logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Juli 2006 SEMARANG
Line

Batik Nyi Ageng Mangir Akan Jadi Ciri Khas

''KAMI tidak menyangka masyarakat di Gemawang, Kecamatan Jambu, sangat kreatif membuat motif batik. Menurut pakar, motif yang dibuat warga tidak kalah dengan batik daerah lain. Disnaker akan menangkap kreativitas ini dan berusaha memberdayakan perekonomian warga di daerah perbatasan itu dengan menambah porsi pelatihan,'' papar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Semarang, Drs Anwar Hudaya, di ruang kerjanya, Rabu (5/7).

Saat ini, ungkap dia, di Gemawang telah tiga kali diadakan pelatihan membatik oleh Yayasan Bokor Kencana. Motif batik yang diguratkan masyarakat Jambu di kain tersebut masih seputar tema flora dan fauna. Didampingi Kasubag Perencanaan dan Keuangan Dra Sri Wityastutiningsih, Anwar menyatakan berdasarkan literatur, batik kuno atau tertua di Indonesia berasal dari Bagelen dan Semarang. ''Anehnya, corak batik semarangan ditemukan di Bayat, Klaten. Kemungkinan zaman dulu dibawa pengikut Ki Ageng Pandan Aran, selaku Bupati Semarang yang pertama.''

Cari Corak

Mengapa pelatihan batik di Gemawang? Menurut Anwar, di desa yang berbatasan dengan Kabupaten Temanggung itu ditemukan semua kebutuhan untuk membatik, seperti malam dan pewarna dari kulit, daun serta buah. ''Saat ini kami sedang mencari corak yang pas untuk dijadikan khas Kabupaten Semarang. Animo masyarakat Jambu sangat tinggi untuk mengikuti pelatihan,'' ujar dia.

Sekarang ini, paling tidak 130 orang tergabung dalam Kelompok Nyi Ageng Mangir, yang makamnya disebut-sebut ada di salah satu dusun di Gemawang. Menurut rencana batik tersebut diberi nama nyi ageng mangir.

''Minggu lalu ditemukan buah berwarna kuning. Setelah digunakan untuk mencelup, warnanya sangat bagus. Saat ini juga sedang digali semua potensi alam sebagai sarana pewarnaan,'' tutur Sri.

Batik yang dibuat warga Jambu, menurut dia, diberikan kepada Presiden SBY saat di Losari Magelang, belum lama ini. Produksi batik asli kabupaten ini rencananya dipasarkan di semua objek wisata sebagai suvenir khas. ''Pada masa mendatang harus ada koperasi yang mewadahi mereka,'' tegas Anwar. (Rony Yuwono-37s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA