| Selasa, 18 Juli 2006 | WACANA |
TAJUK RENCANA''Energi'' Piala Dunia untuk 8 Besar Liga Indonesia- Menarik menyadari pelaksanaan 8 besar Liga Indonesia dimulai hanya sekitar seminggu setelah Germany 2006. Dengan masih hangatnya pembicaraan seputar pesona Piala Dunia, diharapkan ''energi'' dari ajang terakbar sejagat itu menular ke pesta sepak bola di negeri ini. Pengaruh positif telah terasa, seiring dengan tekad Badan Liga Indonesia (BLI) untuk menggunakan pengawas penonton dalam pertandingan-pertandingan yang dipusatkan di Stadion Tri Dharma Gresik dan Manahan Solo. Salah satu pelajaran dari event yang kepanitiaannya diketuai Franz Beckenbauer itu adalah kedisiplinan petugas untuk terus-menerus menatap dinamika di sisi penonton. - Pengawas penonton bukan hal baru. Akan tetapi, jumlahnya yang banyak dan mekanisme tugasnya yang tak kenal kompromi dari sisi lamanya bekerja ataupun teknik penjagaan memang amat terlihat di Jerman. Pembaruan itu menjadi bukti betapa tahap belajar benar-benar ditempuh. Piala Konfederasi 2005 yang merupakan ajang pemanasan dimaksimalkan sebagai ''geladi kotor'' oleh panitia Piala Dunia 2006. Saat itu hampir pada setiap pertandingan selalu ada intruder. Penonton yang masuk ke lapangan meresahkan Beckenbauer ketika itu. Jadilah pengawasan tegas diterapkan. Meskipun demikian, tetap ada penonton nekat kendati jumlahnya sangat jauh berkurang. - Menertibkan penonton menjadi masalah klasik di mana pun. Apalagi di negara yang iklim persuporterannya mengkhawatirkan, seperti yang dialami Indonesia dalam beberapa tahun belakangan. Ketika sepak bola makin menjadi magnet, kerusuhan di dalam ataupun di luar stadion juga terus saja terjadi. Bahkan istilah "musuh bebuyutan" makin banyak digunakan dalam menggambarkan hubungan antarkelompok suporter. Melihat apa yang terjadi di Jerman, energi positif Piala Dunia juga harus merasuk di benak para suporter klub. Belajarlah pada pendukung tuan rumah yang cukup dengan deraian air mata meratapi kekalahan dramatis dari Italia. - Kemajuan dalam dunia sepak bola sebenarnya tidak hanya dirasakan dari aspek teknik dan taktik permainan. Namun, juga dari kemeriahan dan kondusivitas dinamika persuporteran. Sepak bola memang harus berkembang menjadi entertainment yang mempunyai kekuatan berarti untuk membentuk kemapanan sebuah industri. Suporter merupakan salah satu fondasinya. Terlepas dari masih sering terjadinya kekacauan, kita melihat para suporter sepak bola Indonesia memiliki semangat belajar tinggi. Terbukti dari kreativitas yang disuguhkan di tepi lapangan. Maka, sudah saatnya kreativitas spontan juga dimiliki pemain dan pelatih. - Semangat belajar seperti itu perlu ditiru pemain ataupun pelatih yang terasa masih melihat aspek entertainment dari dimensi teknis. Para pemain Togo telah menghibur penonton televisi seluruh dunia dengan salah satu tarian Afrika saat merayakan gol. Kita juga bisa memahami emosi sesaat Luiz Felipe Scolari, Juergen Klinsmann, ataupun Guus Hiddink dalam merayakan kemenangan. Kadang kita juga dibuat tercengang oleh komentar cerdas insan sepak bola dunia, semisal perumpamaan Cinderella yang dikemukakan pelatih Ukraina Oleg Blokhin terhadap timnya. Melihat industri sepak bola haruslah mendalam ketika memaknai aspek entertainment-nya. - Spontanitas pemain dan pelatih kita biasanya lebih tampak dalam bentuk kekerasan baik dalam kata-kata maupun tindakan, terutama kepada wasit. Berkaca pada Piala Dunia, kekerasan kepada wasit harus ditinggalkan jauh-jauh. Kalangan perwasitan sendiri harus menyadari mereka merupakan pilar penting tegaknya sportivitas dalam sepak bola yang telah berkembang menjadi industri olahraga. Mereka juga terinspirasi oleh apa yang terjadi di Jerman, terutama ketegasan wasit Horacio Elizondo. Energi positif dari Jerman mestinya menyentuh siapa saja yang terlibat demi ''menyalakan'' prestasi sepak bola Indonesia untuk menembus kendala-kendalanya. |