| Minggu, 23 Juli 2006 | NASIONAL |
Dipasang 160 Pendeteksi Gempa
JAKARTA - Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) Priharjadi di Jakarta, Sabtu kemarin mengatakan, pemerintah baru memasang dan menyiapkan secara online 24 alat pendeteksi gempa dan tsunami di Aceh, Padang, dan Bali. Meski demikian, pemerintah berencana memasang 160 alat seismograf hingga akhir tahun ini. Sekarang yang sudah dioperasikan baru 24 seismograf. Namun pada bulan-bulan ke depan, akan dipasang 70 hingga 80 seismograf. Dia juga mengungkapkan, 160 seismograf itu akan dipasang di wilayah berpotensi gempa dan tsunami seperti Samudra Hindia, Pantai Selatan Sumatera, dan Sulawesi Selatan. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan di Jayapura, Padang Panjang, Yogyakarta, Ambon, Kupang, dan Manado. Dengan alat itu, informasi mengenai gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami akan diterima sebelum 10 menit. Informasi awal itu kemudian diteruskan melalui sistem sirine yang akan dipasang di wilayah berpotensi gempa dan tsunami. Dengan demikian, masyarakat bisa segera mengetahuinya dan menyelamatkan diri. Seismograf, memang tidak bisa memprediksi kapan akan terjadi tsunami. Untuk mengatasi masalah tersebut, akan dipasang oceanografic monitoring system, tide beach (pengukur gelombang pasang pantai), dan huiss (stasiun terapung). Dengan sistem itu, bisa diketahui kepastian waktu terjadi tsunami. Sementara itu, Ketua Badan Penanggulangan Bencana PDI-Perjuangan Theodoris Yakob mengatakan, selama ini tidak ada leading sector dalam mengatasi bencana. Akibatnya, penanganan bencana tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak terselesaikan secara tuntas. Seharusnya, dibentuk sebuah badan penanganan bencana nasional yang bertugas untuk menjalankan langkah-langkah penanganan, baik sebelum maupun sesudah bencana. Penanganan bencana tidak bisa dilakukan sembarangan. Bencana harus ditangani orang terlatih dan memiliki kemampuan untuk menangani bencana. Takhayul Sementara itu, saat Muktamar VI/2006 Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu (22/7), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali meminta agar musibah yang beruntun menimpa bangsa Indonesia tidak dikait-kaitkan dengan sesuatu yang berbau takhayul. "Gempa harus dilihat sebagai karya agung Tuhan, sebagai pemelihara keseimbangan alam," pinta dia. SBY juga menanggapi takhayul yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa "tangan" Presiden Ke-6 RI itu "panas" sehingga membawa banyak korban lewat gempa beruntun. Sebelumnya, ketika berkunjung ke Banten, Kamis (20/7), dia juga minta agar gempa dan tsunami di pantai selatan Jawa tidak dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat irasional. "Sebagai orang beriman dan berilmu, ketika melihat sesuatu marilah kita gunakan kacamata ilmu atau kacamata ilmiah dan kacamata iman atau keimanan. Dengan demikian, kita akan tenteram. Tidak perlu terpengaruh takhayul," imbau dia. Bencana alam, hendaknya tidak membuat bangsa ini semakin terpuruk, tetapi justru bangkit. Musibah harus membuat kita lebih tegar dan lebih teguh keimanannya. Karena Indonesia merupakan negeri yang terletak di daerah rawan bencana, SBY meminta kita semua berikhtiar, tawakal, dan tidak takut. Musibah yang terus-menerus ini harus menjadi pelajaran untuk menghadapi bencana yang mungkin datang kembali. (A20,H27-48m) | ||||