| Selasa, 18 Juli 2006 | SEMARANG |
LIPUTAN SALATIGASumur Artesis Rawan Timbulkan Konflik AntardesaSALATIGA - Warga Dukuh Kembang, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Salatiga sangat mengkhawatirkan pembuatan sumur artesis di Desa Jetak, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Sebab, keberadaan sumur tersebut sangat rawan konflik antardesa, khususnya masalah pembagian air, mengingat dua daerah tersebut pada musim kemarau sering kekurangan air. Kastomo (52), Ketua RW 7 Dukuh Kembang mengatakan, seharusnya sumur itu dibuat di Dukuh Kembang karena fungsinya untuk mencukupi kebutuhan air bagi warga sekitar, termasuk dua dukuh lainnya, Ploso dan Sumberwaras. ''Kalau sekarang tempatnya di desa lain yang sudah masuk Kabupaten Semarang, lantas bagaimana kita akan mengoptimalkan sumur tersebut? Tentunya warga di sana juga sangat membutuhkan, apalagi pada musim kemarau seperti ini,'' tutur dia yang sudah merelakan tanahnya dibuat sumur artesis, Senin (17/7). Pembangunan sumur itu sendiri sebenarnya sudah dilakukan pada September 2005 di belakang Pasar Kembang. Karena terhalang batu, lokasinya terpaksa dipindah sampai tiga kali. Hingga melebihi tahun 2005, sama sekali tidak ditemukan sumber air. Namun pada Mei lalu, tiba-tiba lokasi sumurnya dipindah ke daerah lain. ''Kalau dibuat di tanah saya, sudah saya relakan tidak ada ganti rugi. Padahal di Desa Jetak, Pemkot harus beli kurang lebih Rp 5 juta. Ini kan sebuah proyek bagi pemerintah,'' tutur dia. Warga lainnya, Cipto Supardi, juga sangat menyesalkan pengalihan sumur ke daerah lain. Dia menyinyalir ada warga desa yang sengaja memindahkan proyek pembuatan sumur artesis itu ke tempat lain. ''Seharusnya lebih mendahulukan tempat di dukuh ini daripada tempat lain, tapi mengapa harus dipindahkan ke Desa Jetak yang tanahnya harus beli? Padahal warga sini sudah siap merelakan sebagian tanahnya untuk dijadikan tempat sumur artesis,'' tutur dia. Proyek DPU Lurah Randuacir Kikis Kuncoro SSTP mengaku tidak tahu soal pembuatan sumur artesis di Desa Jetak, Kabupaten Semarang. Bahkan saat pembuatan sumur di belakang Pasar Kembang pun dia tidak mengetahui. ''Itu proyek milik DPU Salatiga. Kelurahan sama sekali tidak diberi tahu. Bahkan saat Pemerintah Desa Jetak dan DPU Kabupaten mempertanyakan wilayahnya yang dijadikan proyek Salatiga itu kepada saya, sama sekali saya tidak bisa menjawab,'' kata dia. Bila kelak ada konflik penggunaan air, dia menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada DPU Bidang Pengairan. Sebenarnya antara lokasi Dukuh Kembang (dahulu desa-Red) dan Desa Jetak itu berdekatan. Kedua desa itu dahulu sama-sama masuk wilayah Kabupaten Semarang, tapi sekarang masuk wilayah Salatiga yang hanya dipisah oleh jalan desa. Kepala Dinas pekerjaan Umum (DPU) Salatiga Ir Saryono mengungkapkan, alasan pindah lokasi, karena di titik tersebut tidak ditemukan air walaupun pengeborannya sudah sampai 100 meter. Bahkan sampai empat titik di sekitar tempat itu sama sekali tidak ditemukan sumber air. ''Akhirnya dengan menggunakan alat deteksi, ternyata ditemukan sumber air di sebuah lokasi di Desa Jetak. Terpaksa lahan di sekitar pengeboran sumur artesis itu kita bebaskan, dan kini sudah menjadi milik Kota Salatiga,'' ujar dia Masyarakat tidak perlu risau, air tetap bisa digunakan sepenuhnya oleh warga Dukuh Kembang dan sekitarnya. (dky-16n) |