| Senin, 24 Juli 2006 | SEMARANG |
Ketua PGRI Jateng Dukung Merger SekolahSEMARANG - Kontroversi sekolah swasta yang tidak memenuhi standar pelayanan minimal (SPM) atau memiliki siswa kurang dari 20 perlu dimerger, masih berlanjut. Jika sebelumnya sejumlah pakar dan pengelola sekolah menolak gagasan itu, Ketua PD PGRI Jateng Drs H Sudharto MA, salah satu yang mendukung penggabungan sekolah swasta tersebut. Pendapat mantan Kakanwil P dan K Jateng itu berdasarkan kenyataan banyak sekolah swasta yang memiliki kualitas di bawah standar. Karena itu, salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas melalui merger. Namun, sebelum itu perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam, sehingga kedua belah pihak menyadarinya. Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jateng itu menyatakan prihatin dengan keadaan tersebut. Meski jumlah muridnya sedikit, sekolah tersebut tetap bertahan menyelenggarakan proses pembelajaran sebagaimana mestinya. Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Sri Santoso mengatakan, sekolah yang tidak memenuhi SPM, yakni muridnya kurang dari 20 akan dimerger. Sejumlah sekolah pun menolak gagasan itu, karena merger dianggap bukan solusi terbaik. Pakar pendidikan Unnes Ir Saratri Wilonoyuda MSi pun menilai buruknya mutu sekolah swasta, karena selama ini pengawasan tidak efektif dan terkesan asal-asalan. Ada sejumlah sekolah swasta, kata dia, hanya papan nama dan menjual ijazah. Sementara pemerintah seolah tidak menertibkan sekolah-sekolah semacam itu. Lebih lanjut, Sudharto menilai fakta itu menunjukkan pengawasan pemerintah terhadap sekolah swasta masih sangat lemah. Jika dibiarkan, keberadaan sekolah tersebut justru akan merugikan masyarakat. "Sebab, pendidikan yang diterima siswa sangat tidak berkualitas.'' Perhatian Pemerintah Kondisi semacam itu memerlukan perhatian yang besar dari pemerintah, antara lain dengan mengefektifkan pengawasan. Dari pengawasan tersebut, ujar dia, akan diketahui sejauh mana kegiatan pembelajaran yang berlangsung di sekolah tersebut. "Selanjutnya pemerintah perlu melakukan pembinaan.'' Pembinaan tersebut, lanjut dia, dilakukan untuk membantu sekolah dalam meningkatkan kualitasnya. Peningkatan kualitas tersebut salah satunya dengan merger. "Rencana merger itu memerlukan kesadaran dari pihak pengelola sekolah,'' tegasnya. Saat ini, jelas dia, sumber finansial yang diperoleh sekolah swasta sebagian besar berasal dari siswa. Jika jumlah siswa sedikit, otomatis jumlah dana yang diperoleh juga banyak berkurang. Dengan dana yang terbatas, akan berpengaruh pada penghasilan guru. "Penghasilan yang diterima guru juga akan sedikit,'' imbuhnya. Kecilnya penghasilan itu, menurut dia, akan memengaruhi kinerja. Dengan gaji kecil, semangat mengajar guru tersebut jauh di bawah yang berpenghasilan besar. Jika hal itu terjadi, kegiatan pembelajaran juga akan terganggu. (H31-62d) |