logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 23 Juli 2006 BINCANG BINCANG
Line

GAYENG SEMARANG

Zidane

  • Abdul Djamil

MENARIK sekaligus menjengkelkan, begitu kesan banyak orang saat menyaksikan ulah pemain Prancis bernomor punggung 10 menanduk lawan hingga jatuh pada partai final sepak bola dunia beberapa waktu lalu. Tak heran orang tua di Prancis harus menyatakan "aku harus berkata apa pada anakku." Sebuah ungkapan yang menggambarkan kejengkelan sekaligus simpati. Tapi jangan tergesa-gesa menghujat karena pada akhirnya Zidane masih mendapat simpati 61 persen dari orang Prancis. Terlalu murah mengorbankan sosok Zidane hanya karena menanduk lawan yang memang keterlaluan.

Ternyata Zidane masih perkasa seperti nama besar yang disandangnya Zainuddin Yazid Zaidan yang dalam lidah orang Prancis menjadi Zinedine Zidane. Bagi yang tak peduli apa arti sebuah nama, tak akan timbul pikiran asosiatif antara nama dengan tindakan nekat itu. Sang pelatih, Raymond Domenech boleh saja melontarkan sumpah serapah atau menuding Zidane sebagai pemain sepak bola jalanan yang tak berpikir panjang. Zidane layak untuk dipecat disamping memang sudah saatnya menggantung sepatu.

Orang seperti Jacques Chirac yang lagi menjabat sebagai presiden Prancis tentu saja melihatnya dari angle politis dan tak mau hanyut menghujat pemain yang pernah mendapat penghargaan FIFA hingga tiga kali itu. Ia menyambut Zidane sebagai pahlawan nasional, seorang virtuoso dan jenius dalam dunia persepakbolaan. Sementara itu nun jauh di seberang laut, Presiden Aljazair, Abdul Aziz Bouteflika mengirim surat dukungan kepada Zidane berisi pernyataan solidaritas atas nama rakyat Aljazair. Solidaritas untuk apa? Untuk sikap kerasnya pada Materazzi atau solidaritas karena sama-sama berdarah Aljazair. Jawabnya bisa dua-duanya. Pendek kata, meski ia akan menggantung sepatu pada tahun ini tetapi nama besarnya akan tetap dikenang oleh bangsa Prancis sebagai pemain terbaik yang pernah dimiliki.

Nah, seorang yang menyandang nama Zainuddin (hiasan agama) Yazid, (seorang khalifah besar dinasti Umayah) diejek sebagai anak seorang pelacur dan teroris tentu tak bisa disederhanakan sebagai sebuah guyonan seratus persen. Menurut pembaca bibir, kata-kata Materazzi, "You are the son of terrorist whore." Bisa jadi Materazzi itu memang rasis atau mengungkit persoalan "perang ideologi" Barat dan Timur yang memang tak dapat bertemu hingga kapan pun. Harap diketahui bahwa Barat sering menuding dunia Timur yang mayoritas muslim identik dengan dunia teroris, fundamentalis, penuh kekerasan dan lain-lain.

Zidane memang muslim abangan (pengakuannya not-practising muslim) tetapi bawah sadarnya tentu masih punya dignity sebagai seorang warga negara Prancis berdarah Aljazair. Seorang ibu adalah segalanya dan siapa saja tak akan rela dihina sebagai pelacur. Nah Materazzi memang kebangetan tak memahami suasana batin seseorang atau memang kelewat cerdas mengetahui cara-cara membangkitkan amarah orang sekaliber Zidane pada saat kritis, menit ke-110 itu.

Secara sederhana nama hakikatnya adalah tetenger atau sekadar identitas untuk membedakan manusia satu dari yang lain dan kegunaannya pun sering amat pragmatis. Untuk kejelasan identitas korban bila terjadi bencana seperti tsunami atau kejelasan jatah pembagian sumbangan langsung tunai (SLT) dan lain-lain. Penyandang nama seringkali tak begitu peduli dengan asal usul (etimologi) namanya apalagi tinjauan secara kultural, antropologi dan sosiologi. Akan terlalu rumit dan menghabiskan waktu, lagi pula ketika orang tua memberi nama juga tak rembugan dulu dengannya.

Nama Zidane sudah telanjur populer sebagai ikon pemain sepak bola dunia dari Prancis dan bukan Arab. Soal etimologi (asal-usul kata) tak terlalu penting apalagi mengaitkannya dengan dunia Arab atau Afrika. Ia sudah telanjur hidup dalam negara sekuler yang memisahkan agama dengan negara. Zidan pun sudah telanjur enjoy sebagai warga Prancis dengan istri bernama Veronique yang dulunya seorang penari dan model dari Spanyol, bukan perempuan Arab bernama Laila. Dari perkawinannya dikaruniai empat anak yaitu Enzo, Luca, Theo dan Elyaz. Tak satupun anaknya berbau Arab atau Aljazair.

Tentu saja tak dilarang melakukan analisis nama wong ilmunya memang ada yakni Onomastics atau onomatology yaitu studi mengenai nama dilihat dari aspek etimologi atau asal usul, bagaimana ia digunakan di berbagai kebudayaan dan mengapa orang tua memilih sejumlah nama dibanding dengan lain. Nah, jangan lupa Zinedine itu dari segi etimologis dan kultural punya segudang arti dan cita-cita sang ayah agar anaknya kelak menjadi hiasan agama. Bahwa akhirnya menjadi pemain sepak bola dunia dan urung menjadi tokoh agama itu namanya tersesat di jalan yang benar.

Orang yang bernama Alvin atau Alfred perlu tahu bahwa secara etimologis berasal dari kata elf, bahasa Inggris kuno yang artinya makhluk supernatural atau peri, ya memang hebat. Maka wajar kalau orang seperti Alvin Toeffler itu hebat. Demikian pula nama Albert atau Bertram juga harus tahu asal katanya dari bahasa Jerman beraht yang artinya cemerlang. Bahwa dalam kenyataannya ada nama Albert atau Alvin yang tak selalu cemerlang itu urusan lain. Nama mengandung sebuah spirit yang dicita-citakan orang tua meski tak selalu diikuti sang anak. Berapa banyak nama-nama besar dipakai orang tetapi di sekolahnya selalu jeblok, sebaliknya seorang yang bernama Ahmad Kantong Bolong dan di sekolahnya dijuluki Gepeng malahan mengukir prestasi.

Jalan cerita akan lain jika ungkapan Materazzi hanya berbunyi "bangsat luh" dan Zidane pun cukup membalasnya dengan ungkapan, "Lu yang bangsat." Persoalannya adalah kata teroris dan pelacur memiliki implikasi ideologis yang kuat. Kata "teroris" tidak bisa dipahami secara leksikal tetapi menyangkut ideologi yang hendak dibangun oleh dunia Barat. Teror yang terjadi di kapal pesiar Achille Lauro atau pesawat Skotlandia atau peristiwa berdarah di Olimpiade Munich dan tragedi WTC adalah monumen yang acapkali dijadikan sebagai referensi untuk menuding dunia Timur dekat dengan kekerasan dan terorisme. Mungkin Zidane tersinggung dengan kata teroris atau pelacur yang keduanya dikaitkan dengan ibu dan saudaranya karena ia orang Aljazair dan dalam tubuhnya mengalir darah Arab yang dipandang sinis oleh dunia Barat. Atau dia hanya iseng untuk bekal pensiun dari dunia persepakbolaan supaya dicatat sebagai tindakan paling konyol pada abad ini. Wallahu a'lam bissawab. (35)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA