| Senin, 24 Juli 2006 | BUDAYA |
Ikhtiar Pembebasan Auly Kastari''Seni rupa adalah dunia yang senantiasa bergerak. Jika tak ingin tertinggal, jangan bergeming seperti batu sepanjang waktu''. Sastrawan Triyanto Triwikromo menorehkan kalimat liris itu di sebidang kanvas saat membuka ''Pameran Asal Lukisan Auly'' di Galeri Bu Atie, Jalan Borobudur Utara Raya 6, Semarang, Sabtu (22/7) malam. Auly, seperti pengakuannya, adalah pelukis yang berikhtiar membuat karya realisnya lebih punya makna. Karena itu beberapa tahun terakhir dia mengasah ketajaman pisau estetikanya. Namun, kepentingan periuk nasi menjadi batu sandungan. Beberapa tahun terakhir, dia bahkan sekadar memenuhi pesanan. ''Ada kolektor dari negeri tetangga meminta saya melukis sesuai dengan keinginannya. Dari dia, kebutuhan ekonomi saya terpenuhi. Namun di sisi lain kreativitas saya jadi tumpul dan mati. Saya tak mau terus-menerus seperti itu. Saya ingin berproses sesuai dengan kemauan saya,'' ujarnya. Dia mencuri-curi waktu untuk mengerjakan karya. Tanpa harus memutus hubungan dengan sang kolektor, dia memuaskan hasrat kreatif yang meledak-ledak. Maka lahirlah karya-karya, yang menurut dia, membebaskan diri. Kini, sejak 22 Juli hingga 21 Agustus, karya yang semua bermedia cat minyak di atas kanvas itu dipamerkan di Galeri Bu Atie. Pendobrakan Sepintas lukisan-lukisan itu tak tampak berbeda dari karya Auly sebelumnya atau corak realisme di Semarang umumnya. Di sana masih bertengger objek penari bali, ikan dalam akuarium, teratai, ayam jago, suasana pasar, aktivitas petani di ladang, semak belukar, lansekap, gadis telanjang, dan bunga matahari. Pelukis berambut gondrong itu juga masih menggunakan palet. Namun, jika diamati lebih mendalam, ada hal-hal di luar kebiasaan. Dia lebih berani mengambil keputusan, baik dalam ide maupun pewarnaan. Contoh sederhana, dia membingkai ikan-ikan dalam ''Aquarium I'' dan ''Aquarium II'' dengan garis yang disapukan dengan kuas. Dalam ''Hutan", dia mendobrak doktrin pasar yang selama ini memenjara. Pelukis yang pernah berguru pada Mozes Misdy itu membentuk batang-batang pohon dan dedaunan hutan secara bersahaja. Pendobrakan serupa juga tampak dalam karya-karya berobjek perempuan telanjang. Torehan cat dengan palet di kanvas itu terasa lebih bebas dan lugas. ''Karya-karya semacam itu tak mungkin saya buat saat memenuhi pesanan. Meski baru sebatas ini, saya merasa merdeka. Dalam berproses, saya merasa lamban atau mungkin malah bodoh? Kok sejak dulu cuma begini-begini saja,'' tuturnya. Karena itulah, tak penting-penting amat menyoal pencapaian. Sebab, prosesnya tentu masih terus berjalan. Dan Auly, dengan ikhtiar pembebasannya, sungguh patut dipuji.(Rukardi-53) |