| Minggu, 23 Juli 2006 | NASIONAL |
kisahDerita Korban Tsunami Cilacap dan Pangandaran (6-Habis)Kepedihan Itu Tak Mudah Disembuhkan
KEPEDIHAN bercampur duka akibat tsunami yang dialami warga Pangandaran dan sekitarnya, tak akan mudah disembuhkan dalam hitungan waktu. Diperkirakan, luka akan berangsur-angsur pulih dalam beberapa tahun ke depan, kendati berbagai uluran tangan para dermawan maupun pemerintah terus berdatangan. Bagi yang masih selamat, kehilangan anggota keluarga, harta benda, dan sumber pencaharian, akan terus dikenang sepanjang hidup. Untuk menyembuhkannya, butuh waktu panjang. Begitu pula upaya untuk membangkitkan dunia pariwisata dan sektor usaha yang sebelumnya telah digeluti para nelayan di sepanjang kawasan Pantai Pangandaran. Kedahsyatan tsunami telah memorak-porandakan sandaran penghidupan mereka. Sarana infrakstruktur pendukung dunia pariwisata unggulan Provinsi Jabar ini telah luluh lantah. Hotel, restoran, rumah makan, kafe, kios-kios pedagang, serta lapak para PKL, telah hancur. Tak ada yang tersisa. Hotel yang masih berdiri kokoh pun bagi pemiliknya, jika terus dijalankan, tetap tidak bisa untuk menghidupi karyawan atau menanggung biaya operasional harian. Apalagi berpikir untuk memperoleh keuntungan dalam waktu dekat. Aktivitas pariwisata yang lumpuh total sejak Senin lalu, secara perlahan juga mengubur harapan untuk bisa bangkit dalam waktu dekat. Dalam beberapa hari terakhir, pemandangan yang bisa kita jumpai adalah para pedagang suvenir dan warga yang terus mencari harta benda mereka di reruntuhan bangunan. Barang yang masih bisa diselamatkan dari dalam hotel-hotel atau rumah penduduk, diambil pemiliknya untuk diamankan. Perahu, baik untuk berlayar maupun melaut, juga masih berserakan. Yang bisa diselamatkan, pasti diambil. Sementara yang rusak parah atau hancur, tetap dibiarkan terempas di antaran bangunan-bangunan yang roboh. Pemandangan memilukan tersebut akan sangat kontras dengan memori ingatan kita tentang keindahan objek wisata andalan warga Pangandaran sebelum Senin (17/7) kelabu lalu. Saat bencana belum menimpa, bisa kita nikmati keindahan alam pantai timur dan barat, serta keindahan panorama alam bawah laut dan cagar alam yang begitu memikat. Bahkan, kerena keindahannya, kawasan itu biasa dipakai untuk tempat pembuatan sinetron maupun film. Tak ada kata puas saat kita menikmati panorama alamnya. Apalagi saat menjelang senja atau ketika menyongsong mentari terbit di ufuk timur. Saat cerah, malam yang bertambur bintang banyak dimanfaatkan para wisatawan untuk menghabiskan waktu. "'Begitu indah dan tak akan hilang untuk dikenang.." begitu cerita orang-orang yang pernah singgah di lokasi wisata ujung selatan Kabupaten Ciamis itu, sesaat sebelum bencana. Namun semua tinggallah cerita masa lalu. Para wisatawan, baik domestik maupun asing, dipastikan tak akan berani datang ke daerah itu lagi untuk berwisata. Saat ini, masyarakat pariwisata setempat juga patah arang untuk membangkitkan kembali aset wisatanya. Apalagi mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor kepariwisatawaan. Sebagai gambaran, data di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis menyebut, akibat terjangan gelombang tsunami, 63 hotel rusak, 163 kios atau toko, 162 restoran, serta puluhan rumah penduduk yang selama ini biasa disewakan untuk menginap. Bahkan 600 lapak PKLyang bertebaran di sepanjang pantai juga hancur diterjang gelombang maut tersebut. (Agus Wahyudi-64m) | ||||