logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 18 Juli 2006 BUDAYA
Line

Rekaman Kelam Anak Korban Gempa

''AYO da mlayua,'' teriak seseorang lantang, sesaat setelah gempa pada pagi hari. Dia berlari kian-kemari, meminta khalayak menyelamatkan diri. ''Mas, iki mau ana lindhu. Krasa ora?'' tanya seorang lelaki kepada temannya. ''Ya, aku ya krasa,'' jawab sang teman.

Beberapa saat kemudian terdengar ratapan bersahut-sahutan. ''Aduh, aku kebrukan! Waduh, omahku ambruk!'' Di bawah reruntuk rumah, seorang ibu duduk bersimpuh dan berdoa. ''Kukuh, bakoh, kukuh, bakoh, kukuh, bakoh,'' ucapnya dengan kedua telapak tangan terbuka.

Sementara itu, seorang lelaki gondrong bersandar tiang listrik. Tubuhnya yang tegap penuh luka. Tak seorang pun menolong. Dia terlihat letih dan putus asa. ''Ya, Allah, cobane mung niki mawon. Mesakake kawula alit,'' ratap dia sembari berurai air mata.

Suasana mencekam itu terpapar di atas kertas gambar Harun (8). Bocah warga Dusun Tunjungsari, Desa Mlese, Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah, itu begitu detail melukiskan dampak gempa 5,9 SR pada 27 Mei 2006.

Maklum, dia saksi mata sekaligus korban peristiwa dahsyat yang menewaskan lebih dari 5.000 jiwa itu. Desanya hancur dan sebagian keluarga, sanak saudara, teman, dan tetangganya meninggal.

Pada 12-17 Juli, karya Harun dipamerkan di Galeri Bu Atie, Jalan Borobudur Utara Raya 6, Semarang, bersama sekitar 120 lukisan karya anak korban gempa yang lain. Pameran diselenggarakan Focus Folunteers Club (FFC), kelompok sukarelawan sosial di Semarang.

Seni Budaya

Beberapa bocah lain mengisi bidang kertas dengan objek rumah ambruk, orang tertimpa bangunan, suasana pengungsian, serta pepohonan bertumbangan. Atau, proses evakuasi korban dan aktivitas sukarelawan. Ada pula yang memilih aktivitas Gunung Merapi, lengkap dengan wedhus gembel.

Gambar-gambar itu seperti rekaman kelam dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Namun sebagian besar tak mengisi kertas gambar dengan tema bencana. Mereka menggambar objek yang biasa dibuat anak-anak, seperti pemandangan alam, mobil, kereta api, dan kapal selam.

''Kami tak memaksakan tema bencana kepada anak-anak. Mereka bebas menggambar,'' kata Johan Susilo, pegiat FFC.

Pascagempa bumi di Yogyakarta dan Klaten, kelompok itu membuat Weekend Voluntary Programme. Dalam program itu, mereka memfokuskan diri pada penanganan korban, khususnya pemulihan mental anak-anak.

Mereka memilih media seni budaya, antara lain mengajak anak-anak menggambar bersama. Hasil kegiatan itulah yang kini dipamerkan.

''Program itu kami laksanakan di Dusun Nglaran, Desa Basun, Kecamatan Kebonarum, dan Dusun Tunjungsari, Desa Mlese Gantiwarno, Klaten," tuturnya.

Sebelumnya, 3-10 Juli, karya anak-anak itu dipamerkan di Mal Ciputra. Selanjutnya dari Galeri Bu Atie, karya itu bakal diboyong ke auditorium Universitas Muria Kudus.

''Jika ada yang meminati gambar anak-anak itu bisa membayar dengan bahan bangunan, seperti papan, ubin, atau semen,'' tutur Johan. (Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA