logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 WACANA
Line

Surat Pembaca

Hanya soal Strategi

Kenapa hanya tiga pelajaran yang menentukan kelulusan. Kenapa kemampuan akademik siswa diukur hanya dari tiga jenis pelajaran, padahal jumlah pelajaran yang lain lebih banyak. Namun, begitulah peraturannya. Semua orang yang memasuki sistem, tentu sepakat dengan paket aturan di dalamnya.

Kalau tidak sepakat, ya ... jangan masuk ke sistem tersebut. Kalau sudah terlanjur masuk, bagaimana? Bermainlah strategi. Karena UN telah ditetapkan menjadi tolok ukur kelulusan, maka mau tidak mau harus diterima dan dijalani. Apalagi mayoritas orang, awalnya juga setuju saja. Buktinya tidak ada demo (demo baru terjadi belakangan ini setelah muncul fenomena ketidaklulusan).

Kembali ke soal strategi. Ada guyon menarik. Seorang pengawas bercanda pada peserta ujian, "Tak usah dikerjakan sernua. Yang penting lulus, toh nanti untuk masuk ke universitas masih harus ujian lagi. Kerjakan separo dengan benar, waktu selebihnya buat tidur saja".

Nah, cara ini adalah salah satu strategi. Mungkin tak bisa atau tak suka dengan salah satu mata pelajaran. Namun karena itu yang akan rnenentukan kelulusan, maka harus mau berjuang belajar. Kerjakan dengan benar, meski separo saja. Pilih yang sekiranya mudah, agar tak membuang waktu.

Kedua, cermat memilih jurusan. Beberapa orang jatuh di pelajaran matematika, padahal memiliki nilai yang unggul di pelajaran bahasa. Pikiran saya bergerak. Kalau demikian, bisa jadi ketidaklulusan dapat dihindari jika sejak awal dia tidak salah pilih jurusan. Ambil jurusan IPS atau Bahasa, misalnya.

Strategi berikutnya, ketika mendekati waktu ujian, konsentrasikan diri pada hal-hal yang menentukan kelulusan. Untuk sementara, singkirkan semua aktivitas, kursus atau belajar apa pun yang tidak berhubungan dengan tiga pelajaran "penentu hidup".

Ketiga strategi tersebut memang sekilas naif. Yah, kalau lulus sekolah memang dianggap segalanya, ya memang harus mau demikian. Kalau tidak dianggap segalanya, lah kenapa ribut?

Siti Jazimah

Jagang Lor Rt 3/Rw 2, Magelang

***

Suporter Sepak Bola

Ada perbedaan mendasar kultur pendukung sepak bola Indonesia dibanding negara lain. Ketika negara maju dan '' beradab'' seperti Eropa dan Amerika Latin hendak mengadakan pertandingan bola, semboyannya jelas: Its time to make friends/saatnya mencari teman'' atau lets have some fun/mari bergembira.

Di Indonesia seakan semboyan para suporter adalah Lets make wars/ayo berperang. Bagaimana tidak. Persiapannya seperti akan ada perang. Polisi/tentara bahkan satpol PP menggelar pasukan lengkap dengan pentungan, perisai dan gas air mata. Tak mau kalah suporter mempersenjati diri dengan tongkat kayu dan batu.

Alhasil ketika bentrok pecah korban luka bahkan nyawa melayang menjadi biasa. Sebenarnya dalam hati ada terbersit keinginan menyaksikan sepak bola ala fans Chelsea duduk rapi seperti nonton opera. Ketika ada adegan menakjubkan seperti umpan cantik dan dribble menawan, mereka bertepuk tangan.

Kalau ada tendangan meleset hanya berteriak ohh... lalu ketika gol (yah sama saja) berteriak kencang goool...Ada juga tipe suporter ala Brasil. seksi, para cewek berpakaian ketat menari diiringi bonga/kendang panjang samba Brasil tanpa takut dilecehkan.

Berkesan sangat menikmati pertandingan karena sering kali kesebelasan yang dukungannya menjadi juara. Stadion menjadi semarak dan menyegarkan mata karena jauh dari kesan sangar dan menakutkan. Lain dengan fans Afrika, walau tim kesayangannya kalah mereka tetap gembira berkarnaval.

Dengan kostum khas negara benua hitam, mereka bergandengan tangan. Bahkan dengan suporter negara yang baru saja mengecewakan mereka, slogan FIFA Say no to racism diwujudkan di dalam dan di luar lapangan.

Fanatisme para pendukung sebuah kesebelasan sering dilihat sebagai peluang bisnis bagi produsen alat olahraga ternama dunia semacam Adidas, termasuk pedagang di Johar yang tiba-tiba kebanjiran pembeli. Mereka ingin nonton di layar besar Simpanglima atau lainnya dengan memakai atribut tim favoritnya.

Tak kuat beli yang asli, bajakan pun bolehlah. Ke depan seiring kemajuan zaman kita berharap perilaku suporter negeri ini makin manis dan sedap dilihat, kapan lagi kalau tidak sekarang.

Aryo Widiyanto AMd

Jl Sri Agung 234 Cipiring, Kendal

***

Ada Apa dengan

Asuransi Bumida

Mencermati Surat Pembaca 2 Juli 2006 tentang imbauan agar masyarakat berhati-hati terhadap asuransi yang kredibilitasnya meragukan dan hanya cari untung semata, saya ingin menyampaikan pengalaman. Saya salah satu penyelenggara arisan motor khususnya PNS, guru,dosen dan karyawan.

Bagi peserta yang sudah mendapatkan motor, manajemen mewajibkan untuk mengamankan kendaraan dengan mengikuti asuransi kehilangan TLO salah satunya di Asuransi "Bumida" Semarang. Seorang peserta yang sudah mendapatkan arisan, suatu saat motornya betul-betul hilang.

Semua proses pelaporan kehilangan di Polsek, Ditlantas Polda dan semua berkas administrasi klaim Asuransi "Bumida" telah dilengkapi. Tetapi akhirnya ditolak dengan alasan, saat motor hilang dikemudikan orang lain, tidak punya SIM dan seabrek alasan lainnya.

Padahal beberapa peserta arisan, saya ikutkan ke asuransi kehilangan TLO di tempat lain tidak pernah bermasalah dalam pengajuan klaim ganti rugi. Karena itu saya imbau juga masyarakat tidak salah pilih, hati-hati dan jeli menanyakan sejelas mungkin aturan main asuransi kehilangan TLO.

Ir Agus Rochadi

Jl Sekip IV/9 Kampus Tembalang

***

Jawaban Hotel Horison

Menanggapi Surat Pembaca yang dikirim Sdri Sicilia Nandityas, 10 Juli 2006, Manajemen Hotel Horison Semarang mengucapkan terima kasih atas masukannya dan kami harapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kami.

Hotel Horison Semarang memiliki prosedur penerimaan karyawan dan siswa yang ingin menjalani On the Job Training (OJT) yaitu setiap lamaran yang masuk akan melalui proses dan prosedur yang ditetapkan. Kami akan menghubungi bila pelamar dapat mengikuti tahapan seleksi berikutnya, atau telah diterima sebagai karyawan/peserta OJT.

Kami juga akan mengirim pemberitahuan kepada pelamar jika hasil seleksinya dinyatakan belum lolos.

Harapan kami ada peran aktif dari para siswa yang ingin OJT, sehingga komunikasi kedua belah pihak akan terjalin baik. Semoga hal ini menjadi bahan koreksi kita bersama.

Dina Yudhari

Public Relations Officer

***

Samsat Batang

Pada 15 Juni 2006 saya ke Samsat Batang untuk memperpanjang STNK. Petugas minta untuk menunggu panggilan setelah memberi nomor antrean. Di luar ruangan, saya melihat papan yang melarang melalui calo serta di dalam ruangan ada juga tulisan No Pungli artinya tidak ada pungutan liar.

Sambil menunggu panggilan, saya ngobrol dengan orang yang datangnya lebih awal. Siang jam istirahat 12.00-13.00, saya menyaksikan salah seorang oknum datang dan minta prosesnya dipercepat. Sekitar 15 menit sudah jadi, padahal masih dalam jam layanan istirahat.

Kejadian yang sama kembali setelah jam istirahat. Saya melihat seorang oknum datang mengurus perpanjangan STNK dan layanan pun dipercepat. Dengan melihat hal tersebut, saya menanyakan antrean dan petugas minta agar bersabar, apalagi orang di samping saya menunggu hampir tiga jam juga belum dipanggil.

Pertanyaan, apakah aturan tertulis di ruangan Samsat hanya diberlakukan untuk orang umum saja. Di mana kedisiplinan lembaga ini dan apa gunanya nomor antrean jika oknum yang datang selalu didahulukan. Saya membayangkan, jika semua orang Batang meminta oknum untuk menguruskan perpanjangan STNK, mungkin Samsat Batang cukup membuka layanan satu jam.

Semoga tulisan ini sebagai masukan untuk pengembangan kedisiplinan Samsat Batang dan seluruh elemen masyarakat umumnya.

M Khamdi

Jl Mataram III/32, Batang

***

Tentang PDAM

Menanggapi Surat Pembaca Bapak M Edi Isdwiarto di Jl Citra Blox K 11 Graha Estetika Banyumanik Semarang 26 Juni 2006 berjudul ''Mohon Perhatian PDAM'' tentang pencatatan pemakaian air yang dilakukan oleh petugas, masalah tersebut telah kami koordinasikan dengan yang bersangkutan sehingga terselesaikan dengan baik. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak M Edi Isdwiarto yang peduli demi kemajuan PDAM Kota Semarang.

Kasat Pengawas Intern PDAM

Ir Chamdani MM


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA