logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 NASIONAL
Line

Hizbullah Tembak Jatuh Pesawat Israel

BEIRUT - Kelompok Hizbullah menembak jatuh pesawat Israel Senin kemarin. Stasiun-stasiun televisi Lebanon menayangkan puing-puing pesawat Israel itu jatuh di Beirut.

Israel terus menggempur Lebanon dan menewaskan lebih dari 20 orang. Israel juga menolak usulan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai pengiriman pasukan perdamaian internasional ke kawasan konflik itu.

Kelompok Hizbullah membalas serangan Israel itu dengan menembakkan lebih banyak roket ke Kota Haifa. Sebuah bangunan tiga lantai roboh akibat serangan roket Hizbullah. Staf medis menyatakan dua orang terluka. Israel menutup pelabuhan di Haifa setelah serangan roket Hizbullah.

Pesawat-pesawat tempur Israel menyerang sasaran-sasaran di daerah pantai Lebanon selatan dan utara. Gempuran juga terjadi di Beirut. Serangan udara itu merusak rumah-rumah anggota Hizbullah.

Tak Berawak

Menteri Pertahanan Israel Amir Peretz membantah ada jet tempur atau helikopter Israel yang hilang. Namun sebuah pesawat mata-mata tak berawak kemungkinan telah ditembak jatuh musuh.

Juru bicara militer Israel menjelaskan, prajurit Israel menyeberangi perbatasan Minggu malam lalu untuk menghancurkan pos-pos Hizbullah. Setelah itu, para prajurit kembali ke Israel. ''Kami melakukan penyusupan kecil untuk menghancurkan beberapa pos Hizbullah,'' kata juru bicara itu.

Pertempuran itu merupakan kekerasan terburuk sejak Israel menginvasi Lebanon pada 1982. Israel menyatakan gempuran itu untuk membebaskan dua serdadunya yang diculik Hizbullah 12 Juli lalu.

''Saya tidak yakin mereka melakukan semua serangan ini untuk membebaskan dua serdadu itu. Itu hanya alasan,'' kata Ali Sharara (21) yang meninggalkan rumahnya di Beirut selatan dan tidur di taman kota bersama adiknya selama dua hari terakhir.

Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan mengatakan, negara-negara anggota Dewan Keamanan akan membahas kesepakatan mengenai pengiriman pasukan perdamaian multinasional ke Lebanon selatan.

Namun Amerika Serikat merespons usulan itu dengan hati-hati. Israel menyatakan, terlalu dini untuk membahas pengiriman pasukan perdamaian.

''Kami ingin memastikan bahwa Hizbullah tidak mengirim anggotanya ke wilayah perbatasan kami di utara,'' kata juru bicara pemerintah Israel Miri Eisin.

Zona Keamanan

Kepala staf AD Israel menyatakan, Israel berencana membentuk ''zona keamanan'' sepanjang satu kilometer untuk mencegah anggota Hizbullah masuk ke wilayah negara Yahudi itu.

Gempuran Israel kemarin menewaskan enam serdadu Lebanon dan 11 warga sipil serta menghancurkan dua pos tentara di pantai Lebanon utara. Tujuh orang lainnya tewas akibat serangan di selatan Beirut dan kota pelabuhan Sidon.

Aparat keamanan menjelaskan instalasi sipil, pom bensin, dan pabrik juga diserang Israel. Bursa saham Beirut masih ditutup setelah indeks saham mengalami penurunan 14 persen pekan lalu karena dampak konflik Israel-Lebanon.

Konflik itu juga berpengaruh pada pasar mata uang dan menyebabkan harga minyak melonjak naik sampai menembus rekor.

Panglima Garda Revolusioner Iran menyatakan Israel dapat mengakhiri konflik itu dengan cara menukar dua serdadu mereka dengan pembebasan tahanan Palestina dan Lebanon dari penjara Israel.

Selama enam hari konflik ini, 181 warga Lebanon telah menemui ajal (13 di antaranya adalah prajurit). Lebih dari 500 orang luka-luka dan banyak infrastruktur sipil Lebanon hancur.

Sejauh ini, 24 orang Israel (12 di antaranya warga sipil) tewas akibat serangan roket Hizbullah.

Kutuk Pengeboman

Pemerintah Indonesia mengutuk tindakan biadab Israel yang melakukan pengeboman secara membabi-buta terhadap Libanon dan menewaskan banyak korban sipil.

''Pemerintah Indonesia terus mengikuti perkembangan terakhir krisis di Timur Tengah. Kita mengutuk serangan Israel ke Libanon. Serangan yang membabi-buta itu merugikan penduduk sipil yang tidak berdosa,'' kata Menteri Luar Negeri RI, Hasan Wirajuda, sebelum mengikuti rapat kabinet terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/7).

Sehubungan dengan itu, Selasa (18/7) Presiden akan bertemu dengan duta besar negara-negara Arab di Jakarta untuk mencari masukan guna menentukan sikap RI terhadap Israel.

''Besok Presiden akan memanggil para duta besar negara-negara Arab untuk membicarakan hal itu,'' ujar Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal, di tempat yang sama.

Menlu berpendapat, jika serangan tersebut didasarkan sebagai sebuah tindakan pembalasan, jelas tindakan itu melampaui kewajaran dan tidak proporsional. Sehingga, Indonesia menyerukan agar Israel menghentikan tindakan militernya dan meminta agar Dewan Keamanan PBB mengambil langkah-langkah guna menghentikan aksi kekerasan tersebut serta mencari solusinya.

Deplu sendiri menurut Hasan, telah mengambil langkah untuk mengungsikan warga negara Indonesia yang tinggal di Beirut, terutama para keluarga, staf dan perwakilan, serta anak-anak dari staf kedutaan besar, untuk selanjutnya menuju ke Suriah.

Dino tidak mengungkapkan sikap seperti apa yang bakal dicapai dalam pertemuan dengan para dubes hari ini.

Yang pasti, pemerintah memperhatikan seruan berbagai pihak yang meminta pemerintah Indoensia bersikap lebih keras dalam menghadapi pengeboman oleh Israel tersebut. (rtr-ben, A20-26, 48a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA