| Senin, 24 Juli 2006 | NASIONAL |
Sulawesi Diguncang GempaPALU - Beberapa wilayah di Sulawesi bagian utara dan tengah, serta Buleleng (Denpasar) dan Nias kemarin diguncang gempa. Guncangan juga terjadi di Bengkulu, Sabtu malam lalu (22/7). Tidak ada korban jiwa atau kerusakan akibat peristiwa tersebut. Gempa di Sulawesi terjadi pukul 15.22 Wita dengan kekuatan 6,6 skala richter (SR). Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) di Jakarta, P Priharjadi mengatakan, gempa paling terasa di Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah), Gorontalo, Kota Mobago (Sulawesi Utara). Pusat gempa sekitar 90 km tenggara Kota Gorontalo dan 140 km arah timur laut Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah atau tepatnya di pertemuan Teluk Tomini dan Laut Maluku pada 0,25 derajat Lintang Selatan (LS) 123,41 derajat Bujur Timur (BT) serta di kedalaman 33 kilometer. Ahmad Sinukun, warga Kelurahan Baru, Kota Luwuk menjelaskan, kerasnya guncangan membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. "Pajangan di rumah-rumah penduduk banyak yang berjatuhan dan saat ini masih ada sebagian warga belum berani masuk rumah karena khawatir terjadi gempa susulan yang lebih keras dan dapat membahayakan jiwa," ujar dia. Kepala Bidang Gempa Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Pusat, Suharjono mengemukakan, gempa terjadi karena pergesekan antara lempengan utara yang berasal dari Pasifik dan lempeng Eurasia yang membentang dari Papua-Maluku hingga Laut Banda. Di kawasan itu terdapat banyak lempengan lain yang kemungkinan akan terpengaruh oleh daya dorong yang disebabkan oleh gesekan kedua lempeng tersebut. "Kompleks, banyak lempengan yang saling bertemu di situ. Itu berpotensi menimbulkan gempa di wilayah yang lain kalau lempeng tersebut tidak bisa menahan daya dorong yang muncul akibat pergesekan," ujarnya. Sementara itu, gempa susulan terjadi pukul 16.40 Wita, 16.53 Wita, dan 16.54 Wita. "Gempa-gempa lain juga masih berpotensi terjadi, tetapi kita tidak tahu kapan," tutur dia. Robert Wahyu Owen, kepala Stasiun Geofisika Palu menjelaskan, gempa yang menguncang wilayah timur Provinsi Sulteng cukup keras dan masuk kategori dangkal, sehingga berpotensi menimbulkan gelombang pasang (tsunami). Kekuatan Rendah Gempa berkekuatan 3,67 SR kemarin juga terjadi di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali pukul 17.07 Wita. Petugas BMG wilayah III Denpasar Yohanes menuturkan, gempa bumi berada lima kilometer timur laut kota Singaraja dengan kedalaman 15 km. Adapun gempa di Kota Bengkulu dan sekitarnya terjadi pukul 23.43 dengan kekuatan 5,4 SR. ''Berada di 4,85 Lintas selatan (LS) dan 101.1 Bujur Timur (BT), dengan kedalaman 58 km atau sekitar 155 km arah Barat Daya Bengkulu,'' papar Kepala Stasiun Geofisika Kepahiang Ali Muzain. Getaran gempa terasa di Kota Bengkulu dan sekitarnya antara II-III Mercalli Magnitude Intensity (MMI), namun getaran tersebut tidak dirasakan oleh sebagian warga walaupun gempa berkekuatan 5,4 SR. Gempa sebelumnya yang mengguncang Bengkulu terjadi pada Selasa pagi (18/7) dengan kekuatan 5,6 SR. Husni menerangkan, seringnya wilayah Bengkulu diguncang gempa bukan mengindikasikan akan terjadinya gempa besar tapi merupakan aktivitas tektonik. Sebab Bengkulu dan sekitarnya termasuk salah satu daerah intensitas tinggi guncangan gempa tektonik. Provinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah yang rawan gempa di pantai barat Sumatera. Wilayah tersebut pernah dilanda gempa tektonik berkekuatan 7,3 SR pada 4 Juni 2000 yang mengakibatkan 94 orang meninggal dunia dan ratusan orang luka-luka. Selain di Bengkulu, gempa berkekuatan 4,9 SR juga mengguncang wilayah Nias, Sumatera Utara pada pukul 20.29. Gempa ini terjadi di 1,2 Lintang Utara dan 97,8 Bujur Timur di kedalaman 45 Km antara Nias dan Sibolga. "Itu hanya gempa susulan saja dari gempa dan tsunami yang lalu," kata Suhardjono. Dia menjelaskan, gempa susulan ini akan terus berlanjut hingga 1-2 tahun sejak gempa utama. Saat gempa dan tsunami mendera wilayah Sumbawa pada 1979 lalu, kondisi normal baru dapat terjadi 2 tahun setelahnya. "Untuk kembali normal butuh waktu lama. Waktu itu di Sumbawa yang kekuatannya 8 SR saja baru 2 tahun kembali normal," katanya.(ant-46v) |