logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 NASIONAL
Line

Tsunami Terjang Cilacap & Pangandaran

  • Diperkirakan Seratus Lebih Tewas
  • Warga Mengungsi ke Gunung Srandil

PANIK: Warga Cilacap panik dan keluar rumah setelah Kota Minyak itu diguncang gempa dan gelombang tsunami, Senin (17/7). Mereka memenuhi jalan-jalan utama untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. (57v)

CILACAP - Gempa tektonik berkekuatan 5,5-6,8 skala richter (SR) yang terjadi di selatan Pantai Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Jabar, tepatnya di posisi 9,46 Lintang Selatan (LS) dan 107,86 Bujur Timur (BT), menguncang Cilacap, Pangandaran, Kebumen, dan beberapa wilayah di pantai selatan Jateng dan Jabar.

Gempa tektonik tersebut mengakibatkan terjadinya gelombang tsunami. Pada saat terjadi gempa, sekitar pukul 15:00 WIB, ombak di Pantai Teluk Penyu langsung membesar. Ketinggian ombak mencapai 2,5 sampai tiga meter. Bahkan pada saat angin bertiup kencang, ketinggian ombak mencapai tiga meter lebih.

Sepanjang pantai selatan Jawa Barat dilaporkan terhantam air pasang. Di kawasan itu dilaporkan sedikitnya puluhan orang meninggal. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah.

Kerusakan paling parah terjadi di Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Ratusan rumah dan bangunan hotel di objek wisata terkenal itu dilaporkan hancur lebur disapu air laut. Warga yang ketakutan berhamburan menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.

Teluk Penyu

Di Pantai Teluk Penyu, gelombang air laut tersebut nyaris naik ke daratan. Bahkan di Pantai Bunton, Desa Bunton, Kecamatan Adipala, gelombang air laut sudah naik sampai ke daratan hingga sejauh 200 meter. Hal itu membuat masyarakat di wilayah Desa Bunton dan sekitarnya panik. Mereka lantas beramai-ramai mengungsi ke Gunung Srandil.

Nelayan yang tinggal di sekitar Pantai Teluk Penyu mengalami kepanikan yang luar biasa. Hal itu terlihat dari banyaknya warga yang langsung berhamburan ke luar rumah. Bahkan ratusan warga langsung mengungsi ke tempat-tempat yang dianggap lebih aman.

''Ombak setinggi dua meter lebih langsung menghantam pesisir Pantai Teluk Penyu. Banyak perahu nelayan yang terangkat. Bahkan ada kapal tangker yang tergeser dari posisinya akibat dihantam ombak,'' kata Mamin, nelayan Pandanarang, Cilacap.

Menurut Mamin, warga sontak panik dan langsung berhamburan keluar rumah. Warga yang rumahnya di dekat pantai langsung membawa barang berharga miliknya yang dimasukkan ke dalam tas. Mereka berbondong-bondong menuju tempat yang aman, seperti Alun-alun Kota Cilacap dan Masjid Agung Darussalam. Sekitar pukul 16:00 WIB, Alun-alun dan Masjid Agung Darussalam sudah dipadati pengungsi.

Banyaknya warga yang mengungsi bersama istri dan anak-anaknya, membuat arus lalu lintas di Kota Cilacap menjadi padat. Bahkan di sekitar jembatan Kali Yasa (Brug Menceng) terjadi kemancetan arus lalu lintas.

Di antara mereka ada yang langsung menghentikan angkutan kota dan mobil pickup yang lewat. Mereka mencarter angkutan kota ke terminal bus karena akan mengungsi ke tempat saudaranya yang tinggal di luar Kota Cilacap. Kondisi tersebut membuat Terminal Bus Gunung Simping dipadati ratusan warga yang hendak meninggalkan Kota Cilacap.

''Semua panik. Tidak ada orang yang tidak panik. Sebab, warga khawatir gempa yang diikuti gelombang besar itu akan menimbulkan tsunami,'' tegas Mamin.

Dari hasil pemantauan Suara Merdeka, kemacetan arus lalu lintas akibat gelombang pengungsi terjadi di ruas Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Budi Utomo, Jalan A Yani, Jalan Dr Soetomo, Jalan S Parman, dan Jalan Gatot Soebroto.

Di sepanjang jalan, banyak dijumpai orang yang berjejal. Mereka menunggu angkutan atau mobil pikap yang bersedia membawa mereka menjauh dari wilayah pantai. Saat itu, kondisi arus lalu lintas di ruas jalan yang mengakses ke wilayah pesisir sangat semrawut. Sebab, banyak sepeda motor, mobil, dan warga yang hendak pergi menjauh dari pesisir Pantai Teluk Penyu.

''Semua nelayan yang saat itu sedang berada di pantai, langsung lari ketakutan. Sebab begitu terjadi gempa, ombak di Pantai Teluk Penyu langsung membesar hingga masuk pinggir gazebo-gazebo yang didirikan tidak jauh dari bibir pantai,'' ujar Pramono.

Gulungan ombak berwarna putih itu sudah terlihat dari jarak dua kilometer. Hal itu menunjukkan ketinggian ombak di tengah laut sangat tinggi. Menurut sejumlah nelayan, ketinggian ombak di tengah laut bisa mencapai tiga meter.

Meski banyak warga yang panik, ada juga warga Cilacap yang justru berbondong-bondong menuju ke pantai. Mereka pergi ke tempat itu hanya untuk melihat kondisi laut setelah terjadi gempa.

Rupanya mereka ingin memastikan apakah ombak di laut sudah tenang atau belum. Mereka melakukan hal itu guna mengantisipasi perkembangan yang bakal terjadi, termasuk kemungkinan akan terjadinya gelombang tsunami seperti yang terjadi di Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Ratusan warga sampai semalam masih mengungsi di Masjid Agung Darussalam dan Pendopo Wijaya Kusuma Sakti. Warga yang sudah tidak kebagian tempat di masjid dan pendapa, memilih mengungsi di alun-alun. Mereka menggelar tikar dan duduk bergerombol bersama sanak keluarganya.

Di tengah-tengah kepanikan, ratusan warga menyerbu sejumlah SPBU. Di SPBU Damalam, antrean warga yang akan mengisi BBM mencapai satu kilometer. Deretan sepeda motor dan mobil yang antre mengisi BBM sampai keluar dari areal SPBU.

Kastam, nelayan warga RT 02 RW 15, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, menuturkan, puluhan nelayan yang saat terjadi gempa sedang berada di pantai langsung menyelamatkan perahu miliknya. Mereka pun beramai-ramai membantu perahu nelayan yang baru pulang melaut dengan cara menarik perahu tersebut ke darat. Sebab kalau tidak dibantu, perahu yang baru merapat di bibir pantai tersebut bisa terbawa ombak besar.

Camat Cilacap Selatan, Saloyo SSos MM mengatakan, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan pihaknya langsung membuka posko di tepi pantai. Aparatnya bersama anggota Polsek Cilacap Selatan dan nelayan berjaga-jaga di tepi pantai sambil memantau perkembangan ombak di laut.

''Kami malam ini langsung membuka posko di pantai. Petugas kecamatan bersama polisi dan nelayan berjaga-jaga sepanjang malam sambil memantau perkembangan situasi. Bila ombak membesar lagi, nelayan yang ikut berjaga di posko akan langsung memberitahukan kepada warga untuk waspada,'' katanya.

Bupati Cilacap, H Probo Yulastoro SSos MM MSi langsung turun ke lapangan untuk memantau situasi. Dia melaporkan situasi ombak di laut kepada Gubernur Jateng, H Mardiyanto, langsung dari Pantai Teluk Penyu dengan menggunakan HP.

''Warga banyak yang panik. Mereka mengungsi ke tempat yang aman. Tapi saya belum mengecek, ke mana saja mereka mengungsi. Tapi yang jelas, di alun-alun sudah banyak warga yang berkumpul bersama sanak keluarganya. Mereka mengungsi karena khawatir akan terjadi gempa susulan yang lebih besar. Tapi mudah-mudahan saja, apa yang dikhawatirkan warga tidak terjadi. Kita berdoa saja kepada Allah,'' katanya.

Proses evakuasi sendiri sudah berlangsung. Seorang warga Pangandaran, Santi (28) yang dihubungi semalam menyatakan dia melihat lebih dari 20 korban tewas, yang ditempatkan di Masjid Agung Pangandaran.

Masjid tersebut, tuturnya, seperti menjadi pusat penanganan bencana tsunami di objek wisata itu. Kebanyakan warga yang selamat memilih berkumpul di Masjid Agung Pangandaran yang berjarak sekitar

satu kilometer dari pantai barat Pangandaran.

"Kepanikan masih terjadi. Warga sangat cemas, terutama terhadap kemungkinan adanya gelombang tsunami susulan. Suasana makin tidak menentu, karena aliran listrik di sini padam sejak sore tadi," kata petugas di Telkom Pananjung.

Di Pangadaran, korban tewas ditemukan tersangkut di antara pepohonan dan bangunan hotel yang roboh. Laporan korban tewas juga datang dari Cijulang, tak jauh dari pantai terkenal itu. Belum lagi nelayan yang dikabarkan melaut.

"Kemungkinan masih banyak korban lain karena tertimpa reruntuhan bangunan hotel dan rumah," kata Hardi, warga Karangsari, Pananjung, Pangandaran, saat dihubungi Senin petang.

Di Cijulang, gedoran ombak setinggi 1,5 meter juga meluluhlantakan ratusan rumah warga di Sindang Legok, Legok Cimarak, Batukaras, Bojong Salawe, Parigi, dan Sindanghalang.

Warga yang selamat berkosentrasi di lapangan Kantor Kecamatan Cijulang yang berjarak 10 km dari bibir pantai. Warga lainnya memilih menaiki perbukitan. Aparat di tempat itu sudah meminta warga untuk tidak beranjak dari posisi saat ini.

Di Cipatujah, gelombang pasang juga menghancurkan sejumlah rumah. Lima orang warga dilaporkan tewas dan belasan lainnya masih dalam pencarian aparat kecamatan dan kepolisian setempat. "Kelima korban itu ditemukan di pinggiran pantai, tak lama setelah ait laut mulai surut," kata Camat Cipatujah, Aziz.

Aziz menceritakan air laut yang terbawa tsunami sempat menggenangi rumah warga yang berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.

Warga yang selamat ditempatkan di kantor kecamatan. Pihaknya tak mau mengambil risiko, terlebih laut masih menunjukan gelagat surut yang diartikan bisa membawa gelombang lebih besar.

Saikin, petugas Puskesmas Pangandaran kepada Suara Merdeka mengemukakan, semalam hingga pukul 23:00 ada 32 mayat korban yang ditempatkan di puskesmas setempat, ditutup kain. Sebagian besar dari mayat tersebut belum teridentifikasi, dan beberapa warga masih terlihat berusaha mengenalinya dengan lampu senter. Sementara itu korban yang dirawat sekitar 20 orang.

Menurut dia, kondisi puskesmas yang berjarak dua kilometer dari pantai aman, namun sebagian besar bangunan yang lokasinya sekitar satu kilometer dari pantai tersebut rusak. Sementara itu percarian korban masih terus dilakukan.

Di Jakarta

Menurut Suharjono dari BMG Pusat yang dihubungi semalam, selain di daerah-daerah tersebut, gempa yang diikuti gelombang tinggi juga terjadi di Pantai Sindang Barang Cianjur, sebagian Pantai Selatan Pulau Jawa, dan Pantai Bandar Lampung.

Dia menjelaskan, titik pusat gempa terjadi sekitar 620 kilometer dari Kota Bandung dengan kedalaman 33 kilometer. Gempa itu terjadi di lempengan tektonik Indo Australia-Indo Eurasia.

''Karena di daerah Pangandaran tidak ada sistem pencatat, jadi kira-kira kalau dari Kota Bandung sekitar 620-an kilometer,'' katanya.

Dikatakan, gempa terjadi karena pertemuan lempeng tektonik antara Indo Australia-Indo Eurasia.

''Karena merupakan pertemuan lempengan, maka terjadilah gempa. Adanya pertemuan lempengan itu pula, gempa tersebut masih merupakan rangkaian dari kejadian-kejadian yang terjadi di DIY dan sebagian Jateng serta Sumatera,'' jelas Suharjono.

BMG sendiri, lanjutnya, selama ini terus melakukan pemantauan. Bahkan, menyusul kejadian tersebut, BMG telah mengirim empat tim ke lokasi gempa, dan setiap tim beranggotakan tiga orang.

Berhamburan

Sementara itu getaran gempa tersebut bahkan bisa dirasakan oleh warga DKI Jakarta, terutama yang sedang berada di bangunan tinggi. Ratusan karyawan di gedung-gedung tinggi di Jakarta secara cepat berhamburan menuruni tangga darurat untuk menyelamatkan diri atau minimal menenangkan diri di luar gedung.

Ratusan pekerja yang berkantor di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) sempat panik dan berlarian keluar. Namun banyak pula yang menyadari, setelah ada teman lain mengingatkan.

''Saya tahu ada gempa setelah lampu gantung di gedung Bulog lantai 16 tiba-tiba bergoyang. Memang terasa, tetapi getarannya tidak terlalu kuat,'' kata Arya, warga Jakarta, yang berada di gedung Bulog, Jl Gatot Subroto. Warga di seputar silang Monas tidak merasakan adanya getaran gempa tersebut.

Segera setelah mendengar berita terjadinya gempa disertai tsunami di kawasan wisata pantai Pangandaran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menelepon Bupati Ciamis. Meski sistem telah bekerja, SBY minta daerah lain yang berada di atas lempeng tektonik yang rawan gempa untuk meningkatkan kewaspadaan.

Dalam jumpa pers usai memimpin rapat kabinet di Kantor Kepresidenan, Senin (17/7) sore, Presiden mengaku tak lama setelah gempa terjadi dirinya mendapat laporan dari Menhub, Hatta Radjasa, dan Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro. Presiden juga sempat menelepon bupati Ciamis.

''Dilaporkan kepada saya bahwa yang sudah meninggal dunia ada lima orang yang sekarang ada di RS,'' katanya.

Namun pemerintah daerah, masyarakat sekitar, dan pihak-pihak terkait, masih melakukan pencarian kemungkinan adanya warga yang terbawa gelombang tsunami tersebut. Sehingga, sampai saat itu belum ada catatan berapa persisnya jumlah orang yang meninggal dunia maupun luka-luka.

''Sistem sudah bekerja. Pemerintah Kabupaten Ciamis sudah melakukan tugasnya, antara lain mengosongkan daerah-daerah yang rawan, karena masih terjadi gempa susulan lima kali hari ini,'' kata Presiden. (ag,G21,bn,A20,H27,dwi-64,49a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA