logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 SEMARANG
Line

Ceria Pagi di Hari Pertama

PAGI itu matahari bersinar cerah. Nyaris tak sedikit pun mendung yang menghalangi pancaran sinarnya yang hangat. Di bawah hangatnya siraman sinar matahari pukul 06.30, puluhan anak tampak berdiri di tengah halaman SD Hidayatullah, Banyumanik. Sesekali mereka melirik ke arah kerumunan orang tua, yang berdiri di sekitar halaman upacara. Mungkin mereka sekadar ingin memastikan orang tuanya masih menunggu.

Seusai upacara, para siswa SD yang mengenakan celana panjang merah dan baju putih serta topi itu berhamburan menuju ruang kelas. Begitulah gambaran hari pertama para siswa baru SD Hidayatullah, yang mulai masuk sekolah Senin (17/7).

Sebanyak 145 siswa yang terbagi dalam empat kelas itu selanjutnya diajak oleh para guru berkeliling kompleks sekolah untuk mengetahui satu per satu ruangan. "Ruangan ini kok ada kasurnya, buat istirahat kalau mengantuk ya Pak?" tanya seorang siswa kepada gurunya saat melihat sebuah ruangan yang diperuntukkan bagi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) itu. Dengan sabar sembari tersenyum, guru pun menjelaskan kepada siswanya kegunaan UKS.

"Hari pertama, kami baru mengenalkan lingkungan sekolah," terang Drs Darso, Wakil Kepala SD Hidayatullah.

Mulai upacara hingga selesainya acara keliling sekolah itu, para siswa baru tersebut terlihat ceria sambil terus bergandengan tangan dengan teman-temannya. Seusai berdoa bersama, para siswa mencium tangan guru satu-per satu. Keluar dari ruangan, Muhammad Evan Rismawan (6,5), salah seorang siswa, menghampiri ayahnya, Ir Dian Risdianto (34). Seperti saat hendak keluar ruangan, Evan, sapaan akrabnya, segera mencium tangan sang ayah, yang sudah menunggu di luar kelas.

SD Nasima

Di tempat lain, dengan mengenakan bawahan merah dan kemeja putih yang dilengkapi rompi, siswa-siswa tampak mengelilingi puluhan balon gas, yang diikat pita warna-warni. Sesekali mereka mengangkat topi pelaut, yang dikenakannya untuk melihat secara jelas balon-balon tersebut. "Ayo anak-anak, pegang talinya,'' perintah seorang guru TK/SD Nasima kepada anak-anak bertopi pelaut, yang tak lain adalah siswa TK Nasima itu.

Serta merta mereka pun langsung meraih tali-tali yang menjuntai di bawah balon. Yang berada di barisan belakang pun berusaha mendesak teman di depannya demi meraih tali itu. Sesaat mereka melupakan orang tuanya, yang setia menunggu.

Beberapa waktu kemudian, guru-guru pembimbing memberikan perintah untuk melepas tali yang dipegang. Sorakan gembira mengiringi terbangnya puluhan balon itu ke angkasa. "Balonnya sudah terbang membawa kesedihan. Berarti nanti nggak ada yang menangis lagi ya,'' ujar seorang ibu guru.

Agaknya puluhan balon itu tak membawa seluruhnya kesedihan siswa. Terbukti, beberapa saat setelah itu mulai terdengar tangisan siswa, karena mencari orang tuanya.

Itu pulalah yang terjadi kepada Haikal Al Haridz. Tawa gembira seketika sirna dan berganti dengan tangisan saat dia tak menemukan sosok ibunya. Sang bunda yang melihat Haikal menangis langsung menghampiri anak kecil yang belum genap berusia empat tahun itu. "Lho kok menangis, malu ama teman-teman dong,'' kata Hutami Mardianto, ibu Haikal. Seribu macam bujukan yang dilontarkan tak membuat anak itu menghentikan tangisnya. Setelah dibujuk dengan ajakan bermain perosotan, anak bungsu dari tiga bersaudara itu langsung menghentikan tangisnya. (Saptono JS, Roosalina-62h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA