logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Juli 2006 SEMARANG
Line

Siapkan Berkas Tingkat Nasional

TERPILIH menjadi guru berprestasi jenjang sekolah dasar (SD) tingkat Jateng, tidak lantas membuat Santoso SPd bersenang-senang. Justru sebaliknya, beban berat telah mengadang guru bahasa Indonesia SDN Sompok 04 Semarang itu. Dengan predikat tersebut, dirinya masih harus berjuang lebih keras lagi, karena akan maju ke tingkat nasional.

"Saya senang dan bangga dengan prestasi ini, tetapi tugas lebih berat sebagai wakil Jateng telah ada di depan. Saya berharap bisa melakukan yang terbaik lagi untuk tingkat nasional," katanya.

Guna menghadapi lomba guru berprestasi tingkat nasional pada 12-18 Agustus, pria kelahiran Blora, 28 Desember 1963, itu tengah melakukan pemberkasan. Suami dari Sri Budi Asih ini memenangi pemilihan guru berprestasi yang diadakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jateng, 10-14 Juli lalu.

Dia mengungguli peserta lain yang merupakan perwakilan dari 34 kabupaten/kota lain di Jateng. Karya tulis yang dia presentasikan saat itu berjudul "Upaya Meningkatkan Keterampilan Mendengarkan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Enam SDN Sompok 04 Semarang".

Menjadi guru berprestasi, bagi Santoso yang tamatan IKIP PGRI Semarang itu menjadi beban tersendiri. "Dengan predikat itu, saya harus lebih eksis dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Saya pun harus terus belajar agar bisa memiliki nilai lebih dibandingkan dengan lainnya," ungkap bapak dengan dua putra tersebut.

Prestasi itu akan dijadikannya sebagai pemicu agar bisa terus lebih baik dari sebelumnya. Dalam kesehariannya mengajar di salah satu SD favorit di Semarang, Santoso selalu menerapkan pada anak didiknya agar mereka merasa senang. Dengan senang pada mata pelajaran, anak didik akan bisa berekspresi sesuai dengan kemauannya. "Dari situlah nantinya kita bisa menggali potensi siswa didik. Dalam belajar mereka harus senang, tetapi bukan berarti bersenang-senang," tuturnya.

Menjadi guru sebenarnya bukan cita-cita Santoso. Sejak kecil, pria yang mulai menjadi pegawai negeri sipil (PNS) 1 Mei 1984 itu mengaku ingin menjadi seorang mandor hutan. Di daerah asalnya Blora, mandor hutan memang sebuah profesi membanggakan kala itu. Dengan pakaian ala militer, mandor hutan terlihat gagah. "Tapi nasib saya ternyata berbeda. Bukannya menjadi mandor, melainkan malah sekolah di SPG Blora setelah lulus SMP," tuturnya. (Saptono JS-18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA