logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 EKONOMI
Line

Penerbitan Obligasi Ritel Seri 001

Boleh Tertarik, Tapi Jangan Tinggalkan Sektor Riil

Mulai kemarin pemerintah membuka penawaran Obligasi Ritel Indonesia alias ORI seri 001. Rencananya, masa penawaran ORI dibuka sejak Senin (17/7) dan berakhir hingga Jumat (4/8). Lalu, sejauh mana minat masyarakat terhadap portofolio ini?

Memang, pada hari pertama kemarin respon masyarakat cukup menggembirakan, bahkan beberapa agen mengalami oversubscribe (kelebihan pesanan). Bukan tidak mungkin target pemerintah sebesar Rp 2 triliun dengan mudah bisa tercapai.

Di daerah seperti Semarang, respon masyarakat ternyata juga antusias. Saat produk ini ditawarkan di Semarang oleh Bank Mandiri sebagai salah satu agen yang ditunjuk pemerintah di Hotel Grand Candi, pekan lalu beberapa nasabah bank tersebut aktif menanyakan seluk beluk, terutama return yang bisa diperoleh jika membeli obligasi ini. Bank Mandiri sendiri mematok target dapat menjual Rp 50 miliar untuk wilayah Jateng dan DIY ini.

"Kami lihat potensi pasar di wilayah ini sangat besar, oleh sebab itu kami yakin target itu cukup realistis," ungkap Ronggo Asmoro, Head of Consumer Banking Treasury Department Bank Mandiri.

PT Trimegah Securities Tbk sebagai agen tak kalah optimistis, melalui brand "TRIM-ORI", perusahaan sekuritas itu menargetkan bisa terjual sekitar Rp 60 miliar di Jateng dan DIY. Dari jumlah itu antara Rp 20 miliar - Rp 30 miliar diharapkan dari Solo. "Jateng potensinya tak kalah besar dengan wilayah lain," jelas dirut PT Trimegah Securities Tbk Rosinu.

Mungkin banyak orang awam yang belum mengetahui apa sebenarnya ORI ini. Instrumen investasi baru ini memang masih terasa asing bagi kaum awam. ORI ini adalah obligasi negara yang diterbitkan khusus untuk investor kecil-kecilan dengan nominal Rp 1 juta. Modal membeli ORI ini cukup dengan Rp 5 juta untuk 5 unit.

ORI ditujukan untuk investor individual yang selama ini mengalami kesulitan untuk menempatkan dananya di pasar SUN (Surat Utang Negara). Selama ini pasar SUN transaksinya dilakukan pemerintah dengan institusi seperti perbankan atau perusahaan efek dan sekuritas lainnya.

Suku bunga ORI bersaing dengan dengan suku bunga deposito. Jika suku bunga deposito berkisar 8-11 persen, ORI memiliki kupon alias bunga sebesar 12,05 persen atau selisih 1-2%. ORI juga terkena pajak final sebesar 20 persen dan juga mendapat jaminan pemerintah baik pokok maupun kuponnya. Oleh pemerintah penerbitan ORI akan dimanfaatkan langsung untuk APBN.

Bagaimana dengan kepastian pembayaranya? Untuk pembayaran kupon tentu dijamin, pasalnya selama ini pemerintah Indonesia punya track record yang cukup baik yakni tidak pernah default alias gagal bayar obligasi.

Perbedaan ORI dengan deposito adalah produk ini tidak bisa dicairkan seenaknya sendiri. Sebab, pembeli kupon harus bersabar menunggu jangka waktu tiga tahun 3 tahun. Namun jika investor dapat menjualnya di pasar sekunder, tetapi saat menjual belum tentu bisa mendapatkan pembeli sesuai dengan harga yang kita inginkan.

Jadi, investor yang ingin berinvestasi di ORI adalah yang memang betul-betul menyisihkan dana untuk investasi atau kelebihan.

Investor bisa saja mentransaksikan ORI miliknya dengan melihat perkembangan naik turunnya harga ORI setiap hari. Tentu, banyak faktor yang bisa mempengaruhi naik turunnya harga itu seperti fluktuasi harga saham.

Untuk memesan obligasi ini, pemerintah sudah menunjuk agen-agen penjual yakni yakni Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank Permata, Bank Mega, Citibank NA, Bank NISP, Bank Danamon, Bank Panin, Trimegah Securities, Danareksa Sekuritas dan Valbury Asia Securities.

Untuk penjatahan pertama, pemerintah hanya akan memberikan pemesanan dari Rp 5 juta hingga Rp 50 juta. Untuk pemesanan di atas Rp 50 juta, investor harus menunggu pada penjatahan kedua.

Di tengah masih belum menariknya bunga bank, investasi di portofolio ini memang cukup menjadi alternatif, terutama bagi mereka yang "kelebihan" likuiditas. Selain itu, di tengah kelesuan usaha sektor riil, daya beli yang rendah, produk ini tentu sangat menarik untuk dijadikan salah satu tempat "bersandar". Pendeknya begini, daripada susah-susah mendirikan usaha, belum tentu bisa membuahkan hasil, mungkin lebih afdol ditanamkan di obligasi ini.

Tetapi hal lain yang patut diperhatikan, jika semua pemilik uang menaruh dananya di pasar modal, bagaimana dengan nasib sektor riil.

Kemana ribuan tenaga kerja akan terserap, sementara tidak ada pemilik modal yang berminat mendirikan usaha karena memilih menyimpan uangnya di investasi obligasi atau saham. (Arie Widiarto, wartawan Suara Merdeka di Semarang-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA