logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 NASIONAL
Line

Dua Napi Hilang, LP Permisan Panik


SM/Djoko Sadono LP Nusakambangan Cilacap

CILACAP - Kawasan Nusakambangan, Cilacap, juga dilanda kepanikan karena tsunami menerjang wilayah tersebut. Dua napi di LP Permisan, Nusakambangan, yang sedang mengembala sapi, hilang terbawa ombak.

Menurut Plh Kakanwil Depkum dan HAM Jateng, Indro Purwoko SH MH, ada sepuluh orang pekerja penderes karet dan bukan narapidana juga hilang, dan sampai semalam belum ditemukan. Dari empat LP yang ada di Nusakambangan, LP Permisan yang paling rawan karena paling dekat dengan laut. Sementara itu tiga LP lainnya, LP Batu, LP LP Besi, dan LP Kembangkuning relatif aman.

Berkait dengan tsunami itu, dia sudah memerintahkan Kepala LP Permisan untuk segera memindahkan para napi ke tiga LP yang aman itu. "Keluarga, karyawan yang tinggal di kompleks lingkungan LP Permisan juga diungsikan ke Wisma Sari LP Batu Nusakambangan. Semua senjata api di LP Batu juga diamankan,'' kata dia.

Terseret Ombak

Gempa berkekuatan 6,8 skala richter di Jawa Barat juga berdampak sampai ke wilayah pantai Yogyakarta. Di Pantai Baron, Gunungkidul, dua nelayan tewas terseret ombak pasang yang datang tiba-tiba. Keduanya adalah Kartowikromo (60) dan Kartomo (62).

Komandan SAR Gunungkidul, Ngatno, mengungkapkan kedua korban saat kejadian sedang berada di pantai mencari rumput laut. Tiba-tiba datang gelombang pasang yang diduga rangkaian tsunami di Pangandaran. Korban terbawa arus dan hilang ditelan ombak.

''Tim SAR yang mengetahui hal itu langsung melakukan pencarian, dan keduanya sudah ditemukan serta dievakuasi. Saat ini sudah diserahkan ke keluarga masing-masing di Desa Wonosobo, Tanjungsari, Gunungkidul,'' ungkap Ngatno.

Selain dua korban meninggal, tiga orang terluka, yakni Suharni (50), Agus Subardi (52), dan Sumila (50). Mereka terluka akibat terkena perahu-perahu yang terseret air sampai ke darat.

Di Parangtritis, air pasang sampai ke daratan sejauh sekitar 100 meter dan merusak sejumlah warung. Sebelum terjadi gempa, sekitar pukul 16:00 masyarakat mendengar suara seperti benda berat jatuh ke tanah. Namun tidak semua mendengar dan merasakan, karena hanya sekali dan sangat cepat.

''Suaranya... glek... begitu, seperti ada benda berat jatuh ke tanah. Saya pikir ada gempa, tapi setelah itu tidak ada apa-apa,'' tutur Sulis, warga Parangtritis yang ketika suara terdengar sedang berada di kamar mandi.

Menurut Ketua Kelompok Nelayan Pantai Samas, Rudjito, tinggi ombak mencapai tiga meter dan sejauh 100 meter sehingga merusak dan menghanyutkan warung-warung.

Peristiwa tersebut membuat warga Parangtritis dan Samas berlarian menjauh dari pantai. Mereka berencana mengungsi. Karena situasi membaik, warga kembali ke rumah masing-masing.

''Sebelum air pasang, terdengar suara dentuman dan air laut terlihat surut. Namun tiba-tiba setelah itu datang gelombang pasang cukup besar dan sampai menjorok ke pemukiman,'' ujarnya.

Komandan SAR Parantritis, Suroyo menambahkan, gelombang pasang tersebut juga membuat beberapa warga terluka karena kejatuhan tiang atau bangunan warung makan yang roboh diterjang air laut.

Mengungsi di Pendapa

Sementara itu puluhan ribu orang dari desa-desa di Cilacap, kemarin sore mengungsi ke daerah yang dianggap aman. Mereka takut terjadi gelombang tsunami mengingat tempat tinggalnya berada di pinggiran pantai.

Pengungsian besar-besaran itu terjadi sekitar pukul 15:00, setelah terjadi gelombang laut yang sangat dahsyat. Tanpa membawa bekal, penduduk yang ketakutan berlarian meninggalkan rumah. Mereka berbondong-bondong naik truk, angkutan umum, sepeda motor, sampai sepeda, menuju ke arah utara (Banyumas) yang lokasinya 75 meter lebih tinggi dibanding Cilacap.

Lokasi yang jadi pilihan untuk bagian tengah mulai terlihat di terminal Adipala, di beberapa masjid, dan balai desa yang ada di Kecamatan Maos dan Sampang. Bahkan ada pula yang nekat berjalan kaki dari rumah ke lokasi yang dianggap aman. Selain di balai desa dan masjid, emperan toko di Adipala, Sampang, Maos, juga dipadati warga asal Cilacap.

Berdasarkan pemantauan Suara Merdeka semalam, di jalur Adipala-Maos sampai Sampang belum ada satu posko pun yang didirikan. Tempat-tempat yang dijadikan penampungan pun dipilih secara spontanitas oleh warga pengungsi. Tak ada petugas yang mengatur. Rombongan pengungsi dari Kebonwaru Cilacap berhenti di Sampang mencari makan karena kelaparan.

Penduduk yang mencari selamat juga terlihat di Rawalo dan Patikraja, Kabupaten Banyumas, yang jaraknya lebih dari 25 km dari Cilacap. Di bagian timur seperti di Kroya hingga ke Buntu, Kemranjen, juga tampak gelombang pengungsi dari Cilacap. Ada pula yang mengungsi ke bagian barat, seperti ke arah Wangon, Banyumas. Bahkan sedikitnya 200 orang mengungsi di Pendapa Si Panji Kabupaten Banyumas di Purwokerto.

Sampai semalam mereka tidur di atas tikar yang disediakan di Masjid Agung Baitussalam dan Polres Banyumas. Mereka juga mendapat jatah makanan. Sementara itu bagi sebagian penduduk yang memiliki kendaraan pribadi, memilih mengungsi ke Purwokerto hingga Baturraden.

Sepanjang jalan Cilacap-Purwokerto dipadati kendaraan berplat nomor polisi asal Cilacap. Mereka mengungsi ke rumah saudara-saudaranya di Purwokerto. Ada pula warga Kota Cilacap yang meminta dijemput saudaranya untuk dibawa ke Purwokerto.

Warga yang mengungsi itu tak hanya berasal dari daerah yang dekat dengan bibir pantai, tapi ada juga yang jauh dari pantai. Yang paling banyak mengungsi adalah mereka yang berasal dari Kecamatan Adipala karena daerahnya paling dekat dengan pantai Cilacap.

''Setelah terasa gempa, tiba-tiba terdengar suara sangat keras seperti bunyi petir yang menggelegar. Dari arah pantai terlihat gelombang besar yang sangat tinggi. Ketinggiannya hampir sama dengan tinggi pohon kelapa,'' tutur Pujiono (31), warga Desa Bunton, Adipala, yang rumahnya hanya sekitar 500 meter dari pantai.

Penduduk langsung menjerit ketakutan dan segera mengajak anggota keluarganya keluar rumah untuk mencari tempat yang dianggap aman. Bersama ratusan warga asal Bunton lainnya, Pujiono mengungsi di pertigaan Sampang. Ratusan orang pergi ke Sampang naik truk dan kendaraan lainnya.

''Kami khawatir terjadi tsunami. Tanpa memikir panjang, langsung pergi membawa istri dan anak. Harta benda yang ada di rumah saya tinggal. Yang penting menyelamakan diri dulu,'' tutur Adman (52), juga asal Bunton.

Kabar adanya tusnami itu pun langsung tersebar. Sebab gelombang pengungsi dari Bunton yang melewati desa-desa lain di Cilacap membuat warga desa yang dilewati kendaraan pengungsi ikut khawatir. Mereka yang rumahnya jauh dari pantai pun akhirnya ikut mengungsi.

''Setelah mendengar ada gelombang tsunami, warga di desa saya ikut mengungsi karena takut gelombangya sampai ke sini,'' ungkap Zaenuri (50) warga Desa Sidasari, Kecamatan Sampang, yang mengungsi di masjid depan Pasar Patikraja.

Dia menuturkan, jalan dari Sikampuh-Sampang sejak Senin petang penuh sesak. Hampir semua penduduk yang ada di desa-desa sebelah selatan pasar Sampang keluar mengungsi. Untuk jalan kaki saja sudah susah. Padahal jarak Sampang hingga ke pantai di Cilacap lebih dari 10 km.

Kapolres Cilacap, AKBP Erwin Triwanto menjelaskan, banyaknya penduduk Cilacap yang mengungsi itu karena panik setelah terjadi gempa dan adanya gelombang pasang yang besar. Itu terjadi di tiga titik, yakni di pantai Nusawungu, Adipala, dan Karangkandri.

Tinggi gelombang setelah terjadi gempa yang berpusat di sekitar Pangandaran dengan kekuatan 6,8 skala richter mencapai enam meter lebih.

''Mereka panik, sehingga terjadi gelombang pengungsian. Sebenarnya masyarakat sudah diberitahu tidak ada tsunami. Tapi karena mereka memilih mengungsi untuk mencari keselamatan, gelombang pengungsian tak bisa dicegah. Tapi aparat telah meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada,'' katanya.

Akibat banyaknya penduduk yang meninggalkan rumah, suasana desa di pinggir pantai sepi. Rumah kosong, karena penghuninya mengungsi. Sebagian harta bendanya tak ikut dibawa. Situasi desa yang sepi karena ditinggalkan penghuninya pada Senin malam, mengundang kerawanan.

Untuk mengantisipasi terjadinya pencurian atau penjarahan karena rumah ditinggal penghuninya, Polres Cilacap mengerahkan seluruh anggotanya untuk melakukan patroli dan berjaga-jaga di desa yang penduduknya mengungsi.

''Seluruh perwira juga turun untuk memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak terpancing isu ada tsunami. Penduduk diminta untuk tidak panik. Situasi telah kembali normal, namun tetap harus waspada,'' kata Erwin. (D19,G23,G22,P16-46,60,64a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA