| Senin, 24 Juli 2006 | SEMARANG |
Ternak di Enam Daerah Divaksin
UNGARAN - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang, pada Juli dan Agustus melakukan vaksinasi antraks di enam daerah yang dinyatakan endemis penyakit ternak mematikan tersebut. Keenam daerah itu, Kecamatan Suruh, Susukan, Kaliwungu, Tengaran, Bancak, dan Getasan. Sapi dan kambing di tiga kecamatan yang disebut pertama, telah mendapat vaksin bulan ini. Rencananya, Senin (24/7), petugas vaksinator bekerja di Tengaran. Di daerah ini, belasan ribu sapi di kandang PT Nandi Amerta Agung (NAA) pada awal 1990, mati terserang antraks. Menurut dia, virus antraks biasanya merebak antara Juli, Agustus, dan September. Virus antraks itu mampu bertahan hidup hingga 30 tahun. "Karena itu, kami mengimbau para peternak untuk waspada, mengingat serangan penyakit di PT NAA dulu terjadi pada pertengahan tahun," tandas Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakan dokter hewan Bambang Sutrisno, kemarin. Didampingi Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit dokter hewan Djarot Zam Kasman, dia mengatakan jumlah vaksin yang akan digunakan 12.000 dosis. Jumlah itu dinilai masih kurang. Sebab di enam kecamatan itu, jumlah ternak sapi dan kambing mencapai 30.000 ekor. ''Kami sudah mengupayakan penambahan bantuan vaksin ke Pemprov, tetapi belum ada tanggapan,'' ucap Djarot, kemarin. Karena vaksin kurang mencukupi, upaya pencegahan akan difokuskan di daerah sekitar yang pernah terserang virus ganas itu. Disnakan juga sudah menyosialisasikan vaksinasi serta pemahaman tentang penyakit inisosialisasi kepada para peternak dan warga. Djarot juga mengungkapkan, lalu lintas atau keluar masuk ternak sulit dikontrol. Dari enam kecamatan itu, diketahui Tengaran dan Getasan yang terbanyak memiliki ternak sapi dan kambing. Namun warga Kaliwungu dinilai paling antusias membawa ternaknya untuk divaksin antraks. ''Pada akhir bulan, vaksinasi antraks dilakukan di Tengaran dan awal Agustus di Bancak serta Getasan. Untuk itu, warga di tiga kecamatan itu saya harap proaktif membawa sapi atau kambingnya kepada petugas untuk mendapat cairan kekebalan tubuh tersebut.'' Sementara itu, Bambang Sutrisno meminta warga yang tinggal di daerah bekas kuburan massal sapi yang terkena antraks, tidak bermain dan menggembalakan ternaknya sembarangan. Warga harus ikut menjaga lahan bekas kuburan massal sapi seperti di Tengaran. Jangan sampai lahan diaduk-aduk atau digali. Sebab dikhawatirkan, virus bisa berkembang lagi. (H14-18m) |