logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 NASIONAL
Line

Derita Korban Tsunami Cilacap dan Pangandaran (1)

Mereka Mendengar Suara seperti Petir


SM/Setyadi Dwie KORBAN GEMPA: Seorang warga menunggui jenazah anggota keluarganya yang meninggal akibat gempa di Pangandaran, Kabupaten Ciamis. (57)

Pemulihan keadaan akibat gempa bumi di Jateng dan DIY, 27 Juni lalu belum selesai, kemarin sore datang musibah baru. Tsunami menerjang wilayah Cilacap, Pangandaran, Kebumen, dan beberapa wilayah di kawasan pantai selatan. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka .

DESA Bunton Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap merupakan desa terdekat dari bibir pantai laut selatan (Samudera Indonesia). Jarak terdekat hanya 500 meter. Gerumbul Sawangan, merupakan gerumbul yang langsung berhubungan dengan laut lepas. Desa tersebut juga sejajar dengan permukaan air laut. Dengan demikian saat air laut pasang dengan cepat masuk ke perkampungan dan pekarangan penduduk.

Saat gempa terjadi dan diikuti gelombang pasang air laut warga setempat kebanyakan sedang berada di rumah menunggu pergantian waktu senja. Sebagian lagi masih berada di pantai membersihkan jaring dan membuat makanan bebek yang terbuat dari ikan teri.

Ada juga yang sedang bekerja mencari pasir di Sungai Serayu yang bermuara di laut selatan dan melintas di desanya. Karena kejadian gempa masih sore hari sebagian warga masih melaut. Maklum, sebagian besar warga bermatapencaharian sebagai nelayan.

Menurut keterangan warga yang ditemui Suara Merdeka, dampak gempa bumi dirasakan di daerah tersebut pukul 15.30. Warga tidak menduga sebelumnya. Warga merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi di laut selatan juga berlangsung dengan cepat.

Saat itu, tiba-tiba dari arah laut selatan terdengar bunyi yang begitu keras seperti petir menyambar. Bunyinya sampai tiga kali. Setelah itu diikuti gelombang laut setinggi 25 meter. Bahkan, kata warga, tingginya melebihi pohon kelapa yang ada di tepian pantai. Pohon kelapa tingginya antara 10-15 meter.

Warga yang sedang berada di pantai atau tepi laut juga sempat menyaksikan ombak yang menggunung. Namun itu juga tak berlangsung lama. Karena ombak seperti itu jarang terjadi, warga yang melihat langsung berlarian atau menghindar mencari tempat yang aman.

''Gelombang tersebut sampai masuk ke perkampungan. Cuma belum sampai masuk ke rumah-rumah. Yang pertama kemasukan air adalah Gerumbul Sawangan,'' tutur Wirya Sukarta (53) warga RT1/RW 2 Desa Bunton, kemarin petang, di lokasi pengungsian di Terminal Adipala.

Dia mengungsi bersama 10 anggota keluarganya membawa perbekalan seadanya. Rumah dan harta benda ditinggalkan begitu saja. Yang ada dibenaknya saat itu menyelamatkan diri.

Saat gelombang air laut tersebut masuk ke daratan, menurutnya, kontan warga langsung berlarian. Ingatan warga langsung terekam bakal terjadi tsunami. Bahkan embusan isu ini juga datangnya begitu cepat sehingga membuat warga tambah panik.

''Karena kami panik dan takut terus mengungsi. Pokoknya yang penting cari selamat dahulu. Sebab warga mengabarkan bakal ada tsunami,'' tuturnya lebih lanjut.

Sugito (45) warga RT 4/RW 1 bercerita, saat kejadian sebagian nelayan juga masih ada yang melaut. Informasi yang dia terima, sejumlah tetangganya yang sedang mencari ikan di pinggiran atau memasang jaring saat warga mengungsi belum kembali ke desa atau ikut menyelamatkan diri.

''Kabarnya ada warga yang sedang melaut belum kembali. Kemungkinan selamat atau tidak kami juga belum dapat kabar yang pasti,'' tuturnya sambil mendekap putrinya karena kedinginan di lokasi pengungsian Desa Maos Kidul Kecamatan Maos.

Dia meninggalkan desanya dengan naik truk milik warga setempat bersama 10 keluarga. Satu truk tersebut diisi kurang lebih 50 orang. Karena tidak ada tempat mengungsi yang layak terpaksa menggelar tikar di tepi jalan raya Maos-Sampang arah Purwokerto dan Yogyakarta.

Warga yang mengungsi cuma berbekal pakaian dan uang secukupnya. Mereka yang mempunyai sepeda motor berboncengan dengan anggota keluarganya. Adapun yang memiliki kendaraan roda empat ataupun kendaraan bak terbuka lain berombongan menghindar dari lokasi desanya, mencari daerah yang lebih aman atau dataran tinggi. Sementara itu, yang tidak punya nekat pergi ke tepi jalan raya menumpang kendaraan umum dan kendaraan yang sedang lewat ke arah Purwokerto.

''Saya nekat nyegat (mengadang) truk di jalan. Pokoknya yang penting mengungsi dahulu,'' tutur Ny Siswa Sumarto (51) warga RT 1/RW 1 Kalikudo Kecamatan Maos yang sampai mengungsi ke masjid Patikaraja Kabupaten Banyumas.

Padahal desanya dari laut jaraknya ada sekitar 10 km. Namun karena kepanikan akibat isu tsunami warga satu desanya juga berbondong-bondong pergi keluar desa mencari tempat yang aman. Menurutnya, ada yang pergi ke Sampang atau berada di sepanjang jalan raya.

''Yang penting menghindari bangunan rumah. Jangan-jangan seperti gempa di Yogyakarta,'' ujarnya.

Di sepanjang bibir pantai laut selatan wilayah Kabupaten Cilacap, ada tiga kecamatan yang langsung berhadapan dengan laut lepas. Yakni Kecamatan Adipala, Binangun, dan Nusawungu. Di Kecamatan Adipala desa terdekat dengan laut yakni Desa Bunton, Klahar, Karanganyar, Glempang Pasir, Sidayu, dan Karangbenda. Kecamatan Binangun yakni Desa Daurip, Widarapayung, Grubugan, dan Karangtawang. Adapun Nusawungu adalah Desa Jetis.

Tiga kecamatan ini dari laut selatan tidak terhalang oleh Pulau Nusakambangan. Beda dengan yang berada di kawasan Kota Cilacap, Kampung Laut dan sebagian wilayah barat seperti Kecamatan Patimuan, Gandrungmangu, Bantarsari, Kawungwanten, dan Sidareja relatif lebih aman karena terhalang pulau penjara itu.

Saat gempa terjadi warga di tiga kecamatan tersebut langsung mengungsi ke arah utara, seperti Kecamatan Sampang, Maos, dan Kroya. Sebagian besar lagi menuju wilayah Kabupaten Banyumas seperti Kecamatan Kebasen, Kemrajen, Banyumas, dan Kota Purwokerto.

Dari pantauan, sampai pukul 20.30, sejumlah desa di tepian pantai ini tampak begitu lengang. Kondisinya sunyi senyap. Hanya terlihat sejumlah pemuda dan orang tua laki-laki yang berjaga-jaga di rumah atau desanya. Sebab saat anggota keluarganya terutama perempuan, anak-anak, dan orang tua lanjut usia diungsikan mereka menjaga harta benda miliknya agar tidak kemalingan.

''Kami juga masih waswas. Tapi kalau semua mengungsi siapa yang menjaga rumah dan barang-barang yang ada? Siapa tahu dalam situasi seperti ini banyak orang berbuat jahat seperti mencuri,'' ungkap Sanwirya (45), warga Klahar Adipala. (Agus Wahyudi, Sigit Oediarto, Didi Wahyu/bersambung-64v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA