logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 NASIONAL
Line

Menggagas Paket Wisata Religius (1)

Poros dari Tempat Ibadah ke Tempat Ibadah

Pagoda Avalokitesvara yang terbesar dan termegah di Indonesia di kompleks Vihara Watugong telah diresmikan. Keberadaan tempat itu melengkapi objek wisata berbasis agama di Kota Semarang. Selanjutnya, bisakah diciptakan paket wisata yang menghubungkan tempat tujuan wisata yang ada di Semarang? Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Achiar M Permana dan Moh Anhar.

SIAPA bilang Kota Semarang tak menyimpan potensi besar untuk pariwisata? Kalau diinventarisasi dengan cermat, dalam kuantitas dan kualitas objek, Ibu Kota Jateng itu terang tak kalah dengan kota-kota lain.

Persoalan yang masih mengedepan, belum terlihat adanya paket wisata yang berkesinambungan dari satu tempat ke tempat lain sehingga menjadi penguat daya pikat wisata Semarang. Peresmian Pagoda Avalokitesvara di dalam kompleks Vihara Buddhagaya Watugong beberapa hari lalu, menjadi semacam momentum yang bisa dimanfaatkan oleh para pelaku wisata Semarang untuk menciptakan paket wisata yang menarik. Ya, tempat ibadah indah yang terletak di sisi poros Semarang-Solo-Yogya itu melengkapi kekayaan objek wisata bernuansa agama yang ada.

Pagoda Avalokitesvara merupakan pagoda pertama dan termegah di Indonesia, dan memiliki tujuh lapis tingkat dengan ketinggian mencapai 45 meter. Terdapat sekitar 30 buah patung serta beberapa buah relief burung Hong dan Kilin. Di dalam pagoda, terdapat sebuah patung Budha raksasa tengah bersemedi dan patung Dewi Kwan Im di dinding lantai pertama yang menghadap empat penjuru mata angin.

Bila momentum itu berhasil ditangkap dan ditindaklanjuti dengan langkah nyata, pernyataan ''Semarang tak punya objek wisata yang menarik'', seketika menjadi usang. Betapa tidak, di kota yang didirikan oleh Sunan Pandanaran II tersebut terdapat objek wisata bernuansa agama yang relatif komplet.

Dari ranah budaya Islam, terdapat Masjid Besar Kauman yang legendaris, Masjid Kampung Melayu yang indah, dan yang terbaru Masjid Agung Jawa Tengah yang hampir tuntas pembangunannya.

Objek yang disebut terakhir, kini telah dilengkapi dengan menara setinggi 99 meter, yang disebut Menara Asmaul Husna. Puncak menara juga dilengkapi dengan devolving floor (lantai berputar) dan teropong pandang, yang memungkinkan pengunjung melihat seluruh penjuru Kota Semarang dari ketinggian. Pada soft opening menara beberapa waktu lalu, pengunjung merespons positif dan menikmati pengalaman melihat-lihat kota. Masjid yang akan diresmikan Oktober mendatang itu, segera dilengkapi payung elektrik, serupa dengan yang terdapat di Masjid Nabawi, Madinah.

Citra Kuat

Semarang juga memiliki sejumlah objek wisata bernuansa agama yang memiliki citra kuat, tidak saja di dalam negeri, melainkan sampai ke luar negeri. Sebut saja Kelenteng Sam Poo Kong di Gedungbatu, Kelenteng Thay Kak Sie di Gang Lombok (Pecinan), Gereja Blenduk di kawasan Kota Lama, atau Gereja Katedral Randusari di kawasan Tugu Muda. Tempat ibadah lain yang juga menarik antara lain Pura Agung Giri Nata di perbukitan Lempongsari.

Kelenteng Sam Poo Kong dan Thay Kak Sie cukup familiar bagi wisatawan luar negeri, terutama yang berasal dari wilayah Asia Timur. Sebab, kedua tempat ibadah itu memiliki kaitan dengan Laksamana Cheng Ho, pelaut muslim asal China yang legendaris itu. Tiap tahun, peristiwa ''pendaratan'' laksamana itu diperingati dengan kirab dari Thay Kak Sie menuju Sam Poo Kong. Bahkan, tahun lalu momentum 600 tahun muhibah Cheng Ho diperingati dengan gegap gempita dan atraksi wisata yang menarik.

''Potensi wisata Kota Semarang sebenarnya sangat besar. Tinggal bagaimana para pelaku wisata bisa memanfaatkan dan membangun paket yang menghubungkannya. Tugas kami di birokrasi, hanyalah nyurung, memberikan kemudahan berusaha, serta menjamin adanya rasa aman bagi wisatawan yang datang,'' kata Wali Kota, Sukawi Sutarip.

Dia menyatakan, gagasan untuk menciptakan paket wisata religius di Kota Semarang patut memperoleh dukungan. Sebab, hal itu sejalan dengan visi dan misi Kota Semarang, yakni ''menuju kota metropolitan yang religius berbasis perdagangan dan jasa.''

Di tiap tempat itu, pelaku wisata perlu mengemas pertunjukan yang menarik sejalan dengan konsep dan karakter tiap-tiap objek. Dicontohkannya, objek wisata kelenteng atau vihara bisa dilengkapi dengan sajian barongsai, liong samsi, atau musik khiem yang khas.

Sementara itu untuk kompleks masjid bisa dibuat pertunjukan rebana, zipin, atau pementasan budaya bernuansa islami. (46a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA