| Senin, 24 Juli 2006 | INTERNASIONAL |
Harapan Perdamaian Irak Suram, 63 TewasBAGDAD - Beberapa ledakan bom menewaskan sedikitnya 63 orang di Irak Minggu kemarin. Serangan bom itu menyuramkan harapan perdamaian di Irak yang diupayakan Perdana Menteri Nuri al-Maliki melalui rekonsiliasi nasional. Aksi pengeboman itu terjadi sehari setelah pertemuan awal untuk memulai rekonsiliasi nasional tersebut. Pada saat yang sama, PM Maliki te-ngah melakukan persiapan untuk berkunjung ke Washington. Ledakan bom pertama mengguncang sebuah distrik Kota Sadr, Bagdad, pada pukul 09.20 waktu setempat (12.20 WIB). Serangan bom ini menewaskan 36 warga sipil di perkampungan yang mayoritas berpenduduk sipil itu. Bom mobil kedua meledak di depan gedung pengadilan Kota Kirkuk, Irak utara. Ledakan bom itu menewaskan sedikitnya 22 warga sipil dan melukai 92 lainnya (18 orang di antaranya terluka parah). Di wilayah Baquba, utara Bagdad, lima warga sipil tewas akibat berondongan senjata sekelompok orang tak dikenal. Polisi menduga bom di Kirkuk berdaya ledak kuat lantaran kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Sejumlah mobil dan kedai hancur. Darah korban menggenang di beberapa tempat. Saksi mata mengatakan, ledakan bom itu berasal dari sebuah minibus. Namun polisi belum bisa memastikan penyebab ledakan itu. Baku Tembak Tiga pekan lalu, bom mobil di pasar Kota Sadr menewaskan sekitar 60 orang. Itu merupakan salah satu serangan bom yang paling banyak merenggut korban. Dikhawatirkan, peledakan bom itu memicu perang saudara di Irak. Serangan bom kemarin terjadi sehari setelah pertemuan antara Syiah, Suni, dan kelompok-kelompok etnis di Irak. Pertemuan itu bertujuan meredam kekerasan dan mempersatukan Irak. Bentrokan sengit juga terjadi Sabtu malam lalu antara Laskar Mahdi pimpinan Moqtada as-Sadr dan pasukan Amerika Serikat. Militer AS menyatakan baku tembak terjadi ketika tentara Irak menyerbu daerah basis Syiah di Bagdad timur untuk menangkap dua orang yang diduga terlibat ''pasukan eksekusi''. Pasukan eksekusi adalah sebutan untuk milisi bersenjata Syiah yang membunuhi orang-orang Suni dengan cara mirip eksekusi hukuman mati. Dalam penyerbuan itu, delapan orang ditangkap setelah baku tembak. Dua warga Tentara juga membebaskan dua warga Irak yang disandera kelompok tersebut. Militer AS mengatakan, dua orang lagi ditangkap dalam penyerbuan di Bagdad baratlaut. Sabtu lalu, para pemimpin Irak mengadakan pertemuan pertama Komite Tinggi untuk Dialog dan Rekonsiliasi Nasional. Pertemuan itu bertujuan memperlihatkan solidaritas antara mahzab dan etnis di Irak sebelum PM Maliki melawat ke Washington untuk bertemu dengan Presiden AS George W Bush. Namun banyak pihak pesimistis mengenai peluang keberhasilan rekonsiliasi nasional itu. Sebab, pertumpahan darah masih terus berlangsung. Terlebih lagi, partai terbesar Suni tidak bergabung dalam komite rekonsiliasi itu. Bush juga ditekan untuk menunjukkan kemajuan dalam menangani Irak, ketika kandidat-kandidat Partai Republik bersiap-siap menghadapi pemilihan anggota Kongres November mendatang. Para komandan AS menyatakan sedang mempertimbangkan pengiriman lebih banyak pasukan ke ibu kota Irak. Sebagian pemimpin Irak mengakui bahwa mereka merasa putus asa menghadapi kemungkinan perang saudara di negara itu. (afp-ben-26) |