| Selasa, 18 Juli 2006 | SALA |
Air Waduk Hanya Cukup 10 hariSRAGEN - Tiga waduk utama di Kabupaten Sragen, yakni Waduk Gebyar di Kecamatan Sambirejo, Waduk Botok dan Kembangan di Kecamatan Kedawung, terancam kering kerontang. Hal itu terjadi karena curah hujan minim sejak datangnya musim kemarau sehingga tidak tersedia pasokan air yang cukup dari kali di sekitar waduk. Padahal saat ini ribuan petani masih bergantung pada irigasi teknis dari ketiga waduk besar itu. ''Jika hujan tidak segera turun, kami khawatir Waduk Gebyar akan kering setelah sepuluh hari,'' tutur Sumardi, petani yang tinggal di tepi Waduk Gebyar, kemarin. Kekhawatiran serupa juga dirasakan sejumlah petani yang biasa mendapat pasokan air lewat sistem irigasi dari Waduk Botok dan Kembangan di Kecamatan Kedawung, Sragen. Kepala PU Pengairan Sragen Ir M Ni'am membenarkan kabar bahwa volume air sejumlah waduk di Sragen berkurang drastis akibat musim kemarau dan untuk keperluan irigasi pertanian. Kasi Pembangunan dan Pengelolaan Waduk PU Pengairan Achmad Kosim menguraikan, dari sejumlah waduk itu, yang masih menyimpan air paling banyak adalah Waduk Ketro di Kecamatan Tanon. Volume air Waduk Ketro masih di atas 1 juta m3. Akan tetapi, lanjutnya, volume air di waduk jarang dicek. Pemantauan volume air di sejumlah waduk tidak dilakukan secara periodik. Pengecekan volume sejumlah waduk di Kabupaten Sragen paling akhir dilakukan Dinas PU Pengairan pada 10 Juli 2006. Dengan demikian, antara data di atas kertas dan realitas volume waduk sungguh berbeda. Seperti Waduk Gebyar, dalam data tercatat masih tersedia volume air 467.000 m3 atau 66,6%. Padahal menurut taksiran petani, volume air di waduk itu hanya tinggal 30% dari total volume waduk. ''Paling lama sepuluh hari lagi, Waduk Gebyar sudah kering kerontang,'' tutur Sumardi, petani setempat. Achmad Kosim berjanji akan melakukan konfirmasi ulang terhadap para petugas Mantri Pengairan untuk menghitung secara cermat data volume waduk yang masuk Kantor Dinas PU Pengairan.(nin-67n) |