| Senin, 24 Juli 2006 | EKONOMI |
Bursa Mobil di Sriwedari LesuSOLO-Pasar mobil bekas di Solo kondisinya semakin lesu. Hal itu tercermin dari bursa yang digelar di halaman Stadion Sriwedari, kemarin. Sebulan lalu, jumlah transaksi rata-rata masih di atas sepuluh unit sehari. Selama tiga minggu terakhir pasar semakin lesu. Jumlah transaksi antara 5 - 7 unit sehari. ''Hari ini (kemarin-red) hanya ada lima transaksi,'' kata Keceng, pedagang mobil di bursa mobil bekas Sriwedari. Bursa di halaman stadion ini berlangsung setiap hari Minggu, dibuka pukul 06.00 - 17.00. Mereka yang menjual atau membeli mobil di bursa ini, sebagian besar wong Solo dan daerah di sekitarnya. Tetapi juga ada yang dari Yogyakarta atau Ngawi. Mereka yang datang di Stadion Sriwedari, juga tak banyak yang benar-benar bertujuan membeli mobil. Sebagian besar pengunjung justru hanya ingin mengecek perkembangan harga. Apalagi ada informasi, harga meobil cenderung terus menurun. Menurut Keceng, sekarang pedagang mobil bekas susah mencari penghasilan. ''Jangankan untung besar, untung kecil saja susah,'' katanya. Ketika pasar masih bagus, sebelum kenaikan BBM, kata dia keuntungan pedagang mobil bekas bisa mencapai Rp 3 juta atau empat juta untuk satu unit mobil. ''Sekarang jangan bicara Rp 1 juta, Rp 300 ribu saja sulit,'' katanya. Dijual Murah Heru pedagang mobil bekas lainnya mengungkapkan, sekarang mobil harganya dibanting murah, tapi tak ada pembeli. Ia menunjuk mobil Masda Cronos tahun 1994 yang ditawarkan Rp 46 juta. Menurut dia mobil itu dibeli Rp 43 juta saja diberikan. Tapi tak ada yang menawar. ''Padahal sebelum kenaikan harga BBM, harga mobil ini sekitar Rp 60 juta,'' katanya. Sementara itu, Keceng yang menawarkan dagangannya mobil Honda Maestro 1991 seharga Rp 39 juta, juga tak ada yang membeli. ''Ini saya tawarkan Rp 39 juta. Tapi Rp 37 juta sudah saya lepas. Pada saat harga BBM belum naik, harga mobil ini sekitar Rp 50 juta,'' katanya. Jumlah pengunjung bursa ini kemarin rupanya tidak begitu banyak dibandingkan bulan lalu. Demikian pula mobil yang dipajang untuk dijual. Bulan lalu mobil yang dijual mencapai sekitar 150 unit, tapi kemarin kurang dari 100 unit. Beberapa pedagang di dalam halaman stadion itu mengeluh, karena di luar pagar halaman juga terjadi transaksi jual beli mobil tanpa melalui koordinator bursa. ''Kami tidak bisa melarang, tapi ini jelas merugikan penyelenggaraan bursa mobil di halaman stadion,'' ujar Ardi salah seorang pedagang. Sebagian penjual mobil memang memilih tempat untuk menawarkan dagangannya di luar halaman stadion, karena ongkosnya lebih ringan. Mereka hanya bayar Rp 3.000 untuk ngkos parkir. Sedangkan bila masuk halaman harus keluar uang Rp 10.000 untuk sebuah mobil. (bt-33) |