| Selasa, 18 Juli 2006 | INTERNASIONAL |
AS-Prancis Cekcok soal Agresi IsraelST PETERSBURG - Suasana Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G8 memanas lantaran Amerika Serikat dan Prancis berselisih mengenai penafsiran poin konflik Israel-Lebanon dalam deklarasi bersama kelompok negara industri itu. Deklarasi itu mendesak Israel untuk menahan diri, tetapi memerintahkan Hizbullah untuk lebih dulu mengakhiri konflik tersebut. Presiden Prancis Jacques Chirac mengatakan Minggu malam lalu bahwa G8 pada dasarnya menyerukan gencatan senjata. Paris menganggap gempuran Israel ke Lebanon berlebihan. Sikap Paris itu bertentangan dengan Washington yang menilai agresi Israel sebagai tindakan membela diri. ''Jelaslah, G8 menyerukan gencatan senjata. Bisa dikatakan, seluruh anggota G8 menyerukan gencatan senjata di Gaza dan Lebanon,'' katanya. Namun Washington, yang merupakan pendukung utama Israel, membuat pernyataan yang bertolak belakang dengan Chirac. ''Tidak ada desakan untuk melakukan gencatan senjata,'' kata Deputi Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Politik Nicholas Burns. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan mengatakan, anggota Dewan Keamanan kemarin mulai membahas kesepakatan mengenai pengiriman pasukan perdamaian multinasional ke Lebanon. Pengiriman pasukan PBB itu sebagai tindak lanjut atas proposal G8. Setelah berbicara dengan Perdana Menteri Tony Blair, Annan mengatakan akan mengajukan rencana itu sebagai masalah yang mendesak. Namun Israel menyambut dingin rencana pengiriman pasukan perdamaian itu. Kutuk Korut Kelompok delapan itu juga mengutuk uji tembak rudal Korea Utara belum lama ini, namun mendukung rencana Rusia membangun pusat-pusat pengayaan uranium internasional untuk mencegah negara-negara tak berwenang mengembangkan senjata nuklir. ''Pernyataan tentang Nonproliferasi'' kelompok G8 ini jelas-jelas mengecam Korut. Deklarasi St Petersburg itu disetujui Minggu lalu oleh para pemimpin dari Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang. ''Kami mengutuk peluncuran sejumlah rudal balistik pada 5 Juli lalu, dan kami sangat prihatin karena peluncuran itu merusak perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan Asia dan di luar kawasan itu,'' demikian pernyataan G8. ''Peluncuran rudal-rudal itu membuat kami makin khawatir mengenai program senjata nuklir Korut.'' G8 juga menyambut baik resolusi Dewan Keamanan PBB Minggu lalu tentang sanksi embargo senjata terhadap Pyongyang. Dalam bahasa yang lebih lunak, G8 juga menyampaikan keprihatinan serius mengenai nuklir Iran. Teheran menolak permintaan Barat untuk menghentikan program pengayaan uraniumnya. Aktivitas pengayaan uranium bisa dimanfaatkan untuk memproduksi bahan bakar reaktor atau materi hulu ledak nuklir. Iran menyatakan program nuklirnya hanya bertujuan untuk pembangkit listrik. Namun AS dan sekutunya mencurigai Iran berusaha membuat senjata nuklir. G8 mengesahkan keputusan yang dibuat enam negara (Jerman, AS, Inggris, Prancis, China dan Rusia) untuk kembali mengajukan masalah nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB. Kelompok negara industri itu mendukung sepenuhnya hak semua negara untuk mengembangkan program energi nuklir yang damai. Namun setiap negara seharusnya tidak melakukan aktivitas pengayaan uranium sendiri. (rtr-ben-26) |