logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 SEMARANG
Line

Resep Hadapi Musibah

SEMARANG- Manusia hidup di dunia, apalagi kaum muslim pasti akan mendapatkan cobaan dan ditimpa musibah. Dengan datangnya cobaan tersebut, manusia diuji apakah menjadi hamba Allah yang benar atau ingkar.

Tidak ada manusia yang akan terhindar dari fitnah dalam kehidupan, baik berupa kesempitan maupun kelapangan, yang disenangi ataupun yang dibenci. Karena itu, sejak awal manusia sudah seharusnya mempersiapkan diri untuk menghadapi semua cobaan.

Hal itu disampaikan ustad Muhammad Ainul Yaqqin, saat memberi ceramah dengan tema "Tangguh Menghadapi Cobaan", di Masjid As-Syifa, Rumah Sakit Kariadi Semarang, Minggu lalu. Kegiatan itu diselenggarakan Majelis Taqarrub Ilallah Hizbut Tahrir Indonesia Jateng.

Menurut Ainul, untuk menghadapi dua cobaan yaitu kenikmatan ataupun musibah, ada resep yang harus dimiliki manusia. Ketika manusia memperoleh kenikmatan, hendaknya mereka terus bersyukur agar ditambah nikmatnya.

Lalu, apa resep ketika manusia mendapatkan musibah? Ainul mengungkapkan, ada dua jenis musibah, yaitu Sunnatulah (berupa bencana alam) dan yang terjadi karena ulah tangan manusia sendiri (banjir akibat penggundulan hutan). Untuk menghadapi musibah Sunnatullah yang tidak dapat ditolak manusia, maka Allah memerintahkan manusia untuk bersabar.

Artinya, manusia tetap konsisten berada di jalan Allah. Contohnya, ketika bencana alam terjadi sehingga menyebabkan kekurangan uang dan bahan makanan, mereka tidak perlu menjarah rumah orang lain. Untuk melewati ujian musibah yang terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri, maka selain bersabar, manusia juga harus kembali ke jalan Allah dengan bertobat.

Dia mengatakan, contoh nyata jenis musibah kedua itu adalah kemiskinan yang terjadi di negara kita ini. Hal itu akibat para pemimpin yang tidak menjalankan amanah Allah yang telah diberikan kepada mereka. "Solusinya, para pemimpin tersebut harus kembali ke tuntunan Allah. Mereka harus menyadari bahwa kekayaan alam di Indonesia adalah milik masyarakat bersama, bukan individu-individu tertentu," ujarnya.

Satu Kunci

Dari segala ujian yang dijelaskan di atas, ada satu kunci yang harus dipegang oleh setiap manusia. Yaitu dengan menyandarkan segala sesuatu dalam kehidupan ini kepada Allah. "Manusia harus tawakal dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah. Namun tetap harus berusaha dengan tanpa meninggalkan hubungan sebab akibat," ujarnya.

Dia memberi contoh, ketika seorang karyawan dipecat dari pekerjaannya oleh sang majikan. Karyawan tersebut hendaknya tidak perlu membenci apalagi sampai membunuh sang majikan karena sakit hati. Kejadian itu mungkin saja karena kehendak Allah.

"Bagaimanapun yang memberikan rezeki itu adalah Allah, bukan majikannya. Dan, selama manusia masih hidup maka akan mendapatkan rezeki dari Allah," tuturnya.

Untuk dapat menjadi hamba yang benar dan mampu menerima berbagai cobaan, menurut Ainul, manusia harus memiliki kecerdasan spiritual. Dengan kecerdasan itu, manusia dapat berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah tidak terlepas dari kehendak Allah.

Bagaimana untuk mencapai kecerdasan itu? "Seseorang harus memiliki keimanan yang kuat terhadap Allah sebagai pencipta alam semesta serta akan adanya hari pertanggung jawaban atas segala perbuatannya kelak di hari akhir."

Apabila manusia telah memiliki kecerdasan tersebut, tuturnya, mereka akan memiliki dorongan kuat untuk terikat dengan tuntunan Allah. "Mereka akan selalu mengaitkan perbuatannya dengan Allah dan akhirat." (Hernandhono-18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA