| Senin, 24 Juli 2006 | SEMARANG |
Berkesan Top DownPROFESOR Arief Budiman tak bisa melupakan Salatiga, kota yang pernah membesarkannya, dan selalu menjadi kenangan bagi dia dan keluarganya. Apalagi di kota ini Arief punya banyak kolega. Maklum, kakak kandung Soe Hok Gie ini pernah belasan tahun menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Setelah terjadi konflik internal di kampus ternama tersebut, Arief dan istrinya -Leila Ch Budiman- mengajar di Universitas Melbourne Australia (1998) serta bermukim di sana sampai sekarang. Arief menjadi guru besar ilmu politik di univeritas itu. Setiap liburan tiba, ia pulang ke rumahnya di Salatiga, sebagaimana saat ditemui Suara Merdeka, Rabu (19/7) lalu. Kecintaannya terhadap Salatiga tak pernah luntur oleh ruang dan waktu. Sebagai sosiolog, Arif tak mau melihat PKL dijadikan ''sasaran tembak'' pemerintah daerah, terutama dikaitkan dengan kesemerawutan lalu lintas di jalan-jalan protokol. Tetapi dia setuju penataan PKL merupakan salah satu masalah riil yang harus dihadapi dan diselesaikan Pemkot Salatiga. Sebenarnya keberadaan PKL di tengah kota tidak menjadi masalah, bahkan jika menimbulkan kesemerawutan sekalipun. ''Mengapa Pemkot lebih menfokuskan kepada keindahan? Dalam kondisi sekarang ini, bukan keindahan yang diutamakan, melainkan bagaimana masyarakat bisa makan. Jadi yang harus dipikirkan adalah bagaimana menciptakan masyarakat yang sejahtera. Salah satunya dengan menghidupkan para PKL,'' tutur Arief . Sedang Berkembang Menurutnya, Salatiga saat ini merupakan salah satu ciri kota yang sedang mengalami perkembangan ekonomi. Ibarat madu yang selalu didatangi kumbang, banyak warga masyarakat pinggiran yang berdatangan dan berusaha, termasuk berdagang. ''Saya melihat PKL yang ada saat ini kebanyakan orang dari pinggiran maupun luar kota, meskipun ada juga yang penduduk setempat''. Karena itu, dia menyarankan Pemkot agar tidak menfokuskan usaha mereka di tengah kota. Caranya antara lain melakukan pengembangan kota. ''Perlu segera dibangun titik-titik baru pemusatan kegiatan masyarakat di pedesaan. Daerah pedesaan harus segera dimodernisasi,'' ujar Arief, yang akhir pekan lalu sudah kembali ke Australia. Dia menilai kebijakan penataan PKL di Salatiga masih berkesan top down, termasuk rencana relokasi bulan depan. Akibatnya yang jadi korban selalu pedagang. ''Sangat tidak adil jika pedagang direlokasi di tempat yang belum menjanjikan bakal memberi keuntungan seperti di tempat semula''. Kalau pun jalan akhir yang ditempuh Pemkot untuk mengatasi kesemerawutan lalu lintas adalah merelokasi pedagang kaki lima, maka harus melibatkan peranan aktif para pedagang itu sendiri. Dengan demikian, kesan top down akan hilang dengan sendirinya. Di forum inilah perlu dibicarakan lokasi baru yang dikehendaki. (32) |