logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 SEMARANG
Line

Cukur Gundul untuk Memenuhi Nazar

BANYAK orang berkepala plontos di bawah jembatan layang di Jl Ateri Yos Sudarso, Senin (17/7) siang. Sebagian duduk-duduk sambil berbincang, sebagian lainnya tampak asyik berjoget mengikuti irama lagu dangdut yang diputar kencang. Siapa mereka? Dan ada apakah gerangan?

Mereka adalah warga eks penghuni Cakrawala Baru yang tengah bergembira menyambut putusan PN Semarang kepada Bambang Darmono. Bercukur gundul merupakan sebentuk ungkapan syukur. ''Seminggu menjelang vonis, kami mengucap nazar. Kalau Pak Bambang Darmono bisa bebas, kami akan cukur gundul. Tadi siang (Senin, 17/7), hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang memvonis Pak Bambang dengan hukuman 3 bulan, 19 hari, sehingga setelah dikurangi masa tahanan yang telah dijalani, beliau langsung bebas,'' kata Batman (30), salah seorang warga.

Warga eks Cakrawala Baru, lanjut dia, berutang budi kepada Bambang Darmono. Mereka selama ini masih menganggap lelaki bertubuh gempal itu sebagai pemimpin mereka. Sebagai ungkapan simpati, tiap kali sidang di PN Semarang, warga tak henti-henti memberikan dukungannya.

Meski menjalankan tugas sebagai sopir angkutan kayu di Pelabuhan Tanjung Emas, Batman kemarin menyempatkan diri mengikuti sidang terakhir Bambang Darmono. Seperti para lelaki eks penghuni Cakrawala Baru lainnya, dia juga mencukur gundul rambut di kepalanya. ''Aksi ini tidak direkayasa, tapi murni nazar dari warga. Sebagai bukti mencukur rambut, setiap warga harus membayar Rp 3.000. Tukang cukurnya teman saya sendiri, namanya Andri.''

Terharu

Seperti halnya Batman, Tukirin (50) juga ikut dalam aksi cukur gundul yang disaksikan anak-anak dan perempuan itu. Lelaki yang sehari-hari berjualan gandos keliling itu bahkan memiliih cukur rambut kepala pada urutan awal. Senyumnya selalu mengembang saat alat cukur Andri membabat habis helai demi helai rambutnya yang hitam itu.

Tukirin sebenarnya ingin sekalian mencukur kumisnya yang panjang. Namun karena warga lain sudah berdesakan menunggu, keinginan mencukur kumis itu pun akhirnya dia urungkan.

Bambang Darmono sendiri juga turut menggunduli rambutnya. Seusai berpangkas, dia segera mengambil mikrofon dan berorasi. Dalam orasinya, Bambang meminta warga eks penghuni Cakrawala untuk tetap berjuang mendapatkan hak. Saat ini, warga tengah mengupayakan bakal lokasi baru di kawasan Mijen sebagai tempat relokasi.

Menyikapi aksi warga, Bambang hanya bisa memendam keharuan. Dia tidak menyangka dukungan mereka kepadanya sedemikian besar. ''Saya dan keluarga hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada warga,'' ucap Bambang Darmono. (Rukardi-56n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA