| Selasa, 18 Juli 2006 | SEMARANG |
MOS Diisi Pengenalan terhadap SekolahSALATIGA - Kekhawatiran orang tua siswa terhadap kegiatan masa orientasi siswa (MOS) baru Tahun Pelajaran 2006-2007 bakal diselingi kegiatan gojlokan tidak terbukti. Kegiatan MOS pada hari pertama diisi dengan pengenalan terhadap sistem dan program pendidikan yang dilakukan setiap sekolah. Kegiatan dimulai oleh sekolah, baik SMP maupun SMA, di Kota Salatiga dengan upacara bendera karena kegiatan dimulai pada hari Senin. Setelah itu ada beberapa sekolah yang langsung mengadakan ramah tamah dan pengenalan siswa dengan para guru, di lapangan, setelah upacara. Seperti yang berlangsung di SMPN 1, SMPN 9, SMAN 1, SMK Kristen Bisnis dan Manajemen (BM). Kemudian ada sekolah yang langsung menggelar kegiatan baris-berbaris yang dipimpin siswa senior dan para guru pembimbing. ''Kegiatan MOS kami sebenarnya tidak berbeda dengan proses belajar mengajar pada umumnya. Namun karena mereka merupakan siswa baru maka ada pengenalan terhadap sistem dan program pembelajaran yang berlangsung di SMP,'' ujar Kepala SMPN 9 Drs HM Munadzir MSi. Kegiatan yang terlihat menarik berlangsung di SMK Kristen BM yang berada di Jl Tentara Pelajar. Siswa baru diwajibkan menggunakan atribut seperti caping yang di atasnya dihiasi balon. Lalu ada pula yang membawa papan nama dari kertas karton berwarna-warni dengan ukuran 30 cm x 25 cm. Siswa juga membawa bunyi-bunyian yang dibuat dari puluhan tutup botol yang disambungkan pada seutas tali setelah tutup botol dilubangi. Meskipun terlihat seperti penggojlokan, siswa senior dan guru pembimbing menjamin tidak ada kegiatan kekerasan fisik dalam acara tersebut. Bahkan kegiatan tersebut banyak diisi dengan kegiatan permainan sehingga siswa tidak mengalami tekanan mental atau stres. Tradisi Kepala Sekolah SMK Kristen 1 Drs Thomas Heriyanto menyatakan telah menekankan kepada panitia MOS yang terdiri atas guru agar tidak melakukan kekerasan dalam mendidik siswa baru. Adapun penggunaan atribut berbagai macam kepada siswa baru itu hanya sebagai seni dan tradisi yang telah dilakukan sejak lama. ''Tahun-tahun sebelumnya kami juga menggunakan atribut seperti itu. Hanya bedanya dalam beberapa tahun ini sudah tidak ada lagi unsur kekerasan dalam MOS dan kami sangat melarangnya,'' ujarnya. Seperti diberitakan sebelumnya, Kadinas Pendidikan Kota Salatiga Dra Hj Endang DW MPd melalui Kabid Dikmen Drs H Zaenuri MPd menjelaskan, Dinas Pendidikan akan memantau kegiatan itu di semua sekolah. Pemantauan akan melibatkan sejumlah pengawas agar tidak terjadi penggojlokan. (H2-16n) |