logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 24 Juli 2006 SEMARANG
Line

Ingin Jadi Kota Transit yang Dikenang

SALATIGA memang bukan kota tujuan wisata di Jawa Tengah. Tidak banyak objek wisata yang dimiliki daerah ini. Meski demikian, Salatiga merupakan daerah perlintasan utama jalur Semarang-Solo, dan dekat dengan sejumlah objek wisata potensial.

Sebut saja Bandungan, Kopeng, Pemandian Alam Muncul, dan Rawapening -semuanya termasuk dalam wilayah Kabupaten Semarang. Warga Boyolali, Solo dan sekitarnya yang hendak mengunjungi objek-objek tersebut pasti akan melewati Salatiga. Begitu pula ketika pulang.

Sebaliknya, warga Semarang dan sekitarnya yang hendak bepergian ke Solo juga bakal melalui kota tersebut. Letak geografis yang strategis inilah yang mendorong Pemkot Salatiga mendesain daerahnya sebagai kota persinggahan atau kota transit. Atau dalam bahasa Wali Kota H Totok Mintarto sebagai kota kenangan bagi pengguna jalan yang singgah (mampir) di kota ini.

Ada beberapa faktor pendukung yang makin mengukuhkan Salatiga sebagai kota persinggahan yang representatif. Antara lain hawanya yang sejuk, dengan panorama alam yang indah karena berada di lereng Gunung Merbabu dan pegunungan lain.

Salatiga juga terkenal dengan sejumlah penganan khasnya, seperti enting-enting gepuk, kerupuk paru, dendeng, abon sapi dan sebagainya. Keberadaan outlet-outlet penganan khas, baik yang terpusat di Jl Sukowati atau beberapa jalan protokol lainnya, sangat mendukung wisata kuliner.

Oleh-oleh

Pengguna jalan, yang kebetulan melewati Salatiga, sering berhenti di outlet-outlet tersebut untuk membeli oleh-oleh. Tak cuma itu. Para mahasiswa pendatang yang kuliah di Salatiga pun seringkali membawa buah tangan berupa penganan khas, terutama enting-enting. Famili yang sedang menengok anak atau kerabatnya yang kuliah di kota ini pun tak lupa membawa buah tangan serupa, ketika hendak kembali ke kampung halamannya.

Setiap hari, toko-toko makanan khas di sepanjang Jalan Sukowati tak pernah sepi dari pembeli. Jika melihat pelat kendaraan roda empat yang terparkir di tepi jalan, sebagian besar pembeli berasal dari luar kota. Tidak sedikit mobil berpelat B, D, dan L yang berhenti di pusat oleh-oleh tersebut.

Kenyataan ini makin meneguhkan predikat Salatiga sebagai kota persinggahan yang selalu dikenang. Pengguna jalan yang letih pun bisa beristirahat sejenak di kota ini, meski hanya duduk-duduk di trotoar pinggir jalan. Nyaman sekali jika sore hari kita istirahat di trotoar sambil menikmati jagung rebus dan minum wedang ronde. Setelah itu baru membeli oleh-oleh.

Untuk menjaga agar wisata kuliner tak berhenti sampai di sini, Pemkot terus mendorong pertumbuhan industri makanan khas, yang didominasi usaha kecil dan menengah (UKM). Dorongan itu pun dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari pelatihan hingga pemberian pinjaman bergulir.

Pemkot juga membantu aspek pemasarannya, antara lain dengan mendirikan showroom di Kopontren Al-Ishlaah, Tingkir. Di ruang pamer itulah, pemilik UKM dapat menitipkan produknya tanpa dipungut biaya. Ya, ini ujud nyata perhatian pemerintah terhadap potensi di daerahnya. (32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA