kebanyakan anggota kelompok ini adalah remaja tanggung. Sebagian belum berpenghasilan. Untuk bisa nonton, mereka harus menghemat uang saku. Kalau berhemat tetap saja belum cukup, jalan keluarnya ya itu tadi: nekat.

Bagaimana kalau PSIS sedang bertanding away tapi kebetulan penonton-penonton itu pas tidak punya duit?

''Pokoknya berangkat dulu. Kalau harus jalan kaki, ya jalan kaki. Toh nanti di perjalanan selalu ada tumpangan. Kalau sial nggak ada tumpangan, ya apa boleh buat, jalan kaki terus,'' kata Hamid.

Karena itu, jangan heran jika sehabis melihat pertandingan Emmanuel de Porras dan kawan-kawan -misalnya di Yogya, Solo, Batang, atau Pasuruan- kita kemudian berpapasan dengan mereka tengah berjalan kaki untuk pulang.

''Kalau temannya banyak, rasanya tetap asyik. Jauh bukan halangan,'' kata Bang Jun.

Manajemen tim PSIS sering membantu mereka. Karena sifatnya membantu, tentu tidak seluruhnya ditanggung. Terkadang, manajemen tim membantu nasi bungkus, atau membayarkan separo harga tiket. Yang jelas, dibantu atau tidak, para suporter ini berlaku bagai pejuang. Maju terus, tak mau mundur.

Repotnya, kadang-kadang ada di antara mereka yang bersikap tidak dewasa. Kasus kerusuhan di Stadion Moh Sarengat Batang, menjadi contohnya. (Gunarso, Achid Nugroho, Budi Winarto, Arif Suryoto-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA