| Selasa, 18 Juli 2006 | KEDU & DIY |
Bu TG: Sekolahnya Gratis, Harap MaklumYOGYAKARTA- Tahun pelajaran baru kali ini berbeda dari tahun lalu. Dulu, guru dan murid mengawali pelajaran pada hari pertama masuk sekolah di dalam gedung. Kemarin, mereka harus melakukan kegiatan di bawah tenda. Inilah hari pertama para siswa masuk sekolah pascagempa setelah tiga minggu libur. ''Ayo anak-anak...kita masuk kelas, di sini lo kelasnya,'' teriak Ny Hadah, guru SD Negeri Batikan, Yogyakarta, mengajak siswa baru kelas I untuk segera memasuki ruangan. Ruangan yang dimaksud tak lain adalah sebuah tenda besar yang didirikan di puing-puing reruntuhan akibat gempa 27 Mei lalu. Sekolah tersebut merupakan salah satu dari ratusan tempat belajar formal yang hancur di wilayah DIY. Kendati berada di tenda darurat, murid-murid baru tampak bersemangat. Mereka segera mengambil tempat duduk, meletakkan tas, dan memberi salam pada guru barunya. Sebagian besar anak-anak itu masih ditunggui orang tua. Maklum selain khawatir karena banyak reruntuhan bangunan, biasanya anak-anak tersebut masih mbok-mboken. ''Kula ngentosi ngantos wangsul, ka dospundi malih taksih dereng saget pun tilar larene,'' ujar Warti, yang duduk di pinggir tenda. Kegiatan pertama memasuki tahun pelajaran ini tak banyak, hanya perkenalan sebentar kemudian murid-murid bekerja bakti membersihkan meja, kursi, dan menyapu. Perkecualian, siswa baru kelas I setelah perkenalan boleh pulang. Bergantian Tuginem, guru olahraga SD Batikan mengungkapkan, selama bangunan sekolah belum ada, para siswa belajar di tenda secara bergantian. Sebab, di tempat itu sekarang ini sudah berdiri ruangan terbuat dari bambu dan gedhek. Ada empat ruang yang bisa dipakai untuk empat kelas, sedangkan dua kelas sisanya berada di tenda. ''Mungkin besok bergantian, kelas I dan II di tenda, kelas lainnya di ruangan. Bisa jadi seminggu sekali ganti anak-anak kelas V dan VI yang di tenda,'' ujarnya. Sekolah dasar yang berada di pinggir aliran air Kalimambu tersebut bukanlah sembarang sekolah. Hampir 100% siswanya berasal dari keluarga pas-pasan alias tidak mampu. Dan sebagian lagi merupakan anak-anak hasil garukan Dinas Sosial. Ada yang digaruk ketika sedang mengamen dan mengemis di perempatan jalan. Jadi, murid-murid di sana berbeda dari murid di sekolah lain. Tuginem yang biasa dipanggil Bu TG oleh murid-muridnya menuturkan, ketika menjadi guru baru dirinya sempat kaget ketika ada murid mengeluarkan kata-kata kasar, misuh. Namun setelah memperoleh penjelasan dari teman-temannya bahwa latar belakang murid sebagian anak jalanan, dia menjadi maklum. ''Semua siswa yang masuk di sini gratis, tidak membayar sumbangan ataupun SPP bulanan. Pokoknya gratis, karena sekolah ini memang untuk anak-anak tak mampu,'' tandasnya. Karena latar belakang siswa dari jalanan, banyak murid kadang menyapa dan mengajak gurunya dengan bahasa Jawa kasar. Misal menyebut gurunya dengan ucapan kowe. Namun, Ny Hadah dan Bu TG secara perlahan-lahan dan telaten mengajarkan budi pekerti.(D19-39s) |